Satu bulan kemudian.
Di pagi hari yang cerah, Layla sudah disibukkan dengan kegiatan membuat kue. Di samping itu, hari ini ia yang mengurus semua keperluan dapur dikarenakan sang ibu tengah sakit. Dan kini, Layla keluar dari rumahnya menuju gerobak sayur yang berhenti di depan rumahnya. Terlihat sayuran hijau yang masih segar berkilauan terkena sinar matahari pagi membuat Layla tergiur untuk memasak semua sayuran segar itu.
Tak lama kemudian, segerombolan ibu-ibu ikut menghampiri gerobak sayur dan mulai memilih-milih belanjaan mereka.
Seperti biasa, mereka memilih sambil berbincang-bincang dan bercanda, namun Layla hanya diam dan sesekali mendengarkan.
"Seger banget ya terongnya, mana gede-gede." Sahut seorang perempuan paruh baya yang wajahnya tebal akan riasan make up. Bibirnya yang merah menyala terkikik geli seraya memperlihatkan terong ungu yang berukuran besar dan panjang itu ke arah ibu-ibu di sampingnya.
Layla sendiri tengah memilih-milih sayuran di seberangnya. Janda muda itu masih kebingungan dan tengah berpikir akan masakan apa yang hendak ia masak nanti. "Nih Layla terongnya, kamu pasti suka kan..." ujar Bu Nelly, perempuan tadi seraya melambai-lambai terong itu di atas. Layla menoleh sejenak dan tersenyum tipis seraya menggeleng.
"Suka lah mana besar-besar ya..." Timpal ibu-ibu lainnya.
Layla pun akhirnya menjawab, "Gak bu, lagi gak pengen makan terong."
"Masa gak pengen... Kamu gak kangen makan terong emang?" tanya Bu Nelly sambil cekikikan.
Layla yang terlampau serius, menanggapinya dengan gelengan kepala. Dirinya memang tidak sedang ingin memasak terong.
"Dari tadi pilih-pilih terus, gak lihat apa yang lain juga pada mau beli?" tanya seorang ibu-ibu dengan gamis besarnya, menatap Layla dengan tatapan sinis dan mulut mencibir.
"Yang lain juga lagi pilih-pilih kan bu?" timpal Layla menghentikan tangannya yang hendak meraih sebungkus tomat.
"Saya beli iga aja 2 bungkus, tomat, bombay, sama telur puyuh masing-masing satu bungkus, pak." ujar Layla sembari menyerahkan belanjaannya secara asal ke arah tukang sayur untuk dihitung.
"Banyak duitnya ya, Layl? Dari kemari aja beli paket terus!" tanya Nelly yang memiliki alis hitam tebal. Ia menatap belanjaann Layla yang lumayan wah. Ia sendiri sedang kebingungan hendak membeli apa dengan uang lima belas ribu-nya.
Bu Erni, yang memakai hijab kebesaran itu menatap Layla semakin mencibir, "Masa? Dia kan lagi usaha bikin bolu, wajar kan dia punya penghasilan. Mau beli apa aja terserah dia." sahutnya menggebu-gebu, nampak suara akan ketidaksukaannya.
"Halahh... Pesanan baru sedikit aja sok pamer beli ini itu!" Timpal Bu Tiwi, pensiunan PNS yang baru saja menghampiri gerobak tukang sayur.
"Hush... Pak Usman kan baru jual tanah, wajar aja lagi banyak uang " bisik ibu-ibu lainnya kepada Bu Tiwi, namun masih terdengar di telinga Layla.
Layla sendiri mengetuk-ngetukkan jarinya di pinggiran gerobak menunggu belanjaannya selesai dihitung. Berharap tukang sayur yang sudah sepuh itu segera menyelesaikan hitungannya.
"Eh Layla, tanah yang di Legok emang udah ke jual ya?" tanya Bu Tiwi kepada Layla yang seakan ketinggalan berita penting.
"Iya bu Alhamdulillah. Saya duluan ya, bu ibu." jawab Layla segera setelah belanjaannya dibayar. Ia lantas pergi meninggalkan kerumunan ibu-ibu yang semakin riuh membicarakan dirinya, atau hal lainnya.
Layla menghembuskan nafas jengah, menaruh kresek belanjaannya ke atas meja makan lalu mengambil segelas air. Berinteraksi dengan ibu-ibu tetangga rumahnya memang selalu membuatnya selalu mengucapkan istigfar dalam hati.
Memang benar apa kata ibunya, kalau belanja di pasar lebih enak ketimbang belanja di tukang sayur keliling depan rumahnya. Meskipun jarak rumah ke pasar lumayan hauh, namun harga jual di pasar lebih murah dan tentunya tak perlu berbasa basi apalagi mendengar gibahan serta sindiran tetangga yang tak menyukainya.
Namun Fatma yang hari ini terserang flu membuat ia tak bisa beranjak dari kasurnya. Alhasil, Layla sendiri yang keluar untuk membeli bahan untuk masakan. Layla sendiri tak ingin pergi ke pasar karena sedari subuh tadi ia sudah mulai membuat adonan bolunya. Dan tak mungkin meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
Layla tak ingin terlalu memikirkan ucapan-ucapan tetangganya itu, lebih baik ia segera memasak sembari menunggu bolu panggangnya matang. Hari ini Layla memasak sop iga yang baru saja dibeli.
Ibra sendiri sedang dibawa Usman bermain ke anak sepupunya yang tak jauh dari komplek rumahnya. Dan Layla bisa sedikit tenang karena ada sang ayah yang mengasuh anaknya.
30 menit kemudian, Layla yang telah menyelesaikan masakannya menerima panggilan telepon dari Yasmin. Layla pun mengangkat panggilan itu segera. Terdengar sapaan hangat dari Yasmin, sang kakak ipar.
"Wa'alaikumsalam, Mbak. Ada apa ya?" tanya Layla ramah.
"Layla, maaf ya sore kemarin mbak gak bisa temuin kamu, soalnya mbak ke klinik periksa Adnan yang lagi demam."
Seketika Layla kembali teringat kejadian kemarin sore dimana ia sedang mengantar kue pesanan kakak iparnya.
Waktu itu, ibu mertuanya-lah yang menerima pesanan Yasmin, wajahnya nampak muram. Tidak ada uluran tangan, atau pelukan terbuka bagi dirinya. Dirinya seperti orang asing yang tak dikenal.
"Iya mbak, gak papa. Lagi pula ada Umi yang terima bolu-nya. Sekarang gimana keadaan Adnan, mbak?"
"Demamnya sudah reda, cuma masih agak lemes karena dari kemarin muntah terus "
"Semoga cepat sembuh buat Adnan, ya mbak."
"Aamiin, makasih do'anya Layl. Ngomong-ngomong, bolu-nya enak, Layl. Kemarin Umi Sarah juga coba, enak katamya. Nanti mbak pesan buat tasyakuran walimatul ursy Zihan, ya... Mbak juga minta maaf acara pernikahannya gak bisa diundur lagi." ucap Yasmin tak enak hati.
Pernikahan adik perempuannya bersama anak dari salah satu dewan guru di yayasan milik keluarga suaminya sudah ditentukan tanggal pernikahannya jauh-jauh hari, dan Yasmin tak bisa mengubah waktu acara tersebut meskipun keluarga sang suami masih berduka. Abi Hasan, sang pimpinan yayasan sekaligus ayah dari almarhum Raihan juga sudah memaklumi dan mengizinkan acara tersebut tetap dilaksanakan sesuai jadwalnya.
Dan Yasmin berharap, Layla yang baru saja mengalami musibah beserta keluarga suaminya dapat berlapang d**a dan ikut bahagia dalam acara pernikahan adiknya nanti.
"Gak papa, mbak. Lagi pula kan acaranya sudah ditentukan dari jauh-jauh hari, sebelum musibah itu datang. Layla berdo'a semoga acaranya lancar tidak ada hambatan apapun." jawab Layla sembari menuturkan harapannya untuk calon pengantin.
"Iya, kalau ada waktu, kamu nanti datang ke rumah Umi ya, ikut kumpul-kumpul. Kamu ikut sama mbak aja." Ajak Yasmin lembut, Layla membayangkan wajah teduh Yasmin yang tengah tersenyum. Layla tersenyum tipis, Yasmin adalah orang yang selalu peduli padanya disaat orang-orang di yayasan selalu mengacuhkannya.
Yasmin sendiri adalah anak dari salah satu kiayi ternama di kotanya. Ia juga merupakan kakak tingkatnya sewaktu di pesantren, jadi ia tak terlalu asing dengan Yasmin dan bisa akrab layaknya kakak dan adik.
Layla kadang mengeluh jika perasaannya sedang sensitif. Keluarga suaminya suka menyanjung Yasmin di depan orang-orang. Melihat dari latar belakang dan juga paras serta sikapnya yang lemah lembut membuat Firda begitu menyayangi menantu kesayangannya itu, hal itu kadang memicu rasa iri di hati Layla.
Namun Layla harus bersabar karena dirinya bukan Yasmin yang bisa dibanggakan.
"Iya mbak, makasih sudah ajak Layla. Insyaalloh Layla akan datang." jawab Layla senang. Setidaknya ada Yasmin yang masih mau menerimanya sebagai keluarga.
"Mbak tunggu ya, nanti mbak hitung dulu pesan bolu-nya berapa, soalnya mau diskusi dulu sama Umi."
"Kalau begitu mbak tutup dulu teleponnya, mau ke rumah Umi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Layla menyimpan ponselnya ke atas meja bersamaan dengan datangny Fatma yang menghampiri.
"Siapa yang telepon, Layl?" tanya Fatma penasaran. Dilihatnya sang anak yang tersenyum sumringah setelah menjawab telepon.
"Mbak Yasmin. Sudah mendingan, bu?" tanya Layla sembari memapah Fatma lalu mendudukannya di atas kursi.
"Bicara apa?" tanya Fatma masih ingin tahu. Baru kali ini ada orang yang menelepon anaknya dari pihak keluarga suaminya. Dalam hati, Fatma selalu merasa kasihan melihat Layla yang abaikan oleh keluarga almarhum suaminya semenjak ia kembali pulang ke rumahnya.
"Bicara biasa aja, bu. Tadi mbak Yasmin katanya mau pesan bolu buat acara syukuran pernikahan Zihan."
"Alhamdulillah kalau gitu. Kalau ada waktu, kamu datang ke rumah Umi Sarah, bantu tenaga sedikit-sedikit." saran Fatma yang langsung dianggukki Layla.
"Iya bu, tadi mbak Yasmin juga sudah ajak Layla."
Setelah itu, Fatma bangkit dari duduknya, "Ibu mau ke kamar mandi dulu." Beritahunya kemudian.
"Hati-hati, bu."