Menikah dengan Duta?

1177 Kata
Dalam perjalanan pulang, Rindu kembali berpegangan di pinggang Duta, tapi tidak lagi sekaku tadi. "Thanks banget, ya, Ta. Ini salah satu malam ulang tahun paling berkesan di hidupku." Alih-alih membalas dengan satu dua kata, Duta malah menambah kecepatan vespanya. Rindu refleks mengencangkan pegangannya. "Pelan-pelan, Ta!" katanya setengah teriak. Duta seolah tidak menggubris. Dia malah teriak-teriak tidak jelas kayak anak kecil. Rindu menepuk punggung cowok itu. "Apaan, sih, Ta? Malu dilihatin orang." "Motoran sambil teriak gini seru kali," ujar Duta sambil menoleh sekilas. Lalu, dia teriak lagi kayak Tarzan lagi manggil kawan-kawannya. Duta yang teriak, Rindu yang malu. Duta menoleh lagi. "Cobain, deh." "Jangan keseringan lihat ke belakang, ntar nabrak loh." Rindu serius ngeri. Duta melajukan vespanya dengan kecepatan di atas rata-rata, tapi sikapnya pecicilan begitu. Akhirnya Duta pun kembali fokus ke jalanan. Sepertinya Rindu bukan tipe cewek yang gampang dipancing untuk gila-gilaan. Namun, sekian detik kemudian .... "Aku nggak genduttt!" Teriakan tiba-tiba itu sukses mengagetkan Duta. Dia langsung menoleh ke belakang lagi. "Gimana? Seru, kan?" Rindu mengiyakan dengan pancaran matanya yang berbinar. "Aku pengin kurusss!" Dia pun teriak lagi. Duta menimpalinya dengan suara-suara aneh. Tanpa sadar, mereka sudah seperti sepasang orang gila baru. Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Tahu-tahu vespa Duta sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Rindu. Meski rasanya masih ingin melanjutkan kegilaan itu, mau tidak mau Rindu harus turun. "Sekali lagi makasih, ya, untuk semua keseruan malam ini," ujar Rindu sambil melepas helmnya. Duta mengangguk seraya tersenyum. "Tapi urusan kita beneran udah kelar, ya. Aku nggak mau lagi disuruh berpura-pura di depan kamera." Pernyataan itu seketika menyurutkan senyum Rindu. "Ya udah, aku pulang, ya." Duta pun kembali menyalakan vespanya dan pergi begitu saja. Rindu bahkan tidak sempat mengucapkan selamat malam atau semacamnya. Dia terpaku menatap punggung Duta hingga ditelan tikungan. Apa tadi barusan? Kenapa Rindu merasakan ketidakrelaan yang tidak biasa? Bukankah seharusnya memang begitu? Dia tidak berhak mengacak-acak kehidupan Duta lebih jauh, meski sebenarnya dia teramat membutuhkan cowok itu demi mengamankan channel-nya. "Astaga, nih, orang bikin khawatir aja." Suara itu datang bersamaan dengan derap langkah beberapa pasang kaki yang terkesan buru-buru. Saat Rindu menoleh, dia langsung mendapati Tasya, Devi, dan Beni dengan tampang siap menghakimi. "Dari mana aja, sih?" tanya Devi sambil bersedekap. "Telepon nggak diangkat, chat nggak dibalas. Tahu-tahu pulang selarut ini." Bukannya Rindu bermaksud mengabaikan dan bikin teman-temannya ini khawatir, tapi tadi dia sengaja mengheningkan ponselnya. Karena, sumpah, momen seperti tadi sangat jarang terjadi di hidupnya. Nyaris tidak pernah. Kalau mau, dia memang bisa mengumpulkan banyak orang dalam waktu singkat untuk seru-seruan bareng. Namun, bisa dipastikan yang akan datang sebagian besar orang-orang modus segolongan Tristan. Sementara Duta dan teman-temannya beda. Mereka tulus. Rindu kembali terenyuh mengingat kata-kata Duta sebelum pergi tadi. Kenapa cowok itu seolah tidak sudi lagi bertemu? "Aku masuk duluan, ya," kata Rindu kurang semangat sambil menyodorkan helm Beni kepada si pemilik. "Yah, malah kabur," keluh Devi. "Dia kenapa, sih?" Cewek berambut pendek itu menatap kedua temannya bergantian. "Pasti habis diapa-apain sama Duta," tebak Beni dengan netra melebar. "Kok, Duta, sih?" Tasya menyela. "Sama siapa lagi dia keluar naik motor kalau bukan sama Duta?" "Tapi kayaknya ada hal lain, deh, bukan karena diapa-apain. Duta kelihatannya cowok baik-baik, kok." "Tristan sama Ari juga terlihat baik awalnya. Nyatanya apa?" "Udah, ah." Devi melerai perdebatan kecil itu. "Masuk, yuk. Videonya belum selesai diedit, tuh." Dia pun melangkah lebih dulu. Kedua temannya mengekor. *** Duta jarang banget nonton YouTube. Seminggu sekali belum tentu. Namun, malam ini dia membuka aplikasi merah itu hanya untuk menonton video Rindu. Video pertama yang ditemukannya malah video di taman tadi siang. Duta geli sendiri melihat dirinya berakting seperti itu. Selesai menonton dua video lainnya yang masing-masing berdurasi sekitar sepuluh menit, Duta bisa menyimpulkan, bahwa video-video Rindu benar-benar terkonsep dan punya daya tarik tersendiri. Tidak heran kalau tembus jutaan view. Di beberapa video, Rindu menggabungkan antara jalan-jalan dan makan-makan. Jadi, dia akan berkunjung ke suatu tempat, lalu berakhir dengan makan besar di salah satu restoran populer di daerah itu. Entah ada kerjasama tersendiri dengan pihak restorannya atau gimana, Duta kurang paham hal semacam itu. Intinya, Rindu punya pembawaan khas yang membuat penontonnya betah di setiap video. Entah sudah berapa banyak video yang Duta tonton. Beberapa kali secara tidak sadar dia ikut menelan ludah melihat kemampuan Rindu melahap berporsi-porsi makanan. Pantas badannya segede itu. Sesekali Duta juga tergelak menyaksikan kegokilan cewek itu. Sampai akhirnya kantuk mulai menguasai dan akhirnya Duta ketiduran. Ponselnya lepas dari genggaman, jatuh ke kasur begitu saja dengan kondisi video Rindu masih terputar. *** "Semalam dari mana sama Duta?" Rindu yang baru gabung di meja makan untuk sarapan langsung ditodong pertanyaan itu. Dia hanya menoleh ke arah Tasya yang sedang mongoles rotinya dengan selai cokelat tanpa menjawab. Rindu meraih selembar roti, tampak benar-benar tidak berminat membahas hal tadi malam. Bukannya enggan, tapi ... entah bagaimana menceritakannya. Duta memberinya pengalaman berkesan, sesuatu yang tidak mudah dilupa. Namun, di akhir pertemuan, cowok itu juga membuat Rindu bertanya-tanya hingga pagi ini. "Nggak habis aneh-aneh, kan?" tanya Tasya lebih jauh. "Sembarangan!" Rindu mengacungkan pisau rotinya, pura-pura ingin menebas mulut temannya itu. Tasya buru-buru mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V sambil nyengir. "Aku cuma nggak mau kamu tersakiti lagi gara-gara cowok. Pokoknya, dari sekarang kamu harus lebih hati-hati bergaul sama cowok," katanya kemudian, setelah Rindu menurunkan pisaunya. "Terus kelanjutan proyek kita sama Duta gimana, nih?" Giliran Devi yang bertanya, sambil mengunyah nasi goreng udang. Kening Rindu sontak berkerut. "Proyek apaan?" "Dia udah tampil di dua video kita, boleh, dong, disebut proyek. Atau terserah apa pun namanya. Intinya, kayaknya nggak mungkin banget, deh, kemunculan Duta sampai di sini aja." Devi meletakkan sendoknya, lalu beralih mengambil ponselnya dan langsung masuk ke YouTube. "Lihat, deh," katanya sambil menghadapkan layar ponselnya ke Rindu, "baru tayang 30 menit, video semalam udah tembus 100 ribu view." "Masa?" Rindu langsung menyambar ponsel Devi karena tidak percaya. Netranya pun melebar melihat angka view sesuai yang disebutkan Devi tadi. Ini video pertama yang melesat secepat ini. Rekor banget. "Itu artinya, Duta berhasil memikat penonton kita sejak kemunculan pertamanya. Dan kemunculan video itu seolah udah bisa ditebak dan ditungguin banget. Pas ada notif mereka pasti buru-buru langsung nonton." "AdSense kamu pasti bakal melonjak kalau kita berhasil menghadirkan Duta di video-video selanjutnya." "Nggak!" Rindu menggeleng tegas. Dia teringat ucapan Duta tadi malam. "Loh, kenapa nggak?" "Dia nggak mau lagi." "Tapi ini bukan hanya soal AdSense, loh, Rin, tapi kelangsungan channel kamu." Devi merebut ponselnya dari tangan Rindu, lalu masuk ke i********:. Setelah menemukan salah satu story Tristan, dia menunjukkannya ke Rindu. "Kamu masih follow cowok berengsek ini?" protes Rindu begitu melihat nama akun yang tampil di pojok kiri atas. "Buat mantau doang." Tatapan Rindu kembali ke story itu. Lagian terserah Devi mau follow siapa saja. Itu haknya. Tasya memiringkan tubuh untuk ikut melihat story itu. Dramanya boleh juga. Tapi masih aku pantau. Makin penasaran sama lanjutannya. "Yang dimaksud Tristan pasti kamu sama Duta." "Terus, gimana, dong?" Rindu gagal menutupi kekhwatirannya. Bagaimanpun, kehilangan channel yang dibesarkannya bertahun-tahun itu adalah mimpi buruk yang paling dia hindari. "Jalan satu-satunya kamu harus nikah sama Duta." "Ha?" Rindu memekik dengan bola mata yang nyaris keluar dari kelopaknya. *** [Bersambung]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN