"Bener ini rumahnya, James?" tanya Faris ketika aku menghentikan motor di depan sebuah rumah dua lantai dengan disain minimalis berwarna putih, dan pagar besi hitam yang mengelilinginya. "Alamatnya sih, bener ini, Ris," sahutku. Lalu aku merogoh kartu nama di saku kemeja. Memastikan kembali. "Bener, ini. Tuh, nomornya sama. Dua dua lima. Iya, 'kan?" Kuperlihatkan kartu persegi itu padanya, lalu menunjuk nomor pada tembok pagar. "Oh, iya bener." Faris yang duduk di belakangku menyahut. "Gue turun, yak!" ucapku seraya melepas helm. Eh, Faris malah ikut turun. Hahaha. Pasalnya aku yang membawa motor. "Trus gue gimana?" lirih Faris. "Ya, lo pulang," sahutku. "Gue 'kan juga pengen ketemu Boy, James," ucapnya lagi dengan raut sendu. "Ya, entar juga Boy ada ke rumah gue. Udah, sono balik.

