Suara bariton Kalandra memanggil namaku, terdengar sangat dekat dan sarat akan selidik. Aku tersentak hebat. Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat, aku melipat kertas itu asal, memasukkannya kembali ke dalam kotak bersama foto tadi, dan menyelipkan kotak itu ke bawah bantal tepat saat Kalandra melangkah keluar. Kalandra hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan dadanya yang bidang dengan sisa-sisa air yang mengalir turun. Dia berhenti melangkah, matanya yang tajam langsung mengunci sosokku yang sedang terduduk kaku di pinggir ranjang. Aku segera berbalik, mencoba mengatur ekspresi wajahku agar tidak terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah. Wajahku pasti pucat pasi sekarang. Kalandra menyipitkan mata, melangkah mendekat dengan aura dominan yang sek

