Rangga mengambil napas panjang dan berucap, "Aku kekamar Hero pagi kemarin dan melihat sepatu dan pakain mu berserakan dilantai, Apakah kamu berhubungan s*x dengannya ?".
Nandini yang baru akan meneguk minumnya langsung menyemburkan air itu kembali dan wajah Rangga menjadi sasaran. Rangga mengambil tissu dimeja mengelap sendiri wajahnya.
"Siapa saja yang tahu hal ini ?"
"Jadi benar, apa kamu menyukai Hero ?"
"Itu terjadi begitu saja, aku dan dia sudah sepakat untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Jawab dulu siapa saja yang mengetahuinya ?
"Selain aku, tentu Jony."
"Aku harap kamu jangan ungkit hal ini lagi, itu kesalahan kami berdua. Jangan katakan pada siapapun, aku tidak igin hubungan Hero dan Lani terganggu karena hal ini."
"Baiklah, jika ada masalah kamu harus ingat mengatakannya padaku".
"Oke, Bos".
Nandini tidak begitu mengenal Lani, dia hanya bertemu beberapa kali waktu dia, Dony dan Hero tinggal satu rumah. Bahkan mereka samasekali tidak pernah mengbrol kecuali saat berkenalan pertama bertemu.
Di Brazil.
Hero duduk bersandar diatas tempat tidur, sedangkan disebelahnya seorang wanita berambut pirang tengah terlelap dibawah selimut yang menutupi tubuhnya yang naked.
Dia merasah sangat marah lantara telponya dimatikan oleh Rangga. Dia mencoba menghubungi nomer Dini lagi namun tidak dapat terhubung.
Kali ini ponselnya berdering, pemanggil 'Sayangku.'
"Sayang..." Panggil wanita itu dengan manja.
"Ada apa sayang?" jawab Hero dengan lembut.
"Aku harus menunda kepulanganku ke Indonesia, masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan."
"Jadi berapa lama waktu yang kamu butuhkan?"
"Mungkin aku akan menunda kepulangan 3 atau 4 hari".
"Perlu aku jemput kesana ?".
"Tidak, kamu tunggu aku di bandara saja. Aku tahu kamu mencintaiku, tapi aku tidak ingin kamu kelelah dijalan. Kamu simpan tenaga untuk mengurus persiapan pernikahan kita saja."
"Ada Mamaku dan Mamamu yang menghendel persiapan pernikahan, jadi aku masih bisa datang menjemput mu."
"Jika tidak mengganggu pekerjaan mu, aku akan sangat senang kamu datang kesini".
"Oke, kamu tunggu aku. Setelah dari Brazil aku langsung ke Los Angles."
"Aku menantimu, I Love You."
"I love you too sayang." Kemudian, telpon dimatikan.
Hero selalu berbicara lembut dan manis dengan Lani, dan dia begitu memanjahkan kekasihnya ini. Lani sosok yang ceria, lembut, sabar dan penyayang, yang terpenting dia selalu bisa mengendalikan emosi dan berbicara baik-baik jika dia merasa kesal ataupun marah karena Hero. Wanita ini selalu membawah kedamaian bagi Hero.
"Tok tok tok," pintu diketuk.
"Bos, ada panggilan dari Nyonya".
Hero bangun dan mengenakan celananya sebelum beranjak keluar. Dia menerima ponsel dari Jony.
"Ada apa Ma ?Tadi aku sedang menerima telpon dari Lani."
"Mama meminta kamu memilih desain undangan."
"Masalah undangan Mama dan Mama Lani yang atur, kami akan menerima apapun pilihan kalian."
"Baiklah."
Hero mengembalikan ponsel Jony dan masuk kedalam.
Diwaktu yang bersamaan, Dini menelpon Hero kembali.
"Hallo," wanita yang mengangkat.
"Where is Hero?" Ucap Nandini
"Who are you?" Tanya balik wanita itu.
"I'm is wife".
"Imposibble".
kemudian Hero kembali kekamar melihat wanita barunya sedang bertelponan menggunakan ponselnya.
"Who's Calling ?", ucap Hero.
"Your wife".
Hero mengambil posel itu dan melihat nama pemanggil 'Dini', dia pergi ke balkon kamar.
"Apa kau ingin aku putus dengan kekasih baruku?"
"Mereka tidak akan meminta putus sekalipun kamu sudah memiliki banyak istri, walaupun putus tentu kamu yang membuang mereka," jawab Nandini.
"Apa Rangga sudah pulang."
"No, kami menginap malam ini. Aku sedang jenuh dan mencari rasa yang baru", Nandini meneruskan kebohongan yang dibuat Rangga.
Rangga membuka pintu kamar Dini, "Dini, apa kamu membawa carger ?"
"Ya, ambil di tasku," ucap Dini membalas Rangga.
"Kamu benar-benar bersama dia ?"
"Ya, untuk malam ini."
"Setelah berpuasa lama, sekarang kamu membuka kakimu lebar-lebar."
Nandini mengerti maksudnya, tetapi bukankah kata-kata yang diucapkan Hero sangat kasar. Nandini terlihat kesal dan membalas, "Ya, itu berkat dirimu tuan Hero, kau mengingatkanku betapa nikmatnya bercinta."
"Dini jika hanya bercinta aku mampu menyenangkanmu."
"No, aku tidak berminat bercinta dengan pria yang sama untuk kedua kalinya."
"Honey, I want you again," Nandini mendengar suara wanita sebelumnya, itu sangat manja dan menggoda.
"Bagaimana bisa Lani bersama pria b******k seperti mu, sudah layani dulu kekasih Brazil milikmu dan jangan lupa tiap bulan cek Mr. P ke dokter, siapa yang tahu jika milikmu tertular penyakit."
"Apakah kamu cemburu, sayang?"
"Apa alasanku harus cemburu, jika hanya kesenangan s*x aku bisa mendapatkan dari pria manapun." Dini segera mematikan ponselnya.
Dini tahu dengan jelas dengan siapapun Hero menjalani hubungan, Lani tetaplah prioritasnya. Lani selalu memaklumi dan bersabar saat menghadapi begitu banyak selir di dunia pria itu.
Nandini juga tahu, walaupun Hero seorang bad boy dan Play boy hingga sekarang dia tidak pernah melakukah hubungan s*x dengan Lani, karena Hero benar-benar ingin menjaga wanita itu. Hero pernah berkata kegilaannya harus diakhiri jika dia sudah menikah. Terkadang, kasih sayang Hero kepada Lani membuat Nandini ataupun para wanita lain iri.
Hero merasa kesal, kenapa Nandini selalu bersikap semaunya ? Dia selalu mematikan telpon lebih awal dan akan menghubunginya sesukahati. Jika Lani adalah kedamain di hati Hero maka Dini kebalikannya.
Wanita yang baru saja ia tiduri tiba-tiba datang menghampiri dan memeluk dari belakang, wanita itu masih tanpa busana.
Hero segera berucap, "Get your hands off and get out of here now."
Wanita itu tidak juga melepaskan pelukannya. Hero kembali berkata dengan nada lebih dingin, "I really don't like repeating the same sentence."
Dengan enggan wanita itu melepaskan pelukan itu, dia kembali kedalam mengenakan pakaiannya.
"If your mood gets better, call me," dengan suara yang menggoda, lalu dia meninggalkan kamar Hero.
Didepan pintu, Jony memberinya cek
"A gift for you from Mr. Hero."
"Thaks," wanita itu mengmbilnya. Dia berjalan melenggak lenggok meninggalkan tempat itu.
"Periksa dimana keberdaan dua nomer yang baru saja saya kirim. Lima menit kamu harus temukan lokasi mereka," ucap Hero ditelpon.
Tidak beberapa lama orang itu berkata, "Saya menemukan lokasi mereka komplek Cempaka Villa, Bandung. Sepertinya mereka tidak berdua disana karena saya mendeteksi sinyal dari beberapa perangkan lain."
Hero ingat Nandini pernah bercerita itu adalah kawasan tempat tinggal Yoko sepupu Rangga, dia sering kesana karena dia berteman dengan istri Yoko.
"Saya akan memberi tugas baru, mulai hari ini kirim orang untuk mengawasi wanita itu dan laporkan kemana dia pergi dan siapa saja yang dia temui."
"Baiklah, tuan."
Hero menutup telpon, tiba-tiba saja dia merasa dirinya terlalu berlebihan terhadap Nandini. Kenapa dia harus mengawasinya ?