Adnan kesulitan memejamkan matanya. Entah kenapa Adnan perasaan Adnan sedari tadi tidak tenang. Pria dengan boxer pororo dan kaus oblong itu sudah mondar-mandir di dalam kamar seperti setrikaan. Naik turun tangga hampir sepuluh kali. Mengelap guci-guci mahal Aileena beberapa kali tapi Adnan belum juga merasa lelah. Matanya bahkan terbuka semakin lebar. “Gue kenapa sih?!” seru Adnan. Pria itu mengack-acak rambutnya dengan kasar dan duduk di tengah-tengan tangga. Adnan melirik jam mewah yang ada di dinding pukul 00.00. Adnan mengerdik ngeri tapi dia tidak berniat sedikitpun beranjak dari tangga. “Otak gue kenapa sih? Kenapa lo pake mikir segala si tong!” seru Adnan. Dia menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut. Adnan memilih menuruni satu persatu anak tangga. Saat dia akan be

