Sejak pertemuan terakhirnya dengan Duta, Rindu tidak tenang. Setiap detik ada harapan yang bergulir, meski tidak jelas dia lebih condong ke mana. Sampai detik ini dia memang belum rela kalau harus kehilangan channel kesayangannya yang dibesarkan mati-matian. Namun, dia juga ikhlas seikhlas-ikhlasnya kalau memang pada akhirnya Duta hanya akan meminta pertolongan tanpa kesediaan nikah kontrak.
Masalahnya, sudah hari keempat, Duta belum juga menghubunginya. Ini yang membuat Rindu uring-uringan. Apa mau cowok itu sebenarnya?
Hingga di hari kelima, Duta pun datang—di saat Rindu mulai tidak berharap apa-apa lagi. Tadinya Rindu malas-malasan beranjak membuka pintu saat bel rumahnya berdering. Namun, begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu, cewek berbobot itu seketika disergap jutaan rasa yang akan sangat merepotkan kalau harus dijabarkan satu per satu. Yang paling dominan tentu saja senang dan heran.
"Ta?" Rindu mengulas senyum kikuk sambil merapikan rambutnya. Dalam balutan pakaian rumahan begini pasti lemak tubuhnya mengintip di mana-mana.
"Boleh masuk?" Ekspresi Duta masih sulit terbaca.
"Oh, tentu." Rindu pun berjingkat dan duduk lebih dulu. "Silakan duduk."
Duta duduk sambil mengedarkan pandangan. Ini kali pertama dia melihat bagian dalam rumah ini. Semuanya terlihat mewah. Kos-kosannya menangis melihat ini.
"Kedatangan kamu ini ...." Rindu bingung sendiri bagaimana menyampaikan kalimat yang sedang menari-nari di kepalanya.
Untung Duta langsung menyambarnya. "Ya, kita akan menikah."
Kalimat singkat itu menimbulkan daya kejut di d**a Rindu yang mirip sengatan listrik. Untuk sesaat aliran darahnya seolah berpusat dan tertahan di wajahnya.
"Maaf, aku butuh waktu lama untuk berpikir. Dan pada akhirnya memang ini yang terbaik." Lima hari berturut-turut Duta sudah mendirikan salat malam sesuai saran ibunya.
"Tapi aku beneran tulus, loh, Ta, kalau semisal kamu hanya ingin pakai uangku dulu tanpa harus nikah kontrak."
"Dan setelahnya aku akan duduk tenang melihat kamu kesulitan?" Duta tersenyum samar sambil geleng-geleng. "Sebaiknya berhenti bahas itu. Lagian, aku nggak mau hanya gali lubang tutup lubang."
Mata Rindu mengembun perlahan-lahan. Tidak bisa dipungkiri, ada kelegaan luar biasa yang tercipta, membuat jalan napasnya lebih leluasa. "Makasih."
"Kalau boleh tahu, bagaimana sistem kontrak yang akan kita sepakati?"
Rindu membenahi posisi duduknya sebelum menjelaskan. Ini sudah memasuki inti, dia tidak boleh salah pilih kalimat.
"Rencananya kontrak ini akan berlaku selama setahun. Kamu akan saya bayar sepuluh juta per bulan."
Ginjal Duta tersentil mendengar angka itu. Serius sebanyak itu? Namun, dia berusaha bersikap B aja.
"80 juta akan saya bayar di awal biar kamu bisa langsung terbebas dari rentenir itu. Sisanya dibayar normal mulai bulan kesembilan."
Bohong kalau Duta tidak tergiur. Namun, sekali lagi, dia berusaha bersikap B aja.
"Lalu, selama setahun itu kita ngapain aja?"
"Kita akan sering-sering bikin konten ala-ala pasangan muda. Pokoknya, sebisa mungkin kita harus meyakinkan netizen bahwa kita ini pasangan yang kompak."
"Gitu doang?"
"Itu baru garis besarnya, sih. Lebih detailnya nanti sambil jalan. Tasya yang lebih tahu. Tapi tenang aja, nggak akan aneh-aneh, kok."
"Tapi aku masih boleh kerja di proyek, kan?"
"Loh, buat apa lagi?"
"Bayaran selanjutnya baru aku terima di bulan sembilan, kan? Sementara aku nggak boleh telat kirim uang ke kampung untuk kebutuhan ibu dan adik-adikku."
"Soal itu nggak usah khawatir. Bisa diatur, kok. Lagian, nantinya mereka akan jadi Ibu dan adik-adikku juga."
Kalimat itu membuat alis Duta setengah terangkat.
Melihat ekspresi itu Rindu jadi sadar, barangkali terlalu cepat untuk berkata seperti tadi. Dia pun buru-buru mengoreksi. "Maksudnya ... aku akan menganggap mereka seperti keluarga sendiri."
Duta tersenyum geli. Rindu terlihat makin lucu kalau lagi salting begitu.
Gara-gara kalimat Rindu, suasana jadi agak canggung beberapa saat.
"Oke deh. Nggak apa-apa kalau memang aku harus keluar dari proyek. Tapi nggak bisa langsung, ya. Nggak boleh main pergi gitu aja, soalnya kemarin aku masuknya baik-baik."
Rindu mengangguk paham. "Sori, ya, Ta. Belum apa-apa kesannya aku udah sok ngatur. Soalnya nanti kamu juga harus ikut kalau ada syuting di luar kota. Kalau kamu masih kerja di proyek, pasti nggak akan ketemu waktunya."
"Nggak apa-apa. Aku ngerti, kok."
"Oh ya, Ta, karena ceritanya nanti kita jadi pasangan suami istri, kamu tinggal di sini, ya."
"Ha?" Duta memekik.
"Loh, emang harus kayak gitu, kan?"
Memang harus begitu. Hanya saja ... Duta belum sempat memikirkannya. Meskipun hanya pernikahan kontrak, sepertinya dia benar-benar akan menempuh hidup baru.
"Oke," ujarnya kemudian seraya mengendurkan pundak. "Tapi, aku punya beberapa permintaan."
Rindu meneguk ludah. Semoga permintaan cowok ini tidak aneh-aneh.
"Pertama, aku mau pernikahannya dilaksanakan sebagaimana pernikahan pada umumnya. Nggak ada tahap yang boleh terlewatkan."
"Dibikin meriah juga?"
"Tentu saja."
"Emangnya kamu nggak malu punya istri kayak aku ini?"
"Aku lebih malu kalau orang-orang tahu, aku rela nikah kontrak demi terbebas dari utang."
Rindu meringis samar. Padahal tadinya dia pikir nikah di KUA saja sudah cukup.
"Kedua, jangan sampai orang luar tahu kalau pernikahan kita didasari kontrak."
"Memang seharusnya begitu."
"Ketiga, aku ingin menemui orangtuamu untuk memohon restu."
Wajah Rindu mendadak tegang. "Harus banget, ya, Ta? Kan, cuma kontrak. Restu macam apa pun ujung-ujungnya pernikahan kita tetap akan diakhiri."
"Kayaknya aku harus ulang permintaan pertama; aku mau pernikahannya dilaksanakan sebagaimana pernikahan pada umumnya. Nggak ada tahap yang boleh terlewatkan. Dan menurutku memohon restu justru bagian yang paling penting. Percaya, deh, tanpa restu, kita akan menemui banyak masalah nantinya."
Rindu paham akan hal itu. Namun, ada sesuatu yang membuat permintaan ketiga ini agak berat.
"Tapi, Ta, aku udah lama banget pisah sama orangtuaku."
Duta tersentak. Bagian ini cukup membuatnya penasaran. "Aku emang belum tahu masalahnya, tapi selama mereka masih hidup, sebagai cowok yang beretika, aku harus menemui mereka sebelum menikahimu."
Andai yang akan terjadi adalah pernikahan yang sesungguhnya, kalimat itu kadar bapernya pasti nggak ada obat.
Pelan-pelan wajah Rindu menyendu. Duta bisa menangkap bias kesedihan di sana.
"Papa sama Mama pisah saat aku masih SMA. Entah siapa yang main api duluan. Intinya, mereka sama-sama menjalin hubungan dengan seseorang di luar sana. Yang bikin aku nggak terima, keberadaanku seolah dilupakan. Dan ternyata emang benar, pada akhirnya mereka sepakat memulai kehidupan baru yang nggak butuh aku di dalamnya. Mereka tahu cara membahagiakan diri masing-masing tanpa melibatkan aku."
"Kalau emang kamu nggak nyaman, kita nggak perlu bahas ini." Duta jadi tidak tega.
Rindu memang tidak menangis, tapi setiap penggal katanya menyiratkan kepedihan yang tertanam di dadanya sekian lama.
"Kamu harus tahu semuanya sebelum menemui mereka. Agar nantinya kamu nggak kaget lagi jika sikapku ke mereka tidak sebagaimana mestinya."
"Kamu mau bilang kalau kamu membenci mereka?"
Rindu menggeleng lemah. "Tapi ... sejak mereka memutuskan untuk bercerai, sama halnya mereka nggak peduli aku lagi. Aku memilih tinggal sendiri karena nggak mau memilih satu di antara mereka. Aku akan tinggal sama mereka lagi hanya kalau mereka bisa bersatu kembali. Dan itu mustahil. Lagian, kalau mereka bisa memilih jalan masing-masing, kenapa aku nggak?"
Duta bungkam. Dia merasakan sesuatu yang salah di sini. Ini akan jadi PR-nya setelah berstatus suami nanti.
***
[Bersambung]
Bagaimana, ya, reaksi orangtua Rindu pas tahu tiba-tiba putri mereka akan menikah???
?