"Ma-ma. Ayo, bilang Ma-ma." "Ma ...." "Ma-ma." "Mm-ma." "Dua kali bilangnya, Boy. Ma-ma, gitu. Coba sekali lagi. Mama. Ayo, bilang mama. Ma-ma." "Mm ... Papa." "Kok, Papa, sih. Mama. Ma ... ma." "Papa!" Boy berteriak, turun dari dipan. "Assalamualaikum, Boy," sapaku. Sontak saja Boy berlari sambil bertepuk tangan. "Papa, tutu!" Boy menunjuk ke arah rumah. "Apa? Mau pulang?" tanyaku. "Tu ... tu." Boy masih menunjuk ke arah rumah. "Ya udah, ayo pulang." Akhirnya aku menggendong tubuh Boy. "Abang James, kapan pulang?" Sari bertanya dengan raut wajah gugup. "Baru aja," sahutku. "Makasih ya, Neng. Abang pulang dulu kalau gitu. Oh, iya. Lupa. Ada sesuatu yang mau Abang kasih buat Neng." Aku merogoh sesuatu dari saku celana. "Ini. Memang enggak seberapa, tapi ... anggap aja sebagai

