Harta Pembawa Petaka

1885 Kata

Dewi mengembalikan berkas surat-surat yang telah dibaca Arjun. “Semua ini milikmu.” Dewi menggeleng, tangisnya semakin menjadi-jadi. Arjun menjadi semakin bingung. “Kenapa malah menangis? Kamu seharusnya senang, kan?” “Kenapa jadi begini? Aku nggak pernah berpikir memegang uang sebanyak itu, apalagi sampai punya perusahaan. Mas saja yang memegangnya.” Dewi memaksa Arjun menerima berkas surat-surat penting dari tangannya. “Kenapa kamu kembalikan? Bukankah dengan ini semua kamu bisa menjadi seperti apa yang kamu inginkan?” Dewi masih terguncang hingga tidak dapat berkata-kata. Arjun membiarkannya. Ia bergeser dan merangkul istrinya. Dewi memeluk Arjun, menumpahkan kesedihannya. Suasana di dalam kamar menjadi hening. Arjun bersandar di sofa. Ia dijadikan tumpuan Dewi yang masih menangi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN