21. | Ruang Musik

1818 Kata
Hari ini, semoga rindu bersedia melaungkan suaramu yang tempo hari berbicara selembut kapas. Tatkala aku tertunduk malu berhadapan denganmu. Bisu, tak banyak berkata. Terkadang detak jantung terdengar memberontak. *** Chindai bergeming mengintip kaca transparan di pintu ekstrakurikuler musik. Tak lama, ia menajamkan penglihatan menangkap laki-laki yang dikenal sedang bermain gitar di pangkuan, mengalunkan lirik lagu Perfect milik Ed Shereen. Dengan d**a bertalu-talu, sejenak Chindai kehilangan kemampuannya dalam berbicara. Inilah alasan utama Chindai amat mengagumi Bagas; pintar bernyanyi dan menguasai alat musik. Singkatnya, tidak sulit jatuh cinta pada anak band. Terlalu menghayati, Chindai tidak sadar telah maju menyentuh lantai ruangan. Nada yang diciptakan Bagas asal-asalan, sukses membuyarkan kekhusyukan Chindai. Kemudian, tawa lepas Bagas memunculkan rona merah di pipi gadis itu. Sialan, laki-laki dengan tawa merdu tersebut menggodanya! “Mimpinya sampai negara mana, Ndai?” sahut Bagas jail menjadi-jadi. “Sini, masuk!” Chindai berjalan menunduk sambil menutup wajah dengan tangan. Ia was-was, sedangkan Bagas konstan terkekeh geli dan menggeser tubuh agar mereka duduk berdampingan. “Halo, Inai.” “Hai, Kak.” Sunyi. Suasana menjadi awkward. Chindai dan Bagas bergilir melirik satu sama lain, tetapi tidak pernah di satu titik saling bertukar pandang. Berdeham bersamaan justru menimbulkan kecanggungan di antara mereka. Keduanya seolah hanya saling berani via gawai, tetapi tidak ketika bertemu secara langsung. “Gue kira lo enggak bakal datang.” Mendengar gumaman Bagas, sudut bibir Chindai melengkung samar. Memang memalukan ..., tetapi kenapa selalu terasa benar? “Nyanyi lagi, Kak.” Chindai memohon tiba-tiba, sepandai mungkin menyingkirkan sangsi dengan mengeluarkan jurus puppy eyes. “Enggak bisa nyanyi.” “Sok humble banget.” “Sok imut banget.” Bagas meniru nada bicara Chindai yang mirip rengekan. Namun, tak ayal ia menuruti sesaat menangkap raut cemberut gadis berponi pagar itu. “Mau lagu apa?” “Rahasia Cintaku.” “Oke.” Chindai bersorak seiring petikan gitar, bahkan hampir memekik kala vokal Bagas mengisi ruang musik yang kedap suara. Demi Tuhan, ia akan menyimpan baik-baik momen ini seumur hidup, serta mengucap syukur karena Tuhan sungguh baik padanya. Ini lebih indah dari mimpi Chindai sekalipun Setiap di dekatmu, hatiku meresah Sesaat di sampingmu, seakan kau milikku Ku sadari aku tak seharusnya Terbawa perasaan Dan aku mencintaimu Sungguh-sungguh tanpa kau tahu Tersimpan di dalam hatiku Selamanya ini jadi rahasia cintaku Sering aku meragu, harus ku melangkah Terkadang kau beri harapan Kadang terasa jauh Pedihnya hati bila ini hanya terbawa perasaan Tidak sampai di situ, sesekali Bagas menoleh ke Chindai dan mengulum senyum sebelum lanjut menyanyi. Jangan ditanya, Chindai sengaja menyebut lagu yang menggambarkan secara gamblang—anggap saja kode. Ia tidak ingin menunjukkan lebih jauh isi hatinya. Dan aku mencintaimu Sungguh-sungguh tanpa kau tahu Tersimpan di dalam hatiku Selamanya ini jadi rahasia Cintaku hanyalah untukmu Andai engkau sadari itu Bila cintamu bukan aku Biar cinta ini jadi rahasia hatiku Dan aku mencintaimu Sungguh-sungguh tanpa kau tahu Tersimpan di dalam hatiku Selamanya ini jadi rahasia Cintaku hanyalah untukmu Andai engkau sadari itu Bila cintamu bukan aku Biar cinta ini jadi rahasia hatiku Selamanya ini jadi rahasia cintaku Bagas mengakhiri secara sempurna, sementara gitarnya ditaruh ke lantai. Ia terkekeh lagi begitu menangkap tepuk tangan Chindai serupa bentuk apresiasi. “Suka, hem?” “Keren banget, Kak. Terima kasih banyak. Happy so bad!” “Sama-sama, Inai.” “Enggak ada yang marah, Kak?” Bagas menggeleng sembari mengacak poni Chindai. Dalam hati, ia tidak habis pikir dengan pertanyaan yang diajukan padanya. “Enggak kebalik? Enggak lucu tiba-tiba gue diajak adu jotos pulang nanti.” Yeah. Mengingat pengagum Chindai di SMA Rajawali seperti antrean sembako ... siapa tahu, kan? “Ha?” “Boleh polos, tapi jangan berlebih juga.” “Enggak punya pacar dan sejenisnya, Kak. Jadi, siapa yang bakal marah?” ujar Chindai, terselip teka-teki yang menjengkelkan. “Enggak pengen suka sama orang lain,” lanjutnya penuh makna. “Suka sama gue aja, gimana?” Tawaran Bagas—gurauan belaka—menyebabkan Chindai membelalak. “Gombal terus, Kak,” gumamnya, menyembunyikan kegelisahan yang takut begitu kentara. “Kak Bagas, kan, yang banyak doi?” “Kapan Nathaniel Bagas Saputra digosipkan sama cewek lain?” Bagas mencecak squishy—pipi—favoritnya, membuat ringisan pelan Chindai terdengar. Kemudian, justru ia kembali tertawa. “Kecuali sama lo.” “Kapan?” “Lo enggak baca forum sekolah?” Silih Chindai menggoyangkan kepala ke kiri dan kanan. Walaupun Chelsea cs sudah memberi tahu, ia masih malas untuk semata-mata mengecek. Di pikirannya, mungkin hanya berita abal-abal yang tidak harus dipermasalahkan. Bagas mempersilakan Chindai melihat ponselnya, bertenggang ikhlas kala gadis itu membaca saksama isi web yang mengesalkan lahir dan batin. Gosip tidak penting, tetapi sayang dilewatkan. “Kak.” Belum apa-apa, Chindai menelan ludah susah payah dalih menatap Bagas yang balas mengerutkan keningnya dengan sengaja. “I-ini?” “What do you think?” Sekali lagi Chindai berpikir positif dan lanjut membaca setiap rentetan yang diperlihatkan di alat komunikasi Bagas. Memegang benda tersebut—yang tak bukan milik orang yang disukainya—memicu Chindai sedikit getar-getir. TODAY’S NEWS HEADLINES Kabar Burung Menyebutkan bahwa Nathaniel Bagas Saputra dan Gloria Pandanayu Chindai Sedang Menjalin Hubungan Spesial. Mari Kita Intip Kebersamaan Bagas dan Chindai di Lingkungan Sekolah yang Tertangkap Kamera! Wah, Kaum Adam dan Kaum Hawa Mesti Siap-Siap Patah Hati. Anggota OSIS—Bagas—dan si Cantik Kelas Sepuluh—Chindai—Terlibat Cinta Lokasi. Faktanya, Mereka Sama-Sama Berasal dari Ekstrakurikuler Musik! “Astagfirullah!” Bagas terbahak-bahak seraya memegang perut. Respons impresif Chindai mengunggahnya. “Kaget, Mbak?” “Enggak banget gosipnya.” “Jadiin nyata aja.” “Eh?” Terkutuklah pintarnya Chindai berakting, padahal dadanya bergemuruh hebat. “Gue mau ke kelas aja, deh.” “Menghindar yang mainstream,” kata Bagas kentara mengejek. “Kak, lo ajak gue ke sini lima belas menit sebelum bel masuk. Sekarang pelajaran seni budaya walaupun gue malas karena enggak bisa gambar,” omel Chindai menjadi-jadi. “Gue takut Pak Adi sudah nongkrong di kelas. Mati, image gue jelek.” “Mampus!” “Ini, nih, enggak tanggung jawab.” “Gue antar aja, ya?,” tawar Bagas meski tahu Chindai akan menolak. “Ini, nih, sok-sokan enggak mau.” “Gue enggak mau digosipin lagi.” “Bukannya senang digosipin sama gue?” “Memang enggak, kecuali sama Chanyeol atau Xiumin,” ujar Chindai membual. Ia terkekeh sebab Bagas menatapnya ganas. “Apa?” “Masuk kelas sana!” “Siap, Kapten!” Chindai baru menyentuh kenop, tetapi langsung terkesiap ketika Michelle datang berlawanan dan nyaris menabraknya. Ia mematung serba salah, tertangkap basah. Tampak keterkejutan Michelle yang sadar keberadaan Bagas dan Chindai di dalam satu ruang. Beruntunglah Bagas telah bergelut dengan gitarnya kembali. “Kak Michelle.” Alih-alih disapa balik, Chindai melongo sesaat dentuman pintu memekakkan telinga sedetiknya di luar ruang musik. What—. “Chindai, dicari dari tadi. Wait, I want you right here with me!” Holy s**t! *** Alvin mengintip seperti halnya yang dilakukan Chindai. Ia curiga, kian yakin mendengar desas-desus di mana Michelle menyebut nama Chindai di dalam sana. Kalau tidak salah, gadis di sampingnya itu juga bergeming sejak tadi. Maka dari itu, Alvin mencoba mencari tahu lewat tebakan-tebakan di kepalanya. “Kak Bagas ini, fix,” ucap Alvin, tak sekadar tebakan. “Ternyata lo asyik di sini sama doi sampai lupa kelas.” “Anggap aja tugas negara.” “Maksudnya, Kak Bagas bapak dan lo ibu negaranya. Begitu?” Chindai mendelik. “Enggak, ya!” “Lo suka Kak Bagas?” “Kedengaran Kak Bagas dan Kak Michelle, bodoh!” Alvin meringis kesakitan meratapi cubitan kuat di lengan, mengejek Chindai yang bisa-bisanya mencari perkara dekat dengan primadona sekolah. “Oh, lo cemburu sama Kak Michelle, Ndai.” “Enggak, Vin.” “Jujur aja.” “Enggak. Gue—” “Seňorita bagus, Gas.” Chindai mundur, kepercayaan dirinya terkikis. “Vin, gue tunggu di sini. Gu—” “Lo, kan, tahu gue buta alat-alat musik, Cendol.” Alvin senderut, mengabaikan paniknya Chindai. “Please, help me.” “Malas, barusan gue habis nyanyi.” Hening. Balasan Bagas sejenak menghentikan kegiatan Chindai membujuk Alvin. “Chindai?” “Hem.” “Chindai lo kabulkan. Kok gue enggak?” Berulang kali nama indahnya dibawa-bawa Michelle dan dilanjut penolakan lugas Bagas, Chindai hanya bisa menggigit bibit bawahnya di posisi—bingung luar biasa. “Alvin,” gumam Chindai penuh harap. “Hem?” “Lo aja, ya, Vin?” Akan tetapi, Chindai tak akan pernah tahu bahwa senyum miris sosok di sebelahnya menjadi bukti perasaan tanpa timbal balik. Alvin menghela napas kasar sebelum memberanikan diri untuk menyeret paksa Chindai masuk ke ruang musik. Tidak gagal ulahnya mengagetkan dua orang yang sedang berdebat di sana, Bagas serta Michelle. Alvin tidak melepaskan genggamannya walaupun Chindai memberontak kalem. “Permisi ambil alat musik, kakak-kakak sekalian.” “Silakan,” ujar Bagas mendukung ekspresi datarnya. “Kalian berdua pacaran, ya?” tuduh Michelle rambang tanpa peduli raut tegang Chindai dan berubahnya sirat mata Bagas. “Eng—” “Bisa jadi, Kak.” Alvin menginjak pelan kaki Chindai, meredam protes gadis itu. “Bau-bau on the way jadian.” “Ndai, ditanya kapan kita resmi?” Chindai paham betul maksud Alvin, tetapi dirinya sungkan mengikuti alur. Oleh karena itu, ia memilih tak mengindahkan, justru menarik Alvin ke arah kumpulan alat musik dan mencomot setengah suling yang ada. Alvin berdecak diabaikan Chindai. “Ndai, tunggu!” “Keburu ditunggu Pak Adi, Vin.” “Bagus yang mana, Ndai?” tanya Alvin sambil mengangkat dua buah gitar, lalu mengacungkan jempol saat telunjuk Chindai terarah di tangan kanannya. “Kok gitar satu, sedangkan suling banyak?” Michelle berseru tanpa diundang, memprovokasi canggung yang ditunjukkan Bagas dan Chindai. “Suling untuk praktik seni budaya, gitar guna nyanyi bareng Chindai.” Alvin menjawab santai pertanyaan Michelle. Bagas mengerling aura permusuhan karena senyum kemenangan Alvin tertuju padanya. Jiwa tak ingin kalah Bagas bergejolak hebat, tetapi dirinya tak memiliki alasan untuk melawan. Ia mengernyih, tahu Chindai tidak bisa mengelak ataupun memarahi ceplas-ceplos temannya. “Ayo, balik.” Ketidaknyamanan Chindai ditunjukkannya dengan rengekan sembari menarik-narik lengan kekar Alvin. Ia tidak tahan lama-lama di situasi menyesatkan, apalagi Bagas menelanjanginya hanya menggunakan mata elang tersebut. “Iya, Sayang.” Alvin menambah keruh suasana. “A Whole New World bagus kali, ya, kita duet. Gimana, Ndai?” “Chell, cari kunci gitar Seňorita,” sahut Bagas mendadak, bahkan sebelum Chindai menanggapi ajakan Alvin. “Okay, Gas.” Reaksi Michelle tentu bahagia, bergegas menuruti perintah Bagas. “Ruang musik tempat umum, bukan ruang pribadi cari kesempatan sama gebetan dan pacaran di sini.” Alvin tak merespons singgungan Bagas selain mengulum bibir. Jemari Alvin menjawat Chindai lembut, lalu menyeretnya keluar diiringi decak kesal Bagas. “Gas.” “Enggak jadi. Gue mau ke kelas.” Chindai menahan diri untuk tidak menoleh, tahu Bagas di belakangnya. Laki-laki itu sungguh menjatuhkan keinginan terbesar Michelle hari ini. Chindai merasa bersalah sekaligus senang, ada juga takut mengingat amukan terselubung Bagas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN