Aku merasakan genggaman Kalandra menguat di tanganku saat Dokter River, atau yang baru kuketahui bernama River, berlalu, meninggalkan gema nama Vio dan kalimat tajam tentang asing menguap di udara. Kalandra tidak langsung bereaksi. Ia hanya berdiri kaku di tempat, rahangnya tegang, matanya mengikuti punggung River hingga menghilang di balik tikungan koridor. Ekspresinya penuh amarah yang ditahan dan kepahitan mendalam yang tak bisa ia sembunyikan. Aku tahu, ini adalah saatnya aku harus pergi. Statusku sudah dikonfirmasi bahwa aku adalah orang asing. Perlahan, aku mencoba melepaskan genggaman tangan Kalandra. Aku melakukannya selembut mungkin, karena aku tahu betapa rapuhnya ia saat ini. "Om," bisikku pelan, mencoba menyalurkan ketenangan yang tidak kumiliki. "Pergi lihat Alisa, ya.

