Night Routine

1056 Kata
Sehari setelah pulang dari Makassar, Rindu menggelar rapat dengan timnya. Jadwal mereka mulai keteteran karena banyak hal yang terjadi di luar dugaan. Beberapa pemilik brand mulai melayangkan komplain karena sudah mengirimkan sampel produk dalam partai besar tapi tak kunjung dibuatkan video campaign. Tentu saja hal itu meresahkan. Sesegera mungkin Rindu dan timnya harus berbenah agar segala sesuatunya bisa kembali kondusif. "Jadi, harus menyelesaikan yang mana dulu, nih?" Devi melayangkan pertanyaan di tengah-tengah diskusi. "Kalau menurutku, mending kita selesaikan dulu semua yang sistemnya ngirim produk ke kita. Kan, itu bisa dibabat sekaligus sekali waktu tanpa harus ke mana-mana. Setelah itu baru kita cicil restoran-restoran di Jabodetabek. Yang tempatnya jauh kita garap terakhir. Nanti tinggal kita kirimi surat permohonan maaf atas kemunduran waktunya. Gimana menurut kalian?" Tasya menatap teman-temannya satu per satu. "Aku setuju," sahut Devi. "Kamu bisa handle soal surat permintaan maaf tadi, kan?" Devi menjawab dengan acungan jempol. Dengan sedikit kesal, tatapan Tasya bergeser ke Beni. "Ben, bisa nggak, sih, hape disimpan dulu kalau lagi rapat gini?" Di antara mereka Tasya memang lebih mendominasi. Itu karena dia paling sering menyumbangkan pikiran dan biasanya selalu efektif. Perannya sudah kayak manajer di tim kecil itu. Karena mereka sudah kenal luar dalam, tidak ada yang keberatan dengan hal itu. "Sori sori." Beni nyengir sambil meletakkan ponselnya. "Ini mama, minta dibeliin rujak." Bohong! Padahal dia lagi chatting-an dengan gebetan barunya. "Kalau mama, ngapain senyum-senyum sendiri?" todong Tasya. "Yang namanya anak ngobrol sama mamanya, pasti bahagia, dong." Tasya memutar bola mata. Devi terkikik sambil geleng-geleng. "Jadi gimana, kita mau syuting di mana hari ini?" tanya Beni sok menyimak. "Tuh, kan, nggak nyambung." Tasya pura-pura ingin menimpuk cowok bertubuh ceking itu dengan pulpen. "Sabar, nggak boleh emosi. Nanti cepat keriput, loh." Melihat ulah kedua temannya, Devi makin terkikik. Karena percuma meladeni Beni, Tasya beralih ke Rindu yang agak beda hari ini. Sedari tadi dia hanya diam, padahal biasanya paling cerewet. "Gimana menurut kamu, Rin?" Mendengar namanya disebut, Rindu terkesiap. Dagunya yang ditopang sebelah tangan nyaris tergelincir. "Aku, sih, terserah kalian. Biasanya juga kayak gitu, kan?" Rindu mengembangkan senyum agar tidak ketahuan sedari tadi dia tidak menyimak. Pikirannya tidak di sini. Rindu masih teringat momen perpisahannya dengan keluarga Duta kemarin. "Semoga saat kalian ke sini lagi udah ada kabar soal kehadiran cucu pertama Ibu. Minimal udah ngidam." Begitu kata Nursia saat Rindu berpamitan. Rindu hanya membalas dengan senyuman, meski hatinya teramat ingin mengaminkan. Jangankan memiliki anak, kesepakatannya dengan Duta bahkan tidak perlu ada hubungan suami istri. Bukan perkara keinginan Nursia memiliki cucu darinya yang membuat Rindu semelamun ini, tapi entah kenapa dia merasa ingin menjadi bagian dari keluarga itu lebih lama dari setahun. Dia merasa nyaman di keluarga itu. "Nggak ada yang mau ditambahin?" tanya Tasya lagi. Rindu menggeleng. Saat ini otaknya benar-benar tidak bisa diajak diskusi. "Oh ya, Rin, Duta ke mana?" Kali ini Devi yang bertanya, sambil menyalin sesuatu di buku catatannya. "Di lokasi proyek palingan." "Dia masih kerja juga?" "Katanya ada beberapa hal yang harus dituntasin dulu. Nggak bisa main cabut gitu aja." "Tapi dia nggak keberatan, kan, sering-sering diajak syuting nantinya?" Tasya memastikan. "Harusnya nggak, dong. Kan, dia udah di-DP lebih dari 50%. Harus profesional, dong." Devi menimpali tanpa mengangkat pandangan. Dia masih menulis. Rindu diam saja. Karena, malah dirinya yang mulai menimbulkan tanda-tanda tidak profesional. Belum apa-apa dia sudah sering terbawa perasaan. *** Sepulang kerja, Duta mengangkut barang-barangnya yang masih tersisa di kos. Rindu turut menemani. Sesegera mungkin mereka harus tinggal seatap, sebelum ada yang curiga. Aktivitas berkemas Duta diramaikan oleh bujang-bujang KKN. Mungkin semacam pelepasan salah satu anggota mereka untuk melangkah ke zona yang berbeda. Rindu sengaja memberi ruang, dia lebih memilih menunggu di tempat Nenek Suha. Hingga hari ini, status Duta yang mendadak jadi suami youtuber masih jadi topik hangat di grup KKN. Pas malam pertama jangan ditanya rusuhnya. Duta sengaja tidak merespons berlebihan. Andai mereka tahu, ini bukan pernikahan seperti yang mereka pikirkan. Malamnya, untuk pertama kalinya Duta terlibat syuting untuk konten yang dirancang serta diarahkan sangat serius oleh Tasya. Mengingat memang ini tujuan mereka menikah kontrak, serta besarnya bayaran yang sudah dia terima, sebisa mungkin Duta mengikuti segala instruksi tanpa protes. Hanya saja, Tasya kalau bikin konsep memang tidak tanggung-tanggung. "Ini serius aku harus gendong Rindu ke kamar mandi?" tanya Duta setengah memekik. Rindu yang duduk tepat di sampingnya berusaha untuk tidak tersinggung dengan respons cowok itu. Tema konten yang sedang mereka garap adalah night routine. Namun, bagian "menggendong" itu membuat Duta sangsi. Dengan ukuran Rindu yang segitu, alih-alih romantis bisa-bisa malah berakhir tragis. "Nggak bisa jalan aja, ya?" "Kalau jalan doang apa spesialnya? Penonton bisa boring." "Tapi kalau jatuh gimana?" Duta pantang mundur. Baginya, ini perkara serius. Urusannya sama tulang punggung. Tasya malah menjentikkan jari. "Nah, kalaupun jatuh, pasti malah lebih menghibur." "Ini kita mau syuting night routine atau ngelawak, sih?" Tasya memutar bola mata. "Sebisa mungkin vlog kita emang ada unsur komedinya, karena dari dulu Rindu terkenal dengan image kocak. Tapi nggak ngelawak juga kali, Ta. Kalian harus tetap menunjukkan chemistry sebagai pasangan yang benar-benar sedang menikmati masa-masa awal hidup bersama." Duta manggut-manggut. "Oke, deh." "Ya udah, berarti kita bisa mulai sekarang, biar nggak kemalaman. Soalnya nanti Rindu juga harus take video campaign untuk beberapa produk." Mereka mengiyakan omongan Tasya dengan anggukan pelan, lalu membubarkan diri dan menuju posisi masing-masing. Setelah Beni siap dengan kameranya, Tasya mengulang sekali lagi apa-apa yang harus Duta dan Rindu lakukan. "Di video ini ceritanya kalian mau menunjukkan ke penonton perawatan apa aja yang kalian lakukan sebelum tidur. Khusus untuk pasta gigi dan pembersih wajahnya ada sponsor yang masuk. Jadi, nanti kita start dari atas tempat tidur. Seolah-olah kalian sedang bercanda gitu, usik-usikan, gelitik-gelitik, pokoknya bikin senatural mungkin." Duta menyimak baik-baik. Sampai di sini dia baru sadar, menjadi suami kontrak seorang youtuber ternyata bukan pekerjaan enteng. "Nah, di tengah bercanda-bercandaan itu, Duta mengingatkan Rindu untuk sikat gigi sebelum tidur." "Terus, aku gendong Rindu ke ke kamar mandi?" Duta melanjutkan. "Betul sekali." Tasya tersenyum lebar. "Ada pertanyaan?" Duta dan Rindu kompak menggeleng. "Kamu siap, kan?" tanya Duta sambil mengiringi langkah Rindu menuju tempat tidur. "Harusnya aku yang nanya gitu." "Kalau urusan gendong kamu, tenang, aku sudah terlatih mengangkat semen bersak-sak," ujar Duta sambil memamerkan otot bisepnya. "Jadi maksud kamu, aku seberat semen bersak-sak?" tanya Rindu dengan mata setengah melotot. Duta hanya nyengir sambil menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal. *** [Bersambung] Kira-kira videonya berhasil nggak ya? ??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN