Layla mengusap sudut matanya yang menitikan air. Ia menghembuskan nafas lelah, ia kembali mengingat momen kebersamaannya dengan sang suami. Teringat ketika Raihan, suaminya berjuang agar Layla tidak putus kuliah, meskipun pada akhirnya Layla sendiri yang memilih menyerah karena keputusannya untuk menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya. Saat itu, Layla bisa melihat binar kekecewaan yang mendalam di mata Raihan. Namun Layla sudah yakin dengan keputusannya. Ia tidak akan melanjutkan kuliahnya lagi karena ada buah hati yang menginginkan kehadiran dan kasih sayang dirinya seutuhnya, meskipun ada hal lain yang menjadi alasan utamanya. Di samping kekecewaannya, Raihan lagsung mendatangi Uminya dengan kemarahan yang teramat jelas. Ia bahkan menaikkan nada suaranya karena tak tahan lagi dengan

