JALAN PINTAS

1060 Kata
Aroma kemenyan semakin kuat saat kaki Owen telah sampai di sebuah rumah di tengah-tengah rimbunan pohon Pinus. Rumah berdinding kayu beratapkan daun Rumbia. Owen berdiri mematung, sementara Si Kakek menyelinap masuk tanpa mengucapkan sepatah katapun sebelum memasukinya. Remang cahaya lampu teplok menjadi satu-satunya penerangan di teras rumah yang lebih tepatnya disebut gubuk itu. Desir angin seolah menyentuh bagian kulit sensitive-nya, membangunkan bulu kuduknya. Walau terselip keraguan, Owen memberanikan diri masuk demi mendapatkan Meisin. Itulah tekad yang mendatangkan keberanian untuk berurusan dengan paranormal. Selama ini, dia tidak percaya akan hal mistis, namun untuk mencapai tujuannya, sekalipun dia tidak memercayainya, tidak ada salahnya dia mencobanya. Kreekkk ..., suara pintu tua bergesek dengan engsel yang sudah karatan menimbulkan suara kretekan seperti jerit kematian selalu tumpah di dalamnya. Owen masuk dengan keraguan masih bercokol di hatinya. Sebuah kain merah disulap menjadi tikar dengan meja kecil yang dipenuhi aneka bunga, lilin, dan dupa yang seperti tak pernah mati mengebulkan asap membentuk sketsa putih meruncing. Owen berjalan mendekat, disana duduk seorang lelaki brewokan seolah tak terurus. Wajahnya menyiratkan bahwa kegelapan ada dalam genggamannya. Jenggot putih tebal dan kriting menyamai panjang lehernya membuat kesan menakutkan. Kumis tak kalah panjang melewati kedua pipinya menggambarkan bahwa dia telah selalu berperang bahkan dengan kematian sekalipun. “Silahkan duduk, anak muda.” Suaranya dalam, menggema memenuhi sepetak ruangan yang samasekali tidak tampak seperti sebuah rumah manusia. “Aku sudah tau maksud dan tujuanmu.” begitu Ki Bagong, nama Si Dukun itu membuka topik yang belum diucapkan Owen. Mendengarnya, tumbuhlah keyakinan akan kesaktian Si Dukun di hati Owen. Terlebih belum sempat Owen menyebutkan nama perempuan yang dia inginkan, Ki Bagong sudah menyebutkan nama dan ciri-ciri Meisin tanpa Owen memberitahukannya. Dia mengatakan bahwa gadis yang diinginkan Owen adalah gadis yang tidak mudah untuk didekati secara langsung. Gadis itu cukup mudah untuk didekati saat terlelap, karena hanya di alam bawah sadarnya, gadis itu merasa rapuh mendapati beban hidupnya yang teramat rumit dan begitu keras. “Lalu, apa kamu sanggup jika di malam hari sebelum pernikahanmu, kamu datang kembali untuk melakukan ritual kedua,” ucap Ki Bagong. “Maksud Aki bagaimana?” tanya Owen tak mengerti. “Malam ini, aku akan melakukan ritual pertama mempertemukan jiwamu dengan jiwa gadis itu dalam mimpinya. Tapi ingat, agar ritual yang aku lakukan malam ini tidak sia-sia, maka besok sebelum matahari terbit, kamu harus menemui gadis itu untuk memperlihatkan bahwa jiwa yang datang dalam mimpinya adalah dirimu,” ucap Ki Bagong. Dengan semangat, Owen mengangguk tanda setuju. Sebelum memulai ritual, Owen diperintahkan untuk memejamkan matanya. Sementara Si Dukun memulai ritual dengan membakar dupa dan mulut komat kamit membaca mantra dalam bahasa yang tak dimengerti oleh Owen. Dalam keadaan mata tertutup, dia merasakan bahwa wajahnya diperciki air yang entah air apa yang digunakan Si Dukun. Ritual pertama itu berhasil kata Si Dukun. Meski Owen tidak merasakan perubahan apa-apa, namun dia percaya bahwa Si dukun bernama Bagong itu adalah dukun yang sudah handal dalam urusan menggaet perempuan. Terbukti dari mahakaryanya, dia sampai masuk dalam sebuah lagu yang sempat melambung karena kesaktian ilmu Semar mesem nya. “Ingat! Malam di hari pernikahanmu, kamu harus kembali ke sini untuk melakukan ritual ke dua untuk menyelesaikan ritual yang sudah kamu buat malam ini,” ucap Ki Bagong dengan menunjuk wajah Owen. Owen kembali menggangguk, matanya terfokus pada cincin Si Dukun yang besarnya melebihi daun telinga gajah. “Pasti, Ki. Berapa dolar yang harus kubayar?” tanya Owen to the point. Dia tak ingin berlama disini, dia ingin segera menemui pujaan hatinya malam itu juga. Persis seperti yang diperintahkan Si Dukun, sebelum matahari terbit dia sudah harus memperlihatkan dirinya di hadapan Meisin. “Bayarlah sebanyak cash yang kamu bawa,” jawab Ki Bagong. Mendengarnya, Owen menelan ludahnya sendiri. Dia barusaja mencairkan uang untuk dia berikan pada Meisin saat mencoba membujuknya dengan membayar hutang orang tuanya. "Sialan, sakti betul Aki-aki ini," umpatnya dalam hati. “Hei, Dengar! Walau uang itu kau berikan pada gadis itu, belum tentu dia mau menerima kamu,” kata Ki Bagong ketus. “Ahh! Iya, Ki. Uangnya ada di mobil saya,” tukas Owen. Dia menahan apapun yang ingin dia katakan walau dalam hatinya sekalipun. Dia tak ingin membuat masalah dengan seorang dukun sakti di hadapannya. “Ambillah!” Dengan segera Owen bangkit untuk mengambil uang ke tempat di mana mobilnya mogok tadi. Krek ..., suara pintu kembali berderit mengisyaratkan usia pintu gubuk ini sudah berumur. Baru selangkah dirinya keluar dari gubuk itu, dia sudah bisa melihat mobilnya terparkir dengan lampu mobil tengah menyala. Bukankah tadi aku berjalan cukup jauh dari pinggir jalan dan meninggalkan mobilku. Dia menoleh ke arah gubuk, lalu melihat kembali ke mobilnya. Mencari jawaban atas keanehan yang ada di depan matanya. Gubuk tua itu berdiri di tempatnya, dan mobilnya juga ada di depan matanya, juga dengan jalanan yang sama. Lalu bagaimana tadi dia tidak melihat gubuk itu dari tempatnya berdiri di sisi mobilnya. Ahh ..., Owen tak ingin membuat pusing kepalanya. Yang terpenting baginya sekarang adalah mengambil uang di mobil itu lalu segera memberikannya pada Ki Bagong lalu dia segera pergi meninggalkan tempat asing ini. Dia membuka pintu mobil, meraih sebuah tas hitam dan menariknya keluar. “Oh My God ....” Owen tak bisa menyembunyikan keterkejutannya karena saat menoleh, Ki Bagong sudah berdiri di belakangnya. Gubuk yang tadi dilihatnya pun hilang, terganti rimbunan pohon pinus persis seperti saat pertama kali dia turun dari mobilnya. Dengan gemetar, Owen memberikan tas hitam itu pada Ki Bagong yang tengah berdiri menatapnya dengan tatapan menusuk. “T-Terimakasih ...,” ujar Owen terbata. Dengan wajah datarnya Ki Bagong meraih tas dari tangan Owen. Sementara Owen membungkukkan badannya sebelum akhirnya dia masuk dan menginjak pedal gas mobilnya meninggalkan kampung dukun di jalan keramat yang bagi Owen lebih dari keramat. Bagi Owen yang terbiasa dengan kehidupan malam dan gemerlap kesenangan di club malam, tempat ini adalah tempat yang paling menakutkan dan dia tak ingin lagi berurusan dengan Kampung dukun dan keanehan di Jalan keramat itu. Dia melajukan mobilnya menuju kediaman Meisin. Dia ingin membuktikan bahwa saat melihat dirinya sebelum matahari terbit, maka Meisin akan tergila-gila padanya seperti yang diucapkan oleh Dukun misterius bernama Ki Bagong. Dia sudah sampai di perbatasan kota, artinya Kampung Dukun dan Jalan Keramat itu sudah jauh dia tinggalkan di belakang. Jalanan yang dilaluinya pun sudah terang dengan kelap kelip lampu jalanan, Owen menuju kontrakan Meisin, tersungging senyum di bibirnya saat dirinya begitu yakin akan meraih kemenangan atas diri gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN