Aku menahan napas, mendorong pintu ICU. Ruangan itu terasa dingin, diselimuti aroma antiseptik yang tajam. Langkah kakiku serasa berat, membawa beban rasa bersalah yang tidak terlihat. Di dalam, Alisa sudah menungguku. Dia setengah duduk di ranjang, mengenakan baju pasien rumah sakit. Selang infus terpasang di pergelangan tangannya. Pemandangan itu menusuk, tapi yang membuatku terkejut adalah kondisinya. Tidak ada perban di kepala. Tidak ada memar yang terlihat. Wajahnya, meskipun pucat, tampak baik-baik saja. Aku berjalan lambat, mata terfokus pada Alisa. Wanita itu segera menghampiri ranjang. Dia memeluk putrinya erat, kelegaan yang murni terlihat jelas di matanya. "Sayang, kali ini orang yang kamu panggil sudah tiba," kata wanita itu, suaranya dipenuhi rasa ingin tahu. "Jadi apa

