"Uek... uek... uek..." Nandini memuntahkan isi perutya. Wajahnya terlihat sangat pucat dan lesu.
Seorang teman wanita menghampirinya sambil membawakan minyak angin, "Ini Nan, supaya lebih baik."
Nandini langsung mengoleskan minyak angin disekitar leher dan perutnya. Temanya kembali berkata, "Kamu izin saja pulang, lihat mukamu sudah pucat kayak gitu."
"Habis minum soda tadi pagi, perutku sangat tidak nyaman. Apa minuman itu udah kadarwarsa ?"
"Nggak tahu yang beli kamu, mending kamu ke klinik didepan sana dari pada kamu kenapa-kenapakan, biar aku antar".
Nandini dibantu temannya itu keluar dari toilet kembali keruangan mereka. Kebetulan Yoko tiba dengan raut wajah bersemangat, "Nan, ada kabar bagus buat kamu. Usulan trasfer mu diterima ditahap awal, kamu masih perlu mengikuti pelatihan bahasa selama 2 bulan jika kamu lulus tahap ini maka kamu bisa pindah."
Nandini yang nampak lesu, menjadi bersemangat, "Yes, ini bagus, aku sudah belajar bertahun-tahun bahasa jepang kesempatan ini pasti kudapatkan. Jepang, tunggu aku."
"Uek... uek... uek..." Rasa mual itu kembali menyerang Nandini yang sedang bahagia. Dia berlari ke Toilet kembali.
"Kenapa dia ?" Tanya Yoko.
"Ngga tahu, dia bilang habis minum soda perutnya jadi tidak nyaman. Dari tadi dia muntah terus."
"Ya sudah, nanti suruh dia pulang lebih awal saja."
"Iya, pak."
Di toilet Nandini sedang menatap dirinya dicermin sambil memegang perut. Sudah lebih dari dua minggu setelah dia melakukannya dengan Hero.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa aku hamil begitu saja. Ini hanya karena masuk angin dan makanan yang salah."
"Sangat masuk akal beberapa hari ini aku terlalu sibuk kesan kemari mengurus pengajun kredit mobil, dan pagi tadi ku minum soda padahal belum makan nasi," pikiran Nandini.
Setelah kembali dari toilet, temanya memberi tahu jika Pak Yoko memberi izin untuk pulang lebih awal tentu saja Nandini mengambil kesempatan untuk beristirahat karena dia sangat merasa tidak enak badan.
Dipersimpangan kosan Nandini ada sebuah klinik yang cukup besar, dia memutuskan untuk kesana. "Lebih baik mencegah sebelum sakit yang lebih parah muncul," ucapnya.
Sangat beruntung antrian tidak terlalu panjang sehingga dengan cepat dia mendapat giliran.
"Ibu Nandini," panggil seorang suster. Nandini langsung masuk keruang pemeriksaan.
"Selamat siang Bu Nandini, apa keluhan anda ?" Tanya dokter itu.
"Akhir-akhir ini saya sering sakit kepala dan terkadang merasa meriang, tadi pagi saya habis meminum soda sebelum sarapan hasilnya saya muntah-muntah."
"Apakah anda memiliki riwayat mag?"
"Ya."
"Berbaring dulu kita periksa supaya lebih enak."
Nandini berbaring ditempat tidur, suster mengecek tekanan darah.
"Tekanan darah anda rendah," ucap suster.
Dokter datang dan melakukan pemeriksaan lainnya. Setelah dokter selesai mereka kembali duduk.
"Jadi saya sakit apa dok ?"
Dokter itu tersenyum dan berkata, "Kamu hamil, dan tekanan darahmu tidak normal".
"Dokter jangan bercanda," Nandini masih tidak percaya.
"Agar lebih pasti coba kamu cek sebentar. Kamu bisa gunakan kamar mandi ruangan ini."
Dokter itu memberikan tespack, Nandini langsung melakukan tes dan benar itu adalah dua garis. Inilah yang dikatakan guntur tiba disiang bolong.
"Hamil ? Bagaimana bisa, kenapa harus hamil ? Kenapa sekarang, dulu kenapa aku tidak hamil-hamil ?"
Kepala Nandini semakin pusing memikirkan hasil ini, dulu dia sangat berharap bisa hamil agar segera dinikahi Dony. Sekarang dia benar-benar hamil dan bingung dengan situasi ini.
"Lalu mau bagaimana anak ini ?" Safhira memegang perutnya.
"Tok tok tok," pintu kamar mandi diketuk.
Nandini segera membuka pintu dan menjaga raut wajanya agar terlihat bahagia. Dia kembali duduk didepan dokter Dan meletakan hasil tespack itu.
"Kapan terakhir bulanan anda tiba ?"
"5 minggu yang lalu".
"Secara medis kandungan anda sudah 5 minggu, karena ini dihitung dari tanggal datang bulan anda sebelumnya."
"Saya rasa ini baru 2 minggu atau belasan hari. Bagaimana bisa usianya 5 minggu."
"Perhitung dunia medis memang seperti itu. Saya sudah meresepkan beberapa obat, tekanan darah anda rendah itu tidak bagus untuk kandungan. Hindari minum bersoda apalagi yang beralkohol, dan pastikan istirahat dan makan yang cukup."
"Ya, dok."
Nandini kembali kekosannya dengan perasaan kacau, dan bingung dengan keadaannya saat ini. Tiba dikosannya dia duduk dibelakang pintu langsung menangis tersenduh-senduh.
"Bagaimana ini, aku tidak bisa menghadapi ini sendiri. Anak ini bagaimana nasibnya," gumamnya sambil memegang perutnya.
Kebetulan sekali Hero memanggil, tanpa pikir panjang Nandini mengangkatnya.
"Hiks... hiks..."suara tangisin Nandini.
"Kamu kenapa ?"
"Hero, bagaimana ini aku bingung hiks... hiks..."
"Berhenti dulu menangis lalu bicara."
"Nggak bisa, air mataku nggak mau berhenti hiks... hiks..."
"Sudah bicara pelan-pelan kamu kenapa ?"
"A... aku hamil. Aku harus bagaimana, Hero ?"
Hero diam tanpa suara, namun disana ada suara wanita memanggil Hero. "Hero, kenapa belum pergi ? Lani sudah siap kalian harus fitting baju."
"Ya, Ma." Jawab Hero.
"Nanti aku akan menghubungimu kembali." Hero mematikan telpon.
Nandini terlihat kosong, dan berikutnya dia melemparkan ponselnya kedinding, "Plak !"
Dia berbaring ditempat tidur, menenangkan pikirannya. "Banyak wanita yang melahirkan tanpa pernikahan. Walaupun hal itu masih begitu tabuh di negara ini tapi tidak di negara lain. Saya memiliki tabungan, saya bisa membesarkan anak ini."
Nandini memegangi perutnya, walaupun dia masih merasa tertekan tidak terlintas dibenaknya untuk menggugurkan anak dalam rahimnya itu. Keesokan harinya dia mengajukan cuti selama dua hari untuk beristirahat dan memikirkam rencana masadepan dan anaknya.
...
...
...
Hero terlihat melamun sambil memegang berkas ditangannya. Dia memikirkan bagaimana bisa dia menjelaskan pada Lani, dan dia juga tidak mungkin tidak bertanggung jawab. Pernikahannya dengan Lani sudah didepan mata, hanya menunggu 2 minggu lagi.
"Bos, apa yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Jony.
Hero menutup dokumen ditangannya, dan berucap "Aku berhasil membuat seseorang hamil."
"Bagaimana bisa? Bukankah kamu selalu memastikan keamanan agar tidak bocor. Bahkan kamu menyiapkan dan selalu memeriksa sendiri ko**mmu dan wanita-wanita itu selalu minum kontrasepsi."
"Tapi saya tidak melakukan pengaman apapun saat melakukannya dengan Nandini."
Jony cukup terkejut karena mendengar bahwa Nandinilah yang hamil.
"Bukankah kamu selalu ingin menjadikan dia simpanan, ini adalah kesempatan."
"Bagaimana bisa, anak pertamaku haruslah dari Lani. Dia akan menjadi istri sahku."
"Lalu, apakah kamu akan meminta Nandini menggugurkan janinnya ?"
"Saya tidak tahu."
Bagaimanapun itu adalah darah dagingnya, dan wanita yang memiliki benihnya adalah sahabatnya sendiri. Dia mungkin b***t namun dia tidak bisa menyakiti Nandini seperti itu.
"Kirim orang untuk mengawasinya, saya akan memikirkan jalan keluarnya."
"Tok tok tok", lalu pintu didorong terbuka oleh Lani. Terlihat senyuman hangat dari wanita itu.
"Aku membawahkan makan siang untuk mu," dia mengangkat kotak makan siang.
"Saya akan keluar dulu, nikmati waktu kalian," ucap Jony.