TWELVE

2197 Kata
             Hari ini Cheval sudah membuat janji untuk meeting dengan Aira. Lelaki berkulit tanned itu tidak datang sendirian, ia datang bersama dengan staffnya untuk membicarakan kontrak kerjanya yang baru bersama dengan Aira. Aira baru saja menyelesaikan acara mandinya dan langsung menuju walk in closet memilih baju yang pas untuk dikenakannya pada meeting hari ini dan nampaknya ia akan sedikit berdandan. Bukan karna ada ketertarikan, tapi untuk menghormati calon clientnya itu. Walaupun, bisa dibilang Cheval adalah lelaki yang terbilang tampan dan mandiri, tapi dalam hal percintaan sepertinya untuk mereka berdua bisa bersama nampaknya tidak mungkin. Aira sudah memiliki Wafda dan itu sudah cukup baginya untuk tidak melirik lelaki lain selain Wafda, kekasihnya.                 Ngomong-ngomong soal Wafda, kekasihnya itu tidak mengetahui tentang perkenalan Aira dengan Cheval. Lagipula ini sebatas teman dan juga perkerjaan fikirnya jadi untuk apa untuk bicara pada kekasihnya itu. Namun, jika Wafda mengetahuinya maka ia akan menjelaskannya juga memperkenalkan lelaki itu pada Wafda, kekasihnya. Aira tau, semenjak kecelakaannya kekasihnya itu semakin pencemburu dan sangat protektif padanya. Padahal ia belum tentu tertarik pada lelaki lain dan sudah pasti hatinya tertambat pada lelaki tinggi nan tampan yang sudah menjadi cinta pertamanya.                 Setelah menemukan baju yang tepat dan dirasa cocok untuk ia kenakan untuk meetingnya dengan Cheval dan staffnya. Akhirnya Aira turun dan melangkahkan kakinya ke bawah. Ia memutuskan untuk mengenakan dress tanpa lengan berwarna kuning mustard di atas lutut yang masih dibilang sopan karna ia melapisinya dengan cardigan berwarna biru navy sebagai penutup lengannya yang terlihat.                 Cheval sudah duduk di kursi yang disediakan. Sedangkan staffnya masih mengambil beberapa product yang akan ditunjukkan kepada Aira. Rencananya Cheval akan membuka perusahaan kosmetik yang akan diluncurkan di Indonesia. Di perusahaan itu, Cheval join dengan kakanya. Jadi bisa dibilang ia membantu kakanya untuk mencari brand ambassador untuk product itu. Ia sudah membicarakan dengan kakanya bahwa ia akan memakai jasa Aira untuk menjadi brand ambassador yang pas dengan produk yang akan mereka luncurkan. Bukan karna Cheval salah satu fans Aira maka dengan cepat lelaki itu memberikan project ini padanya, namun ada pertimbangan khusus dan lelaki itu menemukan kecocokan dengan kepribadian Aira dengan product yang akan mereka luncurkan. “Hai Ms. Walden.” Sapanya begitu melihat Aira turun.                 Cheval langsung menyambut wanita itu di tangga dan mengulurkan tangannya.   “Hai …” katanya kemudian mencoba melerai tangannya yang sedari tadi dipegang dan sempat dikecup sebentar.                 Tampaknya lelaki itu begitu romantis dan terus menunjukkan ketertarikan pada Aira. Tapi Aira selalu mengingatkan jika dirinya sudah memiliki Wafda dan tak mungkin untuk mereka bisa bersama. “Oh sorry,” kata Cheval yang buru-buru melepaskan tangan Aira dan merasa tidak enak. “It’s ok,” tersenyum ramah. “Maaf ya lama, tadi kesiangan karna semalam habis nulis sampai subuh.” Lanjutnya.  “No problem Sweetie. Silahkan duduk,” kemudian menarik kursi untuk Aira dan mempersilahkannya duduk di kursi di depannya. “Terima kasih kita mulai ya. Mba sudah siap kan?” kata Aira meminta konfirmasi dengan Maia yang mendampinginya untuk meeting dengan Cheval dan staffnya. “Sudah Ra. Yuk, kita mulai meetingnya ya.” Kata Mba Maia sambil tersenyum.   * * * * * *                   Di sisi lain, Wafda merasakan hal aneh dalam hatinya. Entah kenapa ia merasa dalam beberapa hari ini Aira sepertinya agak sedikit berubah. Apalagi sejak ketauan bahwa Wafda sempat bertemu dengan Amanda sebelum bertemu dengannya. Bahkan parfum wanita itupun sempat menempel di bajunya.                  Hal inilah semakin memperparah hubungannya dengan Aira. Sedari tadi lelaki tampan itu bolak-balik dengan gelisah namun tak mengerti kenapa ia gelisah sampai begitu. Entah karna apa. Tapi yang jelas ia sangat mencemaskan Aira. Ia kemudian mencoba menelpon Aira namun sayangnya, tak ada jawaban dari Aira. Lalu beberapa kali ia juga mencoba menelpon mba Maia. Tapi sama saja, ia juga tidak menjawab telpon darinya. Ia kemudian berbicara pada Riman untuk menanyakan jadwal Aira. Untung saja kalau Riman sudah cek jadwal Aira kepada Maia. Kalau tidak Wafda pasti akan marah lagi. Setelah menyebutkan jadwal Aira hari ini, Wafda kemudian menemukan jawaban kenapa ia sangat gelisah. “Siapa itu Cheval? Kok gw baru denger clientnya Aira dengan nama itu,” tanya Wafda dengan wajah gelisah.   “Gw udah nanya sama Maia. Pertanyaan gwpun sama Bro. Tapi Maia bilang itu hanyalah client barunya Aira.” “Kok gw curiga nih orang ada hati. Coba deh lo cari tau. Kali aja mba Maia mau cerita. Diakan ga bisa kalo didesek dikit.” Pinta Wafda pada Riman.   “Iya itu udah kefikiran kok. Cuma ga bisa sekarang-sekarang ini, gw takutnya Maia curiga. Nanti kalo udah ada bahasan omongan ke sana gw pasti akan cari tahu.” “Ya udah, sekarang lo bantu gw buat kirim bunga buat Aira ya!” “Oke Bro,” kemudian Riman pergi dari kamar untuk memesankan bunga yang Wafda inginkan untuk dikirimkan kepada Aira.      * * * * * *                   Mba Lia menjemput ibu di Bandara. Kedatangan ibu disambut senang dari anak-anaknya. Malah mereka mendambakan ibunya tidak usah pulang pergi ke Semarang lagi. Mba Lia langsung mengajak ibu mertuanya itu pulang ke rumah. Di rumah Aira sedang bekerja dan menunggu ibu. Setelah selesai bekerja, ternyata ibu sudah sampai di rumah beberapa saat yang lalu. Mba Maia memberitahukan Aira bahwa pekerjaan hari ini sudah selesai. Aira kemudian turun dari kamar kerjanya yang menyambung dengan kamarnya juga. “Ibuuuuu!” sapa Aira kegirangan melihat ibunya sudah sampai dan sedang duduk santai ruang keluarga bersama Lia. “Aira,” kata ibu tak kalah girang dan memeluk sayang anak bungsunya itu. “Ibu, udah dari tadi?” katanya memeluk ibunya manja. “Baru 15 menit ya, Mba?” tanya ibu meminta pembetulan dari Mba Lia. “Oh, Bu … bawa pesenan lumpia aku ga?” tanyanya pada ibu kesayangannya. “Bawa Sayang. Nanti ibu gorengin ya buat kamu,” “Eh, ga usah Bu. Nanti minta Olly aja.” Katanya menyebutkan nama Asistennya yang baru bergabung. “Olly!” panggilnya kemudian pada wanita berusia lebih muda setahun.                   Tak lama Olly menghampiri mereka. “Kenalin ini Ibu aku dan ini Mba Maia.” Katanya memperkenalkan dua wanita kesayangannya.   “Saya Olly Bu, Mba. Saya asistennya Non Aira,” ucapnya sambil tersenyum ramah. “Ih, kamu udah dibilangin jangan pake non segala. Udah kaya apaan aja. Lagi juga umur kita cuma beda setaun Olly,” Aira protes pada wanita itu. “Hehehe … Maaf aku lupa. Tapi aku ga enak, biasa panggil Non atau nyonya ke majikan aku.” Lalu menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal dan tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Kita ini di sini sama Olly. Semua orang yang kerja sama kita, ya kita udah anggep mereka sebagai keluarga. Jadi kita ga pengen ya ada gap antara majikan sama asisten. Mangkanya yang kerja sama kita ga pernah sebentar-sebentar. Ya kan Sayang?” Kata ibu menerangkan kepada Olly. “Iya, mangkanya aku ga pernah ganti-ganti manager. Dari aku mulai nulis trus jadi beauty vlogger juga. Ya, managernya cuma mba Maia aja. Cuma dia merangkap-merangkap pas belum ada kamu. Mangkanya sekarang jobs alhamdulillahnya sudah semakin banyak, jadi aku memutuskan untuk mencari asisten dan ketemulah sama kamu.” Terang Aira pada wanita berkulit tanned itu.                   Olly hanya mengangguk tanda mengerti dan tersenyum.   * * * * * *                   Mba Maia dan Olly tinggal memang tak jauh dari rumah keluarga Walden. Jadi kapan saja Aira butuh mereka selalu siap. Karna beban pekerjaan yang Aira hadapi semakin berat. Jadi ia memerlukan tenaga tambahan untuk ia bisa bekerja dengan optimal. Maia dan Olly resmi pindah minggu depan dari kosan mereka masing-masing. Beberapa barang sudah mereka cicil sedikit demi sedikit. Jadi ketika saatnya mereka tiba untuk pindah dari kosan mereka masing-masing, mereka tidak terlalu kerepotan. Olly memang baru bekerja untuk Aira sejak dua minggu yang lalu.                 Cheval mengontraknya untuk bekerja sama. Aira digandeng untuk menjadi brand ambasador produk kecantikan lokal yang dikerjasamainya dengan keluarga Cheval. Ok, author ceritain ya tentang Cheval. Sampe kelupaan hehehe … Saking cakepnya si Cheval itu. Secara fisikly Cheval Godelief adalah pria yang sangat tampan, tubuhnya tinggi semampai, dengan bulu-bulu halus yang tumbuh didagu dan sekitaran bibirnya (a.k.a brewok) lalu dia memiliki kulit tanned, sangat pintar, mandiri dari keluarga pebisnis dan kaya raya.                     Bisa dibilang keluarganya mempunyai pengaruh yang besar dalam perindustrian di Indonesia. Pekerjaan Cheval bukanlah pure sebagai pebisnis dan kaka juga adiknya. Cheval adalah seorang pemain sepakbola di Belgia, negara asalnya. Sudah beberapa bulan ini ia berlibur di Jakarta dan membantu bisnis kakanya dan belajar sedikit demi sedikit tentang bisnis. Karna hanya Cheval yang menjadi atlet dikeluarganya.                     Cheval juga sudah lancar berbahasa Indonesia, karna ayah Cheval adalah orang Indonesia dan ibunya berasal dari Belgia. Kedua orang tuanya sudah tinggal di Indonesia sejak kaka Cheval lahir dan mulai membangun bisnis mereka mulai dari 0. Dan sekarang perusahaan keluarga Godelief ada diberbagai sektor salah satunya yang bergerak dibidang beauty and health yang diwariskan kepada kaka pertamanya dan Cheval. Orang tua Cheval juga sudah pensiun dan sekarang menetap di Bali. “Mau minum apa Cheval?” tanya Aira ramah sambil membuka laptop kesayangannya. “Anything Sweetie,” kata Cheval tersenyum ramah.                 Sweetie adalah panggilan sayang Cheval ke Aira. Tapi itu hanya panggilan ketika mereka berdua saja. Cheval memang dari awal mengakui kalau ia memang suka dengan Aira dan ia pun sudah mengetahui kalau Aira sudah memiliki Wafda dalam hidupnya. Kini Cheval menyukai Aira dalam harap dan tidak berusaha merebutnya. Karna ia tau Aira pasti akan mempertahankan hubungannya dengan Wafda sebagaimanapun.    * * * * * *                        Wafda turun dari mobil sedan hitam SClassnya. Ia mengenakan polo shirt warna abu-abu muda dan celana panjang denim berwarna biru dongker. Tak lupa ia mengenakan masker untuk menutupi wajahnya untuk menutupi penyamarannya. Wafda lebih nyaman mengenakan masker ataupun topi yang selalu menjadi pelengkap ketika mereka sedang ingin menutupi identitasnya. Wafda sangat tidak nyaman sebenarnya dengan banyak wartawan yang masih mengejar dan mencari berita atas dirinya dan Aira. Ditambah lagi hubungannya dengan Aira ia rasakan sedang merenggang akibat ada Amanda yang masuk ke dalam hubungan mereka.                 Di halaman rumah keluarga Walden, terparkir sebuah mobil sedan ISeries berwarna hitam yang sangat asing untuk Wafda. Sebelumnya ia tidak pernah melihat mobil itu terparkir atau dipakai oleh Aira maupun keluarganya. Dalam hatinya ia bertanya-tanya dan semakin curiga. Lelaki itu ingin segera masuk dan melihat siapa yang sedang bertandang ke rumah keluarga kekasihnya malam-malam begini.                 Ting tong ting tong                 Segera ia bunyikan bel itu, hingga Olly datang untuk membukakan pintu untuk Wafda. Kemudian Olly mempersilahkan Wafda untuk masuk dan menemui Aira. Aira sedang berada di ruang kerjanya bersama dengan Cheval. Hanya terlihat mereka berdua di sana dan sedang asyik mengobrol santai. Wafda masuk ke ruang kerjanya dan Aira langsung terkesiap melihat kedatangan lelakinya yang sama sekali iya tak tau. Wafda memang tak bicara tentang kedatangannya malam ini. Lelaki itu ingin memberikan kejutan untuk Aira dengan datang langsung ke rumahnya. Karna memang biasanya juga tidak pernah ada masalah jika ia melakukan hal itu. Wafda memandang Cheval dengan tatapan sinis dan penuh permusuhan, Lalu mendekati Aira dan menyapanya dengan mencium pipi Aira dengan sayang. Aira juga memeluknya dengan sayang. “Sayang,” sapa Wafda pada kekasihnya. “Wafda,” katanya sambil menerima ciuman di pipi dari kekasihnya dan memeluknya sayang, “kok ga bilang kalau mau ke sini?” lanjut wanita cantik itu dengan  wajah senang masih sedikit terkejutnya. “Mau kasih surprise ke kamu. Lagian dari dulu, aku sering datang tanpa ngomong ke kamu. Ya, kecuali kamu merasa terganggu dengan kehadiran aku,” sindirnya kemudian menatap sinis ke arah Cheval yang juga membalas kesal tatapan kekasih Aira itu.                 Wajah kecemburuan terlihat jelas di wajahnya, “Ya engga dong Sayang. Oiya kenalin, ini Cheval.” Kata Aira sambil memeluk lengan Wafda yang berisi itu dan tersenyum manja. “Hai Wafda, I’m Cheval nice to see you.” Kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya, mengajaknya berjabatan tangan walaupun dengan wajah kesal. “Oh … nice to see you too, Cheval.” katanya sambil sedikit mencengram tangan Cheval yang menandakan ketidaksukaannya dan memandangnya tajam.                 Beberapa saat mereka berdua memandang sinis satu sama lainnya. Aira tau kalau Wafda tidak suka dengan kehadiran Cheval di sana. “Sayang mau minum apa?” kata Aira kemudian memberi tanda untuk berhenti memandang sinis ke arah Cheval. “Nanti aja,” jawabnya sedikit datar lalu duduk di sebelah Aira dan merangkulnya. “Sayang, Cheval ini CEOnya Godelief Group Indonesia. Dia yang jadiin aku brand ambasador produk kosmetiknya.” Kata Aira menjelaskan. “Oh,” “Tapi aku juga atlet sepak bola,” kata Cheval menambahkan lalu menyesap es latte buatan Olly. “Hmmm …” Hanya berehem ria.                 Aira kemudian menatap Wafda dengan tatapan tidak suka karna memperlakukan temannya seperti itu. Wafda kemudian mencium pipi kekasihnya itu dengan sayang agar meredam kesinisannya barusan. Cheval yang agak panas melihat adegan mesra barusan langsung memohon diri untuk pulang, karna sudah sejak sedari siang ia di rumah Aira untuk membahas pekerjaan dan baru sebentar ia berbicara secara unformal, tapi Wafda datang. “Aira, sepertinya aku harus pulang. Karna besok harus bekerja kembali,” kata Cheval mohon diri. “Ok, Cheval terima kasih banyak ya.” Kata Aira kemudian berdiri dan bersalaman, “Olly tolong anter Mr. Godelief ke bawah ya.” Titah Aira pada Olly, asistennya. “Baik, Aira.” Kemudian Olly berdiri dari meja kerjanya dan mengantar Cheval keluar.   * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN