Chapter 6

1866 Kata
"Selamat menikmati hari Anda, Nona," ucap seorang lelaki berkulit hitam dengan ramah, menyerahkan sebuah kunci berwarna perak. "Terima kasih," ucap Sophie dengan mengenakan masker dan topi, menerima kunci itu. Ini salah satu penyamaran yang klasik namun cukup berhasil ketika dia harus bersembunyi dari paparazi. Sebenarnya tawaran Tommy adalah pilihan terbaik, tapi Sophie tidak ingin menjadi beban walau harus meminjam uang untuk satu bulan ke depan termasuk biaya sewa hostel selama sebulan, meski sewa kamar tidak sampai seratus dolar per malam. Pertama kali dalam hidupnya menginjak hotel yang cukup unik. Gedung bekas George Washington Hotel—rumah bagi para penulis dan musisi, kemudian diubah menjadi hostel dengan restoran dan bar dikelola Gabriel Stulman, seorang CEO sukses di bidang kuliner. Di meja resepsionis yang bercat hijau tua dengan meja terbuat dari kayu yang diberi keramik warna hijau, membuat Sophie seolah terbawa ke salah satu adegan Harry Potter saat mengunjungi kantor kementerian sihir. Di sudut lain, dia melangkah bersama Tommy memasuki lobi dengan suasana tropis. Tampak beberapa pahatan patung kayu yang ditempel di tembok, beberapa tanaman dengan sulur yang merambat ke bawah, dan kursi-kursi sofa yang berwarna nude. Kini dia menaiki tangga, cat yang sama seperti di bagian resepsionis, bedanya banyak lukisan abstrak beraneka ukuran terpajang di kiri dan kanan. Di tengah-tengah, ada sebuah lampu besar bergaya kuno menggantung, lantai keramiknya berwarna cokelat muda dengan pegangan tangan bercat hitam. Kini, mereka berdua menyusuri lorong dengan pintu-pintu yang berjejer rapi. Dinding kayu dengan ukiran gaya abad pertengahan begitu mendominasi. Entah konsep apa yang diberikan oleh si pemilik, namun Sophie terlihat kagum. Dia tidak memedulikan konsep, yang penting dia bisa merebahkan punggungnya sejenak di atas kasur. Mereka berhenti di depan pintu bercat hijau dengan nomor 124, Sophie memasukkan kunci ke lubang pintu, lalu membukanya. Hal yang sungguh berbeda dia dapatkan. Kamar itu bercat putih bersih, hanya ada lukisan grafitti dekat jendela dengan kasur kecil di dekatnya. Di sisi kanan, ada satu TV LCD yang menempel berhadapan dengan kasur. Di sisi kanan kasur yang berseprai putih dan selimut berwarna abu-abu, ada satu meja kecil terbuat dari kayu dengan di atasnya lampu tidur sebagai penerangan. Di sisi kiri, satu kamar mandi yang sepertinya hanya muat untuk satu orang. Sophie menghela napas, entah harus bersyukur atau tidak menerima bahwa dunianya benar-benar sedang berada di posisi paling bawah. Tapi, dia tidak punya pilihan lain ketika semua hartanya disita sebagai barang bukti pembelian narkotika. Termasuk kartu kredit yang diblokir oleh pihak bank, agensi yang seharusnya menaungi dan melindungi sang model kini justru angkat tangan. Sophie sadar, kelakuannya memang kadang di luar batas, tapi itu semua dia lakukan untuk kesenangan belaka di usia muda. Lagi pula, apa salahnya jika dia ingin menjadi pusat perhatian terus-menerus. Usai menaruh barang-barang, dia berkata, "Thank's for everything, Tom." Kalimat itu jelas diucapkannya dengan tulus oleh Sophie. Di mana lagi dia mendapatkan pertolongan ketika dunianya benar-benar tidak peduli. Tommy hanya tersenyum tipis, membelai lembut pipi Sophie yang sedikit hangat. Dikecupnya kening gadis itu singkat seraya berkata, "Tidak masalah. Kita adalah teman." Sophie mengangguk. "Aku harus istirahat. Nanti kuhubungi dirimu." "Kau tidak punya ponsel, Sophie," sindir Tommy. "Ah, aku baru ingat. Nomor yang kau gunakan untuk meneleponku, nomor siapa?" "Aku ... ehm ... ya ... itu kebetulan aku menemukan ponsel terjatuh," bohong Sophie menghindari tatapan Tommy. Mata bermanik biru samudra itu menyipit. "Ponsel terjatuh atau kau mencurinya dari seseorang?" "Aku terpaksa, oke!" jujur Sophie dengan kesal. "Aku tidak memiliki apa-apa—" "Tapi kau terus menyulut masalah, Sophie. Astaga ... kau baru saja keluar dari rehabilitasi, polisi masih memantaumu untuk bersikap baik, Boucher!" "Ya ya, aku paham. Anggap kau tidak tahu masalah ini, lagi pula aku butuh ponsel." Sophie mengacak rambutnya seraya duduk di tepi kasur. "Kau bisa memintaku." "Ini keterlaluan, Tom. Aku tidak bisa selamanya bergantung padamu walau kita teman dekat," ucap Sophie memandang Tommy dengan tidak suka. "Aku tidak suka terlalu banyak berhutang pada orang lain, termasuk padamu." Tommy menggeleng. "Kau gadis gila yang pernah kutemui, Sophie. Baik, untuk kasus itu aku tak akan menolongmu." "Asal kau tidak mengadu pada polisi sialan itu. Berjanjilah oke." Tommy terpaksa menganggukkan kepala. "Tapi karma akan selalu datang, kawan." "Aku sudah terbiasa dengan karma. Bahkan sepertinya kami bersaudara," canda Sophie dengan raut wajah masam. "Oh, baiklah, jangan pasang muka seperti itu. Aku tahu kau gadis berani—" "Ambil risiko?" Mereka berdua tertawa, lalu Sophie bangkit dan memeluk Tommy erat sekadar menyampaikan ucapan terima kasih pada lelaki bertubuh tinggi itu. Tommy pun membungkuk, menyesap aroma tubuh Sophie dalam-dalam lalu mengecup puncak kepala gadis itu dengan sayang. ### Harusnya ini menjadi musim panas yang hebat, sayangnya Sophie harus menahan diri untuk tidak keluar dan menghabiskan uang pinjaman dari Tommy. Seraya menonton serial acara TV dengan tatapan bosan, dia memutar beberapa kenangan di tahun-tahun sebelum semua ini terjadi. Tiap musim panas tiba, selalu banyak festival yang diadakan di New York, termasuk menonton film klasik di atas rooftop yang selalu diadakan oleh Rooftop Cinema Club. Seulas senyuman terukir di bibir tebal gadis itu, membayangkan betapa serunya menonton film dengan headphone nirkabel, segelas koktail, popcorn, dan pemandangan matahari terbenam di kota Manhattan. SkyLaw Rooftop Bar di Embassy Suites yang sering menjadi tempat pemutaran film dan menjadi salah satu tempat favorit Sophie selama berkarir di sini. Dia menoleh, ke arah nakas, melihat ponsel milik Evan yang membisu. Untungnya ponsel itu masih bisa digunakan dengan bantuan wi-fi, dari sana dia sudah mencari-cari lowongan kerja bahkan mengirim beberapa surel ke agensi-agensi lain. Tapi, keberuntungan memang tidak sedang berpihak pada gadis berhidung lancip itu. Tidak satu pun yang merespon email bahkan ada satu di antara mereka yang terang-terangan menolak Sophie. "Jika begini, apa aku harus jadi gelandangan dulu?" gumam gadis itu, beralih memandang layar televisi yang menampilkan siaran Oprah. Ide terlintas di otaknya seketika, dia pun beranjak dari kasur seraya meraih ponsel Evan dan memasukkannya ke dalam sling bag hitam. Sambil menguncir rambut panjang dan memasang masker, dia pun keluar dari kamar dengan langkah cepat. Membiarkan televisi menyala dan berbicara dengan sendirinya. Sophie tidak ingin membuang waktu, dia berharap dia bisa mendapatkan sesuatu malam ini. ### Melalui layar GPS mobilnya, sinyal ponsel milik Evan menunjukkan lokasi di salah satu hostel dekat Baruch College. Keningnya jelas mengerut, cukup bodoh juga si pencuri membawa ponselnya dari Brooklyn ke Madison Square. Jika dilihat, hanya butuh dua puluh menit untuk sampai ke lokasi. Sedangkan jari kediaman Evan lebih dekat, hanya sepuluh menit dengan mobil. Dia pun menyalakan mesin mobil BMW hitamnya, melaju perlahan membelah jalanan yang tidak terlalu padat. Untungnya Brave sedang tertidur setelah puas makan sepiring spaghetti dengan saus bolognese, serta segelas penuh s**u dan snack kentang goreng. Padahal Evan sudah mengingatkan para pengurus rumah untuk tidak memberikan makanan seperti itu kepada Brave, tapi malah Brave membela mereka dengan alasan bahwa makanan sayur itu sungguh tidak enak dan rasanya pahit. Hingga akhirnya, Evan mengalah karena tidak ingin berdebat lebih lama lagi. Mobilnya membelok ke arah Madison Ave lalu belok lagi ke arah East 24th St, sinyal GPS ponselnya masih menunjukkan tempat yang sama. Evan menghentikan laju mobil ketika mendapati sebuah bangunan bernama Freehand New York. "Hostel?" gumam Evan, keluar dari mobil dengan lalu lalang orang-orang yang berjalan di atas trotoar. Begitu masuk di dalam, dia disambut beberapa orang yang memenuhi lobi, sepertinya turis-turis dari luar singgah di sini. Evan pun mengitari sekeliling mencari ciri-ciri fisik si pencuri yang dia ingat. Rambut cokelat keemasan yang panjang sepunggung, tubuhnya ramping dan ideal, mengenakan celana jeans dan kaus pink. Hanya itu yang dia tahu, seharusnya ada ciri yang lebih detail, sayangnya Evan tidak melihat wajah si pencuri yang larinya cukup kencang. Kakinya berjalan menyusuri lobi, lalu berbelok menuju restoran dan bar yang cukup ramai. Botol-botol bir ditatapi rapi di atas rak kayu, dengan bartender yang sedang melayani pelanggan. Meja-meja pun penuh dengan gelas-gelas berisi alkohol dengan musik yang berdentum cukup keras di telinga. Evan menerobos, menajamkan penglihatan mencari-cari sosok yang telah menghancurkan rapatnya itu. Meski dia telah mendapat ponsel baru, tetap saja Evan tidak terima apalagi ponsel itu merupakan ponsel bisnis yang di dalamnya banyak sekali catatan-catatan penting dan nomor koleganya. "Di mana kau?" gumam Evan, melihat layar ponsel barunya, hingga tidak sadar dia menabrak seorang perempuan. "Maaf." Perempuan itu menatap tak suka pada Evan namun detik berikutnya dia membeku menatap lelaki itu. Untung saja masker yang menutupi wajahnya tidak membuat Evan mengenali dirinya dengan mudah, Sophie mengangguk tanpa mengatakan apa pun lalu berjalan di antara orang-orang untuk menghindari lelaki itu. Jantungnya tentu saja berdegup kencang, bagaimana mungkin si pemilik ponsel menemukannya di sini, apakah dia tahu cara melacak— Sial! rutuk Sophie tersadar akan kesalahan terbesarnya. "Hei!" suara Evan sedikit meninggi kala Sophie berusaha melangkah cepat. Evan terdiam beberapa saat, seperti mengenal sosok yang tidak sengaja dia tabrak. Aroma sabun yang dikenakannya sama persis dengan aroma sabun perempuan yang dia cari. Tak ingin kehilangan kesempatan lagi, Evan bergegas mengejar gadis itu. Sophie menoleh, merasakan bahwa Evan membuntutinya. Dia pun berlari, keluar dari gedung tidak peduli harus mendapat cacian ketika menabraki tubuh-tubuh orang yang melintas. Suara Evan masih terdengar bahkan lebih dekat, Sophie takut jika dia harus mendekam di penjara lagi. Tidak bisa dia bayangkan betapa sial hidupnya sekarang. Evan menarik paksa lengan gadis bermasker itu, hingga mereka berdua hampir terjatuh. Dan benar, rambut serta bentuk tubuhnya sama dengan apa yang terakhir dilihat Evan di depan gedung rehabilitasi. Dia menyipitkan kedua matanya seraya bertanya, "Di mana ponselku?" Sophie bungkam, dia tidak akan membuka suara jika tidak ingin terlibat dengan orang kaya seperti Evan. Namun, kekuatan cengkeraman tangan lelaki itu seakan sedang ingin meremukkan tulangnya sekarang. Sophie merintih menahan sakit, tatapan tajam Evan seperti sedang menusuknya dalam tidak peduli rasa sakit yang diderita Sophie. "Kau tahu apa akibatnya jika berhadapan denganku?" ancam Evan dengan suara penuh penekanan. "Kau ingin cara damai atau tidak, huh?" "Kau tak kan mendapatkannya lagi!" akhirnya Sophie mengeluarkan suara. "Apa?" tanya Evan tidak mengerti. "Kukatakan kau tak kan mendapatkannya lagi, aku sudah menjualnya kepada seseorang. Lagi pula, bukankah kau orang kaya?" sengit Sophie. "Apa? Menjualnya?" ulang Evan dengan mata membesar. Sophie menatap tajam Evan dengan punggung tegak, memberanikan diri menantang lelaki itu. "Apa kau tidak dengar? Aku men-ju-al-nya, Tuan. Aku butuh uang dan—" Refleks tangan Evan merebut masker yang menutupi wajah Sophie, membuat gadis itu memekik. Kedua mata Evan membulat, mendapati gadis yang mencuri ponselnya adalah Sophie Boucher. Dia tidak menyangka bahwa model penuh skandal itu sudah keluar dari tempat rehabilitasi, padahal menurut berita Sophie masih harus menjalani hukuman selama kurang lebih satu tahun penuh. Ah, mungkin ada penjamin yang membuatnya bisa bebas, pikir Evan memandang lekat wajah Sophie. "Kau..." lirih Evan seperti terhipnotis, melihat pantulan wajah di netra biru Sophie. Seolah dia sedang berhadapan dengan mendiang istrinya, Cecilia. Tanpa sadar, kedua mata abu-abunya berkaca-kata, rasa rindu yang terpendam sekian lama kini meledak begitu saja seperti bunga api di angkasa. Seperti mendapat kesempatan, Sophie pun menendang pangkal paha Evan dengan lutut kanannya membuat lelaki itu berteriak kesakitan. Sophie berlari dengan cepat, meninggalkan Evan yang memegangi bagian bawah tubuhnya yang kesakitan. Tidak peduli sejauh apa pun gadis itu itu berlari, dia harus menghilang dari hadapan Evan hingga tanpa jejak sebelum dirinya terlalu tenggelam dalam masalah pencurian. Bayangan jeruji besii yang dia benci sudah menari-nari di pikirannya. Sophie menggeleng cepat, menepis bayangan horor itu. Sepertinya dia harus berpindah tempat, Manhattan sudah bukan tempat aman baginya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN