IP-03

1625 Kata
"Rana … gimana keadaan Ayah?" tanya Rania khawatir. Rana yang sibuk dengan cat kukunya pun menatap Rania malas. Jika dilihat secara penampilan pun mereka sangat berbeda. Tidak perlu dijelaskan, karena semua orang tahu jika Rana hidup dengan harta. Sedangkan Rania yang hidup jauh dari kata harta. "Baik. Seperti yang kamu lihat!!" jawab Rana cuek. "Operasinya?" Rana menghela nafasnya berat, dia pun menutup botol kecil cat kukunya dan menatap Rania sekali lagi. Saudara kembarnya itu sangat cerewet, dan tidak bisa diam. Seharusnya tanpa bertanya dia tahu, jika ayahnya itu baik-baik saja. Operasinya berjalan dengan lancar, karena Rania pergi cukup lama bersama dengan Abrisam. Tapi tidak masalah yang penting Rana akan terbebas dari pria buta yang sama sekali tidak dia inginkan. Wanita itu bangkit dari duduknya dan memilih pergi. Dia juga sempat meninggalkan beberapa lembar uang, dan juga kontrak perjanjian kerja sama mereka. Jika Rana akan membiayai pengobatan Adhitama hingga sembuh. Dengan syarat jika Rania siap menikah dengan Abrisam. Selama itu juga Rana akan pergi keluar negeri, atau kemanapun asal tidak ada yang tahu, jika yang menikah dengan Abrisam bukanlah dirinya. Rania sendiri hanya mengangguk. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menyetujui perjanjian itu. Lagian yang sebanyak itu juga untuk pengobatan Adhitama, karena Rania sama sekali tidak ingin kehilangan Adhitama. Rana menghentikan langkahnya saat sampai di pintu ruang inap Adhitama. Membalikkan badannya menatap Rania yang sibuk mengusap tangan Adhitama dengan lembut. "Ingat!! Hapus tahi lalat kamu, waktu kalian mau nikah!! Jangan sampai Mama tau kalau yang nikah itu kamu bukan aku." ucap Rana dan pergi begitu saja. Tanpa menunggu jawaban Rania. Ya tahi lalat di bawah mata yang membedakan mereka berdua. Jika Rania memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kiri, sedangkan Rana tidak memiliki tahi lalat sama sekali di wajah. Tahi lalat itu bisa dilihat jika mereka cukup dekat. Jika berjauhan tentu saja tidak bisa, kecuali memang matanya begitu teliti. Hanya tersenyum tipis, Rania pun lebih fokus untuk mengurus Adhitama. Lagian ayahnya ini baru saja menjalani operasi, dan membutuhkan perawatan intensif. Rania juga tidak akan tega jika harus meninggalkan Adhitama saat ini. Masalah pekerjaan, sesuai dengan janji Rana. Wanita itu memilih keluar dari pekerjaannya. Kata Rana, pernikahan mereka hanya menghitung hari dan Rana meminta Rania untuk tidak bekerja. Selama sebelum pernikahan hidup Rania dan juga Adhitama yang memenuhi Rana. Sedangkan setelah menikah, tentu saja Rana langsung lepas tangan masalah hidup merekam lagian, Abrisam juga tidak akan diam saja kan? Dia pasti akan memenuhi kebutuhan Rania dan juga Adhitama setelah ini. "Ayah … maafin Rania ya. Rania harus mengambil jalan ini untuk pengobatan Ayah." mengusap air matanya dengan lembut, Rania mengambil tangan Adhimata dan mengecup punggung tangan itu. Berharap jika setelah sadar, Adhitama tidak akan marah atau kecewa dengan Rania. Jika bukan perkara kesehatan Adhitama, Rania juga tidak akan mau melakukan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus melakukan hal ini demi menyelamatkan nyawa ayahnya. Pintu ruangan ini dibuka begitu lebar, dan masuklah dua suster yang mengantar makan malam untuk ayahnya. Untung saja tadi sore Rania sudah makan soto bareng Abrisam. Tidak banyak yang mereka bicarakan, karena Rania lebih fokus untuk mendinginkan nasi soto milik Abrisam. Walaupun buta, nyatanya pria itu memiliki selera humor yang lumayan bisa membuat Rania terhibur. Dengan lembut Rania pun membangunkan Adhimata. Ini sudah waktunya jam makan malam, jangan sampai Adhitama telat makan dan penyakitnya kambuh. "Ayah … ayo bangun Yah. Waktunya makan, Ayah jangan tidur aja ya. Nanti Rania tinggal loh." kekeh Rania mencoba membangunkan Adhitama. Pria tua beruban itu membuka matanya secara perlahan, ketika sebuah tangan menyentuh tubuhnya dan sedikit menggoyangkannya. Sentuhan sekecil apapun Adhitama pasti akan bangun, jangankan sentuhan, semut berjalan di kakinya saja Adhitama kerasa. "Nah gitu dong Yah, bangun. Udah mau sembuh masa iya mau tidur terus." Adhitama tersenyum lemah. Dia pun dibantu Rania untuk memposisikan diri setengah duduk. Matanya masih saja ingin merem, karena obat bius yang masih dirasa oleh Adhitama. Tapi dia memiliki tekad untuk cepat sembuh, itu sebabnya ketika Rabia menyuapinya, Adhitama langsung membuka mulutnya kecil dan menyantap bubur hambar itu. "Rasanya tidak enak … " kata Adhitama dengan suara lirihnya. Rania tertawa kecil, "Nanti kalau sudah keluar dari rumah sakit. Rania janji sama Ayah untuk ngajak Ayah makan enak. Emangnya Ayah mau makan apa sih?" "Soto daging. Boleh ya?" Tentu saja boleh, apapun akan Rania belikan untuk Adhitama. Asal Ayahnya itu mau cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit ini. "Ayah … ada sesuatu yang pengen aku kasih tau ke Ayah. Tapi … Rania mohon ya, Ayah jangan marah. Rania tau kok Rania salah. Cuma … Rania terpaksa." kata Rania takut. "Ayah nggak marah, asal kamu ngomong jujur sama Ayah. Ada apa hmm?" Dengan sekuat hati Rania pun memberitahu apa yang terjadi tentang dirinya, Rana dan juga Abrisam. -IstriPengganti- Sebuah nomor ponsel tak dikenal menelpon Rania beberapa kali. Dia pun menatap nomor ponsel itu dengan aneh. Pasalnya nomor itu telah menelpon Rania sebanyak lima kali. Karena penasaran Rania pun langsung kembali menelpon nomor ponsel itu, siapa tahu saja ada yang penting sampai nomor itu menelponnya sebanyak lima kali. "Hallo … " sapa Rania ketika teleponnya tersambung. "Rana … ini aku Abrisam. Bisa kita ketemu? Aku ingin mengenal kamu jauh lebih dalam lagi." Rania menatap Adhitama dengan nanar, jika dia meninggalkan Adhitama lalu siapa yang akan menjaga ayahnya? Wanita itu hendak menolak, karena dia harus menjaga ayahnya. Tapi ketika melihat pintu rumah sakit di bila begitu lebar, dan masuklah Rana. Tentu saja Rania langsung mengatakan iya pada Abrisam. Dia bisa menemui Abrisam saat ini juga, dan meminta Abrisam untuk menyebutkan tempatnya. Masalah pernikahannya itu, Adhitama menolaknya. Dia tidak setuju jika Rania harus menggantikan posisi Rana. Tapi Rania mencoba membuat Adhitama mengerti, jika bukan karena Rana. Mungkin ayahnya itu tidak bisa di operasi. Bukannya berterima kasih, Adhitama harus memilih mati jika harus menatap putri kecilnya menderita. Memangnya menjadi istri pengganti itu enak? Tidak ada yang enak sama sekali, apalagi Rania menikah dengan orang buta. Walaupun kaya, tapi tetap saja Adhitama tidak suka. Itu tandanya Rania akan menjadi tulang punggung pria itu. Padahal Adhitama menginginkan menantu yang sempurna, yang bisa menjaga dan juga melindungi Rania. Bisa membuat Putri kecilnya itu bahagia lahir dan batin. Namun … hal itu harus ditelan mentah-mentah oleh Adhitama ketika mendengar ciri-ciri pria yang akan menikah dengannya. Tapi tidak masalah, jika Rania mampu menjalani hidupnya dengan baik. Apapun keputusan wanita itu Adhitama akan mendukungnya. "Rana titip Ayah ya. Aku harus nemuin Abrisam dulu." kata Rania. "Hmm, cepet!!" Rania mengangguk kecil, dia akan cepat menyelesaikan tugasnya untuk bertemu dengan Abrisam. Setelah itu kembali ke rumah sakit dan menjaga Ayahnya. Mengendarai taksi online, Rania pun duduk dengan gugup. Rana tidak mengatakan apapun pada Rania untuk apa Abrisam mengajaknya bertemu. Dia hanya takut salah bicara, dan membuat Abrisam menyadari jika yang menikah dengan dirinya bukanlah Rana melainkan Rabia. Membutuhkan waktu lima belas menit, Rania pun sampai di sebuah cafe pinggiran kota. Wanita itu segera masuk dan mencari keberadaan Abrisam, yang ternyata duduk di kursi seorang diri. Ah tidak!! Disana juga ada Bagas hanya saja jarak duduk mereka cukup jauh. Jadi Bagas itu cuma mengawasi Abrisam saja, tidak membutuhkan seauatu kata Abrisam. Pria itu hanya perlu mengangkat jari kelingkingnya, dan Bagas akan tahu apa yang diinginkan Abrisam. "Mas Abri maaf terlambat, tadi agak macet." kata Rania ketika sampai di depan Abrisam. Pria itu mengangkat satu tangannya untuk mencari keberadaan Rania. Tentu saja Rania langsung mengulurkan tangannya ke arah Abrisam, dan duduk di depan pria itu. "Maaf ya Mas." "Nggak papa kok. Aku juga baru datang tadi." jawab Abrisam. Dengan mengangguk kecil, Rania pun menggulung rambutnya. Toh, Abrisam juga tidak akan tahu apa yang dilakukan Rania. Dan pria itu juga tidak akan tahu, apa yang dipakai oleh Rania. Baju lusuh miliknya, yang menurut Rania sangat bagus. "Mas Abri udah pesen sesuatu?" Abrisam menggeleng. Dia belum memesan apapun sejak dia datang. Karena Abrisam tengah menunggu Rania dalam lebih dulu, barulah Abrisam baru memesan makan. Lagian Abrisam juga tidak tahu, makanan kesukaan Rania. Itu sebabnya dia lebih baik menunggu Rania datang daripada salah memesan makanan. "Kalau aku orangnya nggak suka makanan yang terlalu pedas. Kalau Mas Abri sukanya apa?" ucap Rania dan mengembalikan buku menu, ketika sudah memesan sesuatu. "Aku … apapun aku makan. Aku suka semua makanan, kecuali yang berbau santan." Rania memesan beberapa menu makanan, yang tidak bersantan dan juga pedas. Selama menunggu, Rania juga sesekali membenarkan cepolan rambutnya yang sedikit berantakan. "Mas Abri kenapa sih ngajakin aku ke sini? Kayaknya nggak cuma buat kenalan aja kan?" tanya Rania. Sejak berangkat dari rumah sakit, itu yang dia pikirkan di dalam otaknya. Jika Abrisam tidak mungkin mengajak Rania bertemu, hanya untuk berkenalan saja. Sedangkan sejauh ini hubungan yang dilandasi kebohongan, berjalan begitu lancar sesuai kemauan Rana. Abrisam sendiri langsung menggunakan jari kelingkingnya, sehingga membuat Bagas segera datang dengan banyak kotak di tangannya. Tentu saja hal itu langsung membuat Rania bingung seketika. "Aku ngajakin kamu kesini, buat ukur cincin pernikahan kita. Aku nggak tau ukuran jari kamu, dan juga model apa yang kamu suka. Makanya aku minta kamu datang, buat nentuin pilihan cincin pernikahan kita. Kamu tahu sendiri kan kalau aku … " "Iya aku tahu." sela Rania cepat sebelum Abrisam melanjutkan ucapannya. Dia tidak ingin mendengar apapun, tentang Abrisam dan segala kekurangannya. Jika Rania sudah menyetujui apa yang dia mulai, maka dia akan menerima apapun konsekuensinya dan juga keadaannya. "Iya kamu pilih ya, sesuai kesukaan kamu aja." Rania tersenyum kecil, dia pun menatap banyak model cincin di hadapannya. Terlihat sangat mewah, mahal dan elegan. Sayangnya, pilihan Rania jatuh pada satu cincin berwarna putih dengan lempengan yang tidak begitu besar, cincin yang memiliki satu mata biru yang terlihat sangat cantik. Cincin yang paling sederhana diantara banyak cincin. Dengan senyum manisnya, Rania menatap cincin itu dengan memuja. "Aku pilih ini. Cincinnya cantik, ada warna birunya." ucap Rania mengusap permata cincinnya. Biru adalah warna kesukaan Rania. Yang baginya, apapun masalahnya, apapun rintangannya, selalu ada cahaya terang di setiap langkahnya. -To Be Continued-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN