Tabir Masa Lalu

1891 Kata
"Sekarang kalian berdua sudah paham kenapa Ayah meminta Varong mencari mutiara keabadian dulu baru kalian menikah," Birawa menjelaskan. Saat Uli sudah sadar dan rapi dengan lainnya kembali. Gadis itu duduk di dipan kayu.. Menatap Birawa dengan rasa malu yang amat besar. Kedapatan ingin melangkah jauh dengan Varong, bukanlah masalah yang mudah. Varong mengangguk dan menoleh ke arah Uli sejenak. "Aku akan pergi. Melanjutkan perjalanan mencari mutiara keabadian. Aku titip Uli kepadamu, Ayah. Kali ini aku pergi dalam keadaan tenang karena Uli sudah memelihara batu delima hitam di tubuhnya," tuturnya. Uli mengerjap. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Varong. Menelan batu sebesar itu? Tidak mungkin. Tadi yang ia rasakan hanyalah rasa hangat yang menjalar hingga seluruh tubuhnya. Rasa hangat di tenggorokan saat Varong memagut kedua belah bibirnya. "Jangan pikirkan bagaimana caranya batu itu masuk. Yang jelas dia kini sudah menjadi bagian dari dirimu. Siapapun yang akan mencelakai, maka dia tidak akan pernah selamat. Karena batu itu memiliki racun yang amat mematikan jika ada yang menghirup apalagi menelan aromanya." Varong menjelaskan secara garis besar saja. Agar Uli tidak kebingungan dalam mencerna penjelasan tentang batu mutiara tersebut. Tidak terlalu mengerti, Uli tetap saja mengangguk. Berpura-pura paham secara keseluruhan, padahal ia hanya mengetahui kini dirinya sudah aman dari segala ancaman. Baik dari manusia maupun siluman. Atau makhluk sejenisnya. "Kalau begitu aku pamit. Semakin aku cepat pergi, semakin cepat pula kembali. Untukmu, ayah yang akan mengantarkan kau pulang ke rumah. Dan jika kau suntuk di desa, bisa bermain ke hutan ini. Seperti yang kau lihat, disini ada banyak hal menarik yang bisa kau nikmati. Kau juga tidak perlu khawatir akan celaka. Karena seluruh siluman di hutan ini sudah mengetahui kau adalah calon istriku," tutur Varong seraya duduk bersila. Menggenggam sebuah pusaka di tangannya. Seulas senyum terukir di bibir Varong. Sebelum menghilang, lenyap dari hadapan Uli. Pemuda itu telah pergi ke tempat, di mana terakhir kali ia berada untuk melanjutkan perjalanan ke arah gunung berapi. Uli tersentak. Ingin ia menjangkau Varong tapi, tak bisa. Pria itu sudah hilang ditelan kabut kelabu. "Ayo saya antar pulang. Keburu malam kalau kau tidak pulang sekarang." Birawa langsung beranjak pergi begitu menyelesaikan ucapannya. Ia tak peduli apakah Uli mengekor atau tidak. "Saya masih ingin disini, Tuan. Lagipula di luar masih siang. Tentunya tidak apa jika aku disini. Tidak lama. Hanya sebentar saja." Uli menatap punggung Birawa. "Jangan tertipu dengan cahaya terang yang ada di hutan ini. Itu memang dibuat agar mangsa tak pernah tahu jika di luar telah gelap. Dan saat gelap datang, akan ada banyak hal menakutkan yang akan kau lihat." Birawa menoleh. "Saya yakin kau belum siap untuk melihat itu semua. Melihat sosok ibumu yang cantik saja kau tak sanggup," sindirnya. Sebelum melanjutkan langkah menuju pintu utama. Uli menghela nafas panjang. Tidak habis pikir Birawa memiliki sifat acuh, tidak hangat seperti Varong. Uli yakin pemuda itu mendapatkan segala sifat baiknya dari sang ibu. Dan akhirnya, Uli menurut juga dengan Birawa. Dengan langkah yang ragu Uli mulai berjalan keluar dari istana, menyusuri hutan yang mulai gelap karena matahari telah usai dengan tugasnya. Sedangkan Birawa, dengan wujud serigala mengiringi langkah Uli dari belakang. Dan seperti yang dikatakan Birawa, saat malam adalah waktunya pada siluman untuk keluar mencari makan. Mulai dari binatang berukuran kecil dan besar, tampak menjadi menu utama mereka. Hingga tatapan Uli bertemu dengan sosok serigala yang menyeret seorang gadis menuju ke arah istana setelah memberikan hormat kepada Uli dan Birawa. "Dia Arkana. Anak tunggal panglima yang sedang menyempurnakan ilmu yang sedang dituntut. Seorang gadis perawan di malam purnama adalah syarat yang harus didapatkan." Tanpa diminta, Birawa menjelaskan apa yang dilakukan sosok serigala yang tadi berpapasan dengan mereka. "Jadi gadis tadi adalah tumbal? Jadi benar apa yang orang desa katakan jika bangsa kalian pemakan manusia?" Entah apa yang terjadi. Dengan entengnya Uli melemparkan pertanyaan yang segera ia sesali telah lancang menyebutkan. "Ma-maaf," gumamnya dengan kepala yang tertunduk. "Tidak apa-apa. Kau pantas untuk bertanya tentang itu semua. Karena sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari bangsa kami. Jadi tidak ada salahnya mengetahui apa yang bangsamu lakukan." Birawa menghentikan langkahnya. "Saya yakin Arkana tidak pernah sekalipun memiliki niat untuk membawa mangsanya pulang ke istana." Uli menyimak. "Dia melakukan itu hanya karena kelepasan saja mengikuti instingnya sebagai binatang buas. Karena untuk penyempurnaan ilmu, Arkana hanya membutuhkan kegadisan seorang gadis saja. Tidak lebih dari itu. Dan bisa ditebak saat melakukannya Arkana tidak sengaja menelan darah dari bagian tubuh lain sehingga dia bisa buas seperti itu. Seperti yang saya katakan kepadamu dan Varong tadi. Sekaligus itu pula yang akan terjadi seandainya Varong tidak berhenti." Uli meneguk ludahnya. Seketika tenggorokannya tercekat mendengar ucapan Birawa. Tidak sanggup ia membayangkan tubuhnya habis ditelan Varong. "Maka dari itu, mutiara keabadian adalah satu-satunya jalan agar kau selamat. Karena kau hanya mewarisi aura setann putih dari ibumu. Selain dari itu kau murni manusia biasa." "Aku paham," sahut Uli. Bosan juga membahas tentang ibunya. Itu-itu saja yang menjadi pembahasannya, membuat Uli jengah juga. "Oh, ya, Tuan. Bagaimana caranya batu delima ini bekerja padaku? Apakah aku harus memintanya untuk melindungi atau bagaimana? Aku sama sekali tidak paham, bahkan tidak tahu dia masuk di bagian tubuh mana." Agar tak membahas itu dan itu secara terus menerus, Uli segera memutar pembicaraan ke arah lain. Agar ia tidak bosan berjalan menyusuri jalan menuju keluar dari hutan. "Jangan pura-pura tidak tahu. Saya yakin sedari tadi kau menyimak apa yang saya dibicarakan Varong," sahut Birawa. Sudah bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Uli saat ini. "Ya, sudah kalau Tuan tidak mau menjelaskan kepadaku secara langsung. Tidak apa, aku pun tidak memiliki masalah apapun untuk itu." Uli mengangkat kedua pundaknya. Berlalu acuh begitu saja, berjalan lebih dahulu daripada Birawa. Hingga tanpa disadari, sudah jauh juga Uli berjalan hingga ia telah sampai di perbatasan antara hutan dan desa. Segera ia berpamitan kepada Birawa, dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Setelah itu ia berlari menjauh, ke arah desa. Dan tanpa diketahui Uli, dua sosok siluman serigala telah mengikutinya dari belakang. Mengingat malam ini adalah bulan purnama, maka mereka ditugaskan untuk menjadi pengawal dari kejauhan. Takut sang lawan memiliki cara lain untuk memperdaya Uli, sehingga batu delima tersebut tidak menjalankan tugasnya seperti tadi. "Darimana saja kau? Dari tadi pagi menghilang, baru pulang menjelang malam begini," tegur Sadikin saat Uli menginjakkan kakinya di teras rumah. "Tidak kemana-mana, Ayah. Aku hanya pergi keluar untuk menenangkan diri, setelah melihat dan mendengar kejadian aneh tadi malam." "Jangan mengarang cerita. Cukup katakan saja dengan jujur darimana kau berkeliaran. Sampai pulang terlambat dengan keadaan babak belur begitu." Sadikin menunjuk pundak Uli yang membiru. Begitu pula dengan lengan dan tulang pipinya. Uli menggeleng. "Aku tidak kemana-mana. Hanya saja aku terjatuh dari lereng bukit sehingga terluka seperti ini. Dan itu karena aku terlalu memikirkan tentang yang aku dengar dan lihat di kamar Ayah semalam," balas Uli sengit. Menuntut kejujuran dari sang ayah siapa sebenarnya sang ibu. Selama ini Sadikin mengatakan kepada Uli jika sang ibu sudah meninggal dunia saat ia dilahirkan. Tapi nyatanya itu semua hanyalah kebohongan semata. Pantas saja selama ini ayahnya betah sendiri dan sampai dicap gila oleh warga desa. Itu karena sudah ada sang ibu yang selalu melayani hasrat sang ayah, layaknya pasangan suami istri lainnya. "Apa maksudmu? Ayah tidak paham apa yang kau katakan, Uli!" elak Sadikin. Ia sangat yakin Uli hanya sedang mengarang cerita saja. Bukannya melihat dan mendengar seperti yang dikatakannya. "Benarkah? Aku tidak percaya Ayah tidak mengerti dengan segala ucapanku, sedangkan Ayah hampir setiap hari meminta Lisni, yang katanya ibuku untuk melayanimu." Sadikin tertegun. Mendengar Uli menyebut nama Lisni, di hadapannya. Padahal selama ini tidak ada yang tahu siapa nama istrinya tersebut. "Masuk!" ajak Sadikin kepada Uli. Jika mereka berdua berdebat di teras rumah, tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang mendengar ucapan mereka berdua. "Aku tidak mau." Uli meronta. Menolak untuk masuk karena ia takut dengan sosok sang ibu yang bisa saja ada di dalam rumah. Apalagi malam ini malam purnama, tentu saja sang ibu suka turun untuk menemuinya dan sang ayah. "Masuklah! Jangan membuat orang lain takut mendengar kita membahas ini semua." Sadikin memaksa. Menyeret Uli masuk meski ia merasa perlawanan gadis itu sangat kuat. Layaknya menarik seekor gajah yang tengah mengamuk. "Aku bilang tidak tetap tidak?!" Uli berteriak. Matanya merah menyala dengan taring yang memanjang. Seketika Sadikin tidak sanggup mengucapkan apa-apa saat melihat Uli seperti itu. Sadikin yang tahu istrinya bukanlah dari bangsa manusia, tidak terlalu terkejut melihat perubahan Uli. Ia tentunya berpikir apa yang dialami Uli merupakan bagian dari Lisni yang turun padanya. Tanpa tahu ada kekuatan lain yang menjaga Uli saat ini. "Uli, dengar. Ayah berjanji akan mengatakan semuanya padamu, tanpa ada satupun yang Ayah tutupi. Tapi Ayah mohon padamu, tolong masuk dulu agar Ayah bisa leluasa menceritakannya padamu. Ayah mohon sekali ini saja kau mendengar apa yang Ayahmu pinta. Setelah itu, kau bebas ingin berbuat apa." Uli diam. Mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Matanya yang merah menyala seketika redup. Menandakan batu delima sudah kembali normal seperti sedia kala. Dan tanpa ada sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya, Uli masuk dan duduk di sudut ruang tamu. Siap mendengar apa yang akan diceritakan sang ayah padanya. Ia juga sudah siap jika harus mendengar secara langsung, bahwa Lisni memang ibu kandungnya. "Lisni adalah seorang gadis desa yang tinggal di desa sebelah. Dia amat cantik dan menjadi rebutan para pemuda," ujar Sadikin. Duduk bersila di hadapan Uli. Hari ini ia akan memulai menceritakan apa yang terjadi dengannya di masa lalu. Hingga Uli terlahir ke dunia, dengan dalih bayi yang ditemukan di dalam hutan sana. "Namun, diantara banyak pemuda itu Lisni jatuh cinta kepada Ayah. Sosok petani biasa yang amat tulus mencintainya. Hingga para pemuda di desanya tidak terima ketika mendengar kami akan menikah. Dan nahas bagi Lisni. Ia ditemukan meninggal dunia di kamarnya dengan luka tusukan, sehari sebelum kami menikah." Wajah Uli terangkat. Menatap wajah tua sang ayah yang tampak terpukul saat mengorek kembali luka masa lalu itu. Dimana sang pujaan hati harus kehilangan nyawanya demi mempertahankan harga diri. "Semenjak hari itu Ayah tak lagi memiliki keinginan untuk hidup. Karena memang hanya Lisni yang menjadi harapan satu-satunya di dunia ini bagi Ayah untuk tetap hidup setelah kepergian kakek dan nenekmu." Sadikin menjeda. Ia menelan terlebih dahulu bongkahan pahit yang menyumbat pangkal tenggorokannya. "Kau tahu, Nak. Dunia Ayahmu ini hancur. Porak poranda karena kehilangan alasannya untuk hidup. Hingga dia dikucilkan warga desa karena dianggap gila. Sampai satu bulan berlalu. Ayah kedatangan tamu, seorang pemuda yang tak tahu darimana asalnya. Dia menawarkan sebuah roti yang tidak tahu didapat darimana. Pemuda itu mengatakan jika Ayah menelan roti tersebut, maka akan mampu menghidupkan kembali satu orang yang Ayah cintai. Entah itu kakek, nenek, atau Lisni. Ayah hanya diberi satu orang untuk dipilih. Hingga pilihan itu jatuh kepada ibumu, Lisni." Uli tertegun. Mendengar sang ayah membenarkan jika Lisni, yang tak lain adalah Nyinyi Kunti adalah ibu kandungnya. Meskipun sedari tadi pagi Birawa sudah sering mengatakan jika ia bukan keturunan manusia biasa, tetap saja pengakuan sang ayah membuat Uli tak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Selain diam dan mendengarkan cerita sang ayah yang berjuang mati-matian untuk membahagiakan Lisni di tengah cibiran warga desa. Karena arti hidup yang pria itu katakan adalah, hanya Sadikin yang bisa melihat dan menyentuh Lisni. Bahkan memiliki keturunan seperti manusia lain. Namun, selain Sadikin tidak ada lagi yang bisa melihat Lisni, kecuali mata batinnya dibuka. Persis seperti yang dilakukan Birawa tempo hari. Dan karena Uli tidak nyaman dengan itu semua, Varong kembali menutup mata batin kekasihnya itu. Agar tidak ketakutan saat melihat makhluk tak kasat mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN