KEMATIAN MELDA

1034 Kata
Melly dan Meisin berjalan beriringan. Keduanya saling menatap dan saling menjaga. Seperti ada yang mengintai mereka dari balik gubuk itu. “Kamu tunggu di sini aja deh, Mei. Biar aku yang masuk duluan. Takutnya di dalam bahaya,” ucap Melly setelah mereka tiba beberapa langkah di depan gubuk. “T_tapi Mel ....” Meisin merasa khawatir jika ada sesuatu di dalam. “Udah kamu tenang aja, aku kan udah gak bakal idup lagi. Jadi biar aku aja yang masuk.” Melly menenangkan Meisin. Benar apa kata gadis itu, dia sudah bukan lagi manusia. Jadi tak perlu ada yang dikhawatirkan olehnya. Sedang di dalam gubuk itu. Gubuk yang dari luar tampak kecil ternyata saat dimasuki ke dalam, ada banyak ruangan dengan lorong sempit yang menghubungkan sat kamar ke kamar yang lain. Melly berjalan, menyusuri isi gubuk yang ternyata terdiri dari tiga kamar itu. Melly membuka satu persatu pintu yang sudah lapuk itu perlahan. Suara decitan pintu dan kresekan daun kering yang terkena bagian bawah pintu terdengar nyaring di sana. Ada rantai yang sudah berkarat bertumpuk di atas kursi kayu yang sudah usang. Ada banyak benda tajam di sana tapi juga sudah karat. Dan tepat di bawah kursi, ada nampan kecil terbuat dari anyaman bambu berisi sesajen di sana. Aroma kemenyan menyeruak, berbaur dengan ruangan yang pengap seperti tak pernah tersentuh tangan manusia. Ada rasa ngeri ketika melihat benda-benda tajam yang sudah berkarat itu berjejer di sana. Lalu Melly berpindah ke kamar yang letaknya di tengah. Kamar kedua yang akan dibuka Meisin ini seperti sudah akan ambruk. Atapnya bergelantungan sehingga memudahkan sinar matahari masuk ke sana. Melly tak urung untuk melihat. Karena menjadi dirinya yang sekarang sama sekali tak ada yang membuat dia takut dengan makhluk sebangsanya. Toh, aku juga hantu begitulah dia selalu berkata dalam hatinya. Melly mendorong perlahan pintu yang sudah menyentuh lantai itu. Di sana hanya ada kasur usang dengan bercak darah yang sudah kering. Tepat di ujung kasur itu, dia melihat sebuah cutter yang juga ada bekas darah di sana. Melly masuk lebih dalam karena ruangan ini jauh lebih luas dari sebelumnya. Ada dua tali tambang menggantung dengan lingkaran seukuran lengan manusia. Apakah ruangan ini pernah dipakai untuk menyekap orang? Melly hendak keluar lagi tapi kakinya tersandung kayu yang di sana juga terdapat darah yang hampir tak terlihat karena tertutup debu. Melly melihat di dekat kayu itu, juga ada nampan yang sama seperti di kamar pertama. Nampan kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Sebenarnya tempat apa ini? Melly melihat sekeliling ruangan. Ada sebuah lukisan perempuan yang menggendong bayi di sana. Melly mengambilnya dan, ternyata di belakang lukisan itu ada tampak garis persegi sebesar lukisan itu. Dia mencoba membukanya, tapi tak bisa. Melly pun memasang kembali lukisan itu ke tempatnya semula. Dia akan melihat ke kamar ke tiga. Dia biarkan pintu itu terbuka sebab tak seperti pintu pertama, dia harus memakai sedikit tenaga karena pintu kedua sudah sangat lapuk. Dia berjalan ke kamar ke tiga. Di sana, tak terlihat sesuatu yang mengerikan seperti dua kamar sebelumnya. Hanya saja, di sini dia melihat pakaian kakaknya, Melda dan sepasang sepatu miliknya di sana. Tak hanya itu, di kamar yang tak begitu luas itu ternyata ada kamar mandi yang dari sana Melly mendengar gemericik air dengan suara lenguhan di dalamnya. Melly tak berani masuk lebih dalam dan melihat-melihat seperti sebelumnya. Dia berbalik ke luar, tapi belum sampai pintu, dia dihadang oleh sosok Jack yang terlihat sudah seperti bukan Jack. Melly mundur ke belakang. Dia memerhatikan Jack yang berdiri dengan darah mengucur dari batok kepalanya. Dia tak berani bersuara. Sedangkan Jack hanya mematung menatapnya. “Sayang. Kamu main keluar gitu aja, sih? Mana rambutnya belum dikeringin juga.” Melda mendekati Jack dan mengelap rambutnya. Darah yang dianggapnya air itu dilap dengan handuknya, sembari tangan sebelahnya menggerayangi tubuh Jack yang dalam penglihatan Melly sudah membiru. Melly buru-buru keluar dan menemui Meisin. Dia mengajak Meisin untuk pergi dari tempat itu. Tapi lain halnya Meisin, dia justru ingin masuk dan mencari benda yang dimaksud oleh Mendiang ibu Jack. “Tapi, Mei ... di dalam tuh ada Kak Melda sama Jack. Dan Jack tuh kayaknya udah bukan manusia.” Melly bercerita dengan ekspresinya seperti masih saat masih hidup. Meisin tersenyum, tapi kemudian dia memalingkan wajahnya karena teringat bahwa Owen-lah yang sudah membunuh Jack. Tapi justru setelah melakukan tindakan kriminal itu, Owen justru menghilang dan tak pernah menemui Meisin lagi. Padahal, gara-gara laki-laki itu dia bisa terjebak di tempat ini. Meisin mengutuk dalam hati. “Nggak, Mel. Aku harus nemuin benda yang dimaksud mendiang ibu Jack. Aku ingin semua ini benar-benar berakhir.” Meisin bersikukuh masuk. Padahal alasan terbesarnya, dia ingin membantu Ibu Jack untuk menggantikan tugas anakny yang sudah mati di tangan suaminya. “Ya udah, aku temenin kamu ke dalam.” Melly pada akhirnya mengalah. Tapi belum sempat mereka masuk, terdengar teriakan dari dalam. Melly menarik lengan Meisin untuk bersembunyi ke samping gubuk. Dan ternyata, yang berlari keluar adalah Melda. Perempuan itu berlari dengan tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Dan tak jauh di belakangnya, dia melihat Jack dengan Mela, perempuan yang sudah Melda bunuh mengikutinya. Tepat saat Melda berlari dengan terus menoleh pada sepasang hantu yang sedang membalas dendam itu, matanya tertusuk ranting pohon yang melintang di sana. Crash ... darah mengucur bersamaan dengan tubuh Melda yang menggelepar di tanah. Meisin tak sadar keluar dari persembunyiannya sebab syok melihat kematian Melda yang tragis. Tepat dengan itu, dua arwah itu berbalik dan memandang tajam ke arah Meisin. “Dialah yang menjadi penyebab kematianku.” Jack menunjuk Meisin dan berjalan ke arahnya. Sedangkan Mela, melihat kekasihnya menyimpan dendam pada Meisin. Dia turut melangkahkan kakinya mengikuti langkah Jack. “Nyawa harus dibayar nyawa.” Jack berucap dengan pandangannya tak lepas dari Meisin. “Lari, Mei.” Melda berteriak dari samping gubuk. Rupanya dia belum punya keberanian menghadapi Jack karena trauma dengan perlakuan Jack semasa hidupnya padanya. Mereka sudah di alam yang sama, Melda takut akan diperlakukan sama seperti saat dia dan Jack sama-sama hidup. Mendengar teriakan Melda, Meisin langsung masuk ke gubuk itu dan menutupnya. Dengan sigap, dia mengambil kursi tua beserta mejanya untuk mengganjal pintu. Lalu dia berlari masuk ke ruangan yang dia lihat pintunya terbuka. Sedangkan di depan, Jack dan Mela terus mengedor pintu mencoba menerobos dan segera menuntaskan dendamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN