Bagian 14. Sebuah Karangan Bunga

1234 Kata

Lesti menangis tersedu-sedu. Hatinya pilu. Jiwanya terluka. Tiga belas tahun membina rumah tangga, tidak pernah Yusuf berlaku kasar. Dia selalu hangat saat bicara. Senang berkelakar. Selalu menurutkan keinginan anak istri. Namun, semua berubah 180⁰ setelah kehadiran Kirana di antara mereka. "Papa jahat," ucapnya tersendat. Isak tangis yang keluar, juga d**a yang terasa sesak menahan suaranya. "Mama ...." Alif yang sejak tadi mendengarkan pertengkaran kedua orangtuanya datang dengan air mata yang sudah membanjir. Bocah usia 12 tahun itu juga menangis tersedu-sedu. Seketika ia memeluk ibundanya yang meringkuk di lantai dengan tubuh berguncang. "Mengapa Papa memukul Mama? Mengapa Papa sekarang jahat?" tanyanya terdengar pilu. Suaranya serak. Yusuf meraup muka kasar. Lalu mengusak rambu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN