Kayla, dan Satria menatap langit-langit kamar. Sambil tiduran, posisi mereka saat ini tak berpakaian. Hanya tertutup selimut.
Kayla tiduran di lengan Satria sebagai bantal.
"Udah pagi aja," kata Satria.
"Iya. Kamu gak pulang?" tanya Kayla, Satria menggeleng.
"Nanti aja. Aku masih pingin sama kamu," jawab Satria.
"Padahal aku udah janji sama diriku sendiri, kalau kejadian ini gak akan terulang lagi. Tapi ... Ah sudahlah," ujar Kayla tersenyum kecut.
"Maafin aku ya, mbak." Satria merasa bersalah.
Kayla tak bisa menyalahkan Satria, karena iapun tak bisa menahan semua godaan itu.
Ketika Kayla ingin bilang sesuatu, tiba-tiba.
"Huek ... Huek." Kayla berlari ke kamar mandi, tanpa mengenakan pakaian. Satria terkekeh geli. Namun, ia tersadar. Jika Kayla mual.
Satria langsung menyusul Kayla. Tapi, kali ini Satria menggunakan handuk, untuk menutupi k*********a.
Kayla terus memuntahkan isi perutnya, dan Satria memijit leher belakang Kayla.
"Huek... Huek." Entah sudah yang keberapa kali Kayla muntah.
"Aku mual banget, Sat. Kepalaku pusing," kata Kayla.
Setelah dirasa cukup.
Satria menuntun Kayla ke kamar.
"Bentar, ya. Aku pakai baju dulu, habis ini aku bikinin teh anget," kata Satria. Kayla mengangguk.
Kayla menatap punggung Satria hingga menghilang dari pandangannya.
"g****k banget kamu, Kay. Bisa-bisanya kejadian waktu itu keulang. Ah ... Habis ini gue harus bener-bener jauhin Satria. Mungkin, saran Fitri ada benernya juga. Gue harus jadiin kak Aldo buat jadi pacar boongan gue," pikir Kayla.
Di lain sisi.
Fitri, dan Riza sedang berada di dapur. Dua calon pasangan kekasih itu tengah memasak nasi goreng bersama.
Namun, seketika aktivitasnya terhenti ketika melihat Satria yang turun dari tangga.
"Morning gaes," sapa Satria dengan Pdnya.
Fitri, dan Riza melongo melihat hal itu.
"Ka--kamu tidur di sini?" tanya Fitri. Satria mengangguk.
"Sama Kayla?" lanjut Riza, dan Satria mengangguk lagi.
"WHAT?" ucap Fitri, dan Riza barengan.
"Kok bisa?" tanya Fitri masih heran.
"Ya bisa, lah. Udah ah, aku mau bikin teh dulu. Kasian Mbak Kayla mual-mual terus," kata Satria melesat begitu saja dari hadapan Riza, dan Fitri.
Seketika, Fitri mengingat kejadian beberapa lalu. Ketika dirinya memijat Kayla.
"Duh ... Jangan-jangan, dia hamil," batin Fitri.
Tanpa basa-basi Fitri langsung berlari menuju kamar Kayla.
Ketika sampai di kamar Kayla. Fitri melihat Kayla sedang terduduk lemas.
"Lu gak papa, Kay?"
"Fit ... Ini." Kayla menyodorkan test pack ke Fitri.
Fitri menutup mulutnya menggunakan tangan. Seakan tak percaya dengan hasilnya.
"Kay ... Ini beneran?" kata Fitri.
"Seperti yang lu liat. Gue harus gimana?" Kayla mengigit jarinya.
Fitri kelabakan, berjalan mondar-mandir.
"Ini serius gak sih? Positif?" tanya Fitri lagi.
"LU HAMIL? ANAK SATRIA? OMG, KAY. BEGO BAGET SIH, LU." Fitri menyayangkan perbuatan Kayla yang ceroboh.
"Gue harus gimana? Harus aborsi?" tanya Kayla meminta solusinke Fitri.
"Ndasmu! Lu udah pernah keguguran, terus ini mau aborsi. Nanti kalau lu gak bisa hamil lagi gimana, bego!"
Benar juga perkataan Fitri, bagaimana jika nanti rahim Kayla malah jadi gak subur. Pas nikah nanti gak bisa punya anak dong, sama suami sah.
Kayla bingung, harus bagaimana. Masa iya dia hamil anak berondong jagung. Masa iya, dia harus nikah sama anak baru gede itu. Sumpah, saat ini otak Kayla buntu, tak bisa berpikir jernih seperti biasanya.
Tanpa disadari, ternyata sejak tadi Satria mendengar pembicaraan Kayla, dan Fitri. Pada umumnya, jika seseorang hamil di luar nikah akan merasa menyesal, dan sedih. Tapi berbeda dengan Satria, pemuda itu malah senang mendengarnya, tapi juga bingung. Bingung karena pekerjaan dia hanyalah seorang Karyawan PT.
"Jangan sampai Mbak arbosi anak kita!" kata Satria sedikit typo.
"Aborsi bego!" ralat Fitri.
"Iya, itu. Maksud aku. Jangan sampai mbak bunuh anak kita," ujar Satria lagi. Kepala Kayla tambah pening.
Bingung bagaimana menyikapi masalah ini.
"Kenapa? Ini aib, Sat. Kamu gak malu?" tanya Kayla.
"Buat apa malu? Semua udah kejadian. Mbak tenang aja, aku bakal tanggung jawab," kata Satria dengan entengnya.
Kayla, dan Fitri takjub dengan keberanian, dan rasa tanggung jawab Satria. Tapi juga merasa tidak sreg, dengan niat Satria.
"Kamu ini masih muda. Masa depanmu masih panjang. Yakin mau nikah muda? Udah bisa nafkahin istri? Udah bisa ngurusin anak? Hah?" tanya Kayla.
"Aku udah kerja. InsyaAllah aku bisa nafkahin mbak. Masalah ngurus anak, nanti kita bisa sama-sama," jawab Satria.
"Wow, Impresif." Fitri tepuk tangan dan geleng kepala. Takjub melihat kesungguhan Satria.
"Kay ... Kayaknya lu jodoh Satria, deh. Ini cara Tuhan mempertemukan jodoh lu. Dengan cara hamil duluan," ujar Fitri lagi. Kayla mendelik ke arah Fitri. Pertanda tak boleh ada bercandaan ketika tengah membicarakan masalah serius.
"Gimana, mbak? Mau kan nikah sama aku?" Satria mengenggam kedua tangan Kayla.
"Ta-tapi---" ucapan Kayla terhenti. Karena Satria mencium kening Kayla.
Fitri yang melihat adegan itu jadi klepek-klepek sendiri.
"Jangan tolak aku untuk bertanggung jawab, mbak. Tolong, ya! Aku mau kita membesarkan anak ini bersama," kata Satria sambil mengelus perut Kayla. Sepontan, Kayla juga ikut mengelus perutnya yang masih rata.
"Kasih aku waktu dua sampai tiga bulang lagi, Mbak. Aku bakal bawa keluarga aku. Untuk melamar mbak," ujar Satria lagi.
Kayla masih dia mematung, kenapa kejadiannya bisa begini? Ah ... Entahlah, Kayla sangat pusing.
Bingung harus menyikapi masalah ini. Di lain sisi, jika memang ia benar-benar hamil, maka ia akan sangat membutuhkan sosok ayah untuk anaknya nanti. Karena, ia tak mau jika anaknya terlahir tanpa ayah. Seperti dirinya dulu.
*****
Di lain sisi.
Seorang laki-laki tengah terduduk sambil memandang foto gadis cantik yang terpajang rapi di dinding tembok. Tidak hanya satu atau dua foto. Melainkan banyak, bahkan sampai ada yang di tempelkan di kulkas, lemari, dan lain-lain.
Laki-laki itu menatap foto gadis itu dengan sorot kerinduan yang menggebu.
"Gimana kabar kamu sekarang? Ah ... Tapi kayaknya kamu baik-baik saja tanpa aku," kata Laki-laki itu.
"Yeah... Semoga saja, kamu sudah bahagia dengan hidupmu yang sekarang," lanjutnya.
"Kayla Safitri."
Laki-laki itu terkejut mendengar suara seorang perempuan, yang tanpa sepengetahuannya masuk ke kamar.
"Kamu mau apa ke sini?" tanya laki-laki itu.
"Aku yang harusnya tanya, ngapain kamu masih simpan foto p*****r ini?"
"Mau balik sama dia?"
"Mau jadian sama dia?"
Wanita itu terus nyerocos. Hingga akhirnya membuat laki-laki itu tak tahan. Dan, terpaksa membungkam wanita itu dengan ciuman.
"Mph! Le-lepasin! Aku marah sama kamu," kata wanita itu, meronta meminta untuk dilepaskan. Tapi laki-laki itu malah semakin kalap. Lalu menyobek baju yang dikenakan wanita itu, dan berakhir di ranjang.
****