Perjalanan Dinas

1651 Kata
Kini mereka bertiga telah duduk di tempat masing masing, seorang pelayan restoran tampak mencatat pesanan mereka. Ini memang pertemuan bisnis, namun mereka selingi dengan makan siang bersama agar dapat terciptanya kerja sama yang lebih akrab dari kedua belah pihak. Setelah memesan makanan mereka segera melanjutkan pembicaraan tentang pembangunan gedung yang sedang di kerjakan oleh pihak Carol dan Rico, terkait dengan permintaan yang Kaleid ajukan tempo hari. "Baiklah Mr. Kaleid besok kita akan melakukan perjalanan dinas ke tempat pembangunan untuk melakukan peletakan pilar pertama, aku dan Carol akan mendampingi tim kami yang akan melakukan pembangunan ini" Rico menjelaskan bahwa dia dan juga Carol akan mendampingi Kaleid menuju tempat pembangunan gedung nya "Oh terima kasih tuan Rico, aku senang mendengar nya. Untuk itu aku akan menanggung semua akomodasi kalian selama di sana" Ucap Kaleid begitu senang mendengar bahwa Carol akan ikut melakukan perjalanan ke tempat dimana akan di bangun gedung milik nya itu. "Tidak perlu Mr. Kaleid, kami akan menggunakan biaya perjalan dinas kami yang di siapkan perusahaan" Rico berujar demikian karena memang mereka telah di siapkan dana perjalana jika di butuhkan, sehingga tak perlu memikirkan dana akomodasi. "Tidak apa apa tuan Rico, aku sungguh berterima kasih atas bantuan kalian yang mengerti sekali dengan apa yang aku inginkan dalam membangun gedung yang sempurna untukku. Jangan merasa sungkan, aku akan meminta asistenku untuk menyiapkan segalanya untuk mu dan juga nona Carol" Kaleid menyunggingkan senyuman yang begitu menawan hingga dapat membuat para wanita mabuk oleh senyumannya kini. Carol yang memandang pun sejenak terpana, namun dengan cepat dia menggeleng. "Oh, baiklah Mr. Kaleid jika ini tak merepotkan mu. Terima kasih" Rico pun tak mau membantah lagi, karena memang tampaknya Kaleid juga sangat menyukai hasil dan puas terhadap desain bangunan yang mereka kerjakan. Menurutnya ini adalah desain terbaik yang dia lihat, karena sudah beberapa kali meminta di buatkan desain bangunan oleh beberapa perusahaan namun inilah yang paling membuatnya terkesan. Desain tersebut adalah desain dari Carol dan juga Rico yang memeriksa hasilnya, jadi dia pun semakin mengagumi Carol yang begitu profesional dalam pekerjaannya itu. "Tentu ini tidak merepotkan, aku sungguh puas dengan hasil desain kalian. Ini akan menjadi kerja sama yang menyenangkan bukan?" Kaleid meyakinkan Rico bahwa dia tak keberatan menyiapkan akomodasi nya dan juga Carol. Mereka tampak tersenyum senang dan tak lama makanan yang mereka pesan pun datang. Mereka makan dengan di selipi obrolan ringan dan candaan yang di lontarkan oleh Kaleid maupun Rico, Carol yang tertawa saat kedua nya beradu kata dan saling menggoda. Sungguh Kaleid tampak bisa menyesuaikan diri dengan kedua orang tersebut, hingga asistennya pun menggelengkan kepala dan menatap aneh kepada sang tuan. Setahu dirinya tuan yang sudah bertahun tahun dia layani ini adalah orang yang cukup sulit berteman seseorang, bahkan dia di juluki CEO sombong oleh beberapa perusahaan yang pernah bekerja sama dengan nya 'Aku seperti melihat orang lain dalam diri tuan saat ini, apa sesungguhnya seperti inilah dia. Sungguh menyenangkan bisa melihat senyuman dan tawanya bersama rekan kerjanya kali ini' Kaleid merasa ada yang memperhatikannya, di pun menatap balik ke arah asistennya yang langsung gelagapan. Secepat itu juga Kaleid merubah sikapnya dengan sedikit berdehem dan merapihkan pakaiannya serta memasang wajah nya agar tampak seperti biasanya. Selesai melakukan pertemuan dan makan siang mereka kali ini, Rico dan Carol pun pamit untuk kembali ke kantor mereka. Namun sesekali Kaleid masih bertanya hal kecil kepada Carol yang sebenarnya tidak begitu penting, dan menurut Rico itu hanya alasan Kaleid saja agar mereka tak cepat berpisah. Kelakuan Kaleid pun mengundang senyum dari asisten nya dan juga Rico yang memang sengaja tak acuh, tak lama lift yang mereka gunakan sudah sampai di lantai bawah dan sekarang Rico dan Carol berjalan ke arah lobi hotel di iringi Kaleid dan juga sang asisten. "Baiklah Mr.Kaleid kami permisi dulu, sampai jumpa besok di tempat pembangunan" "Sampai jumpa tuan Rico, hati hati di jalan" sahut Kaleid "Terima kasih untuk makan siang nya Mr, sampai jumpa" Carol tersenyum kepada Kaleid, demikian juga dengan Kaleid memberi senyum menawan nya kepada Carol Rico dan Carol berjalan ke arah mobil mereka, dimana sudah di siapkan oleh petugas yang memarkirkan mobil mereka tadi. tak lama mobil mereka pun sudah berada di jalan raya, Kaleid tadi berdiri di depan lobi hotel kini berbalik untuk kembali kekamar nya karena mobil yang membawa orang yang menarik perhatiannya sudah tak tampak lagi. ***** Carol pulang terlebih dahulu ke rumah, karena dia merasa sedikit lelah mungkin karena semalam dia kurang tidur yang di sebabkan oleh datang nya masalah dalam rumah tangga nya dan juga Mike. Melihat rumah yang masih kosong dan juga mobil Mike yang belum juga terparkir di halaman rumah, membuat Carol yakin bahwa suaminya belum juga pulang. Tak mau berlama lama lagi, Carol segera kekamar yang dulu dia dan suaminya tempati untuk mengambil sebagian baju nya dan segera di pindah kan ke kamar tamu membawa serta tas berukuran cukup besar bersamanya mengingat besok dia harus melakukan perjalanan dinas dengan Rico sang direktur. Setelah memindahkan barang barang pribadinya, dia segera membersihkan diri dan beristirahat karena waktu sudah beranjak malam kelelahannya pun makin terasa. Selesai mandi dan keluar dari kamar mandi Carol mendengar suara mobil di bawah, dia yakin itu adalah suara mobil Mike yang sedang memarkirkan mobilnya. Carol memilih mengunci pintu kamar nya dan segera mematikan lampu ruangan nya, berpura pura sudah tertidur dia hanya diam menunggu ketukan di pintu kamar yang di yakini nya Mike akan mencarinya lagi di sini jika tak menemukan Carol di kamar mereka. Benar saja, sekarang ini sudah terdengar ketukan dari luar pintu dan suara Mike juga mengiringi ketukan tersebut. Namun Carol masih belum bisa bertemu dan bertatap muka dengan suaminya, maka dia memilih untuk tak membuka pintunya. Mike tak mau tahu dia terus mengetuk dan meminta Carol untuk membuka pintu kamarnya. "Carol aku tahu kau ada di dalam sana, tolong buka pintunya kita harus bicara" tak ada sahutan juga, Mike kembali mengetuk pintu "Sayang, tolong dengarkan aku, aku sungguh tak sadar dan aku tak tahu apa yang kulakukan. Tolong percayalah padaku, aku tak bisa tenang jika kau terus mendiamkanku. Bicaralah padaku, marah lah padaku, pukul diriku jika semua itu bisa meredam kemarahanmu sayang... jangan mendiamkan ku seperti ini, aku sungguh tak sanggup.." perkataan Mike kian melemah dan terdengar berat di telinga Carol, namun tak juga membuat Carol membuka pintu untuk Mike. Dia hanya menahan rintihan tangisan nya agar tak sampai di dengar oleh Mike, Carol menangis dalam diam dan gelap nya kamar tersebut. Dia merasakan sakit yang sama dengan Mike, namun dia juga belum bisa menemui Mike dia tak sanggup melihat suaminya karena dia akan teringat malam saat dia menemukan Mike tidur dengan wanita lain rasanya sungguh menyakitkan. Mike yang kelelahan mengetuk pintu kamar dimana Carol berada tertidur di depan pintu hingga tengah malam dia baru tersadar, dan melihat pintu yang masih juga tertutup dia pun berdiri dan berjalan dengan gontai ke arah kamar nya. Sangking kelelahannya diapun tak lagi berpikir untuk mengganti pakaian atau membersihkan diri nya, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Di waktu yang sama di kamar lain Carol sudah tertidur dengan lelap, dia tertidur dalam tangis nya. Sisa sisa air matanya masih terlihat jelas di kedua sudut matanya, menyakitkan memang bagi keduanya. Namun Carol belum bisa bertemu Mike, dia selalu memikirkan wanita yang di tiduri oleh Mike. Bagaimana jika semua benar terjadi, bagaimana jika Jeniver hamil anak Mike. Dia tak mampu membayangkan semua itu terus menerus hingga dia terlelap dalam pikirannya yang kacau. Carol sudah selesai bersiap, Rico mengatakan akan menjemput Carol pagi pagi sekali. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 4.30, Carol berjalan ke bawah dengan membawa tas ransel yang cukup besar di belakangnya. Dia tak tahu sampai berapa lama dia dan Rico pergi menjalan kan pekerjaan di luat kota, saat hendak menuruni tangga melewati depan kamar mereka, Carol melihat sejenak ke pintu kamar memegang gagang pintu dan hendak membukanya. Namun dia kembali menggeleng dan berjalan melewati nya. Tadinya dia ingin berpamitan kepada Mike, tapi dia urungkan dan dia akan memberi tahunya saat di perjalanan dengan mengirim kan pesan saja. Rico sampai di depan rumah Carol, wanita yang di jemputnya ternyata sudah siap di teras rumahnya. Rico berjalan ke halaman rumah dan membantu Carol memasukkan tas nya ke dalam mobil, dia menoleh ke arah pintu rumah dan mendapati pintu tertutup dan tak ada sosok Mike di sana. Rico berpendapat bahwa pasangan sahabatnya ini belum juga berbaikan, dia tak ingin membahasnya sekarang karena berfikir dapat membuat Carol merasa tak nyamandan dia memilih diam. Dalam perjalanan Carol tampak diam, dia memegang ponselnya dan tampak sedang berfikir keras. Sesekali dia mengetikkan sesuatu di sana, tapi Rico tak tahu apa yang di tuliskan nya. "Mike.... aku pergi perjalanan dinas keluar kota hari ini dan belum tahu kapan akan pulang, jangan mencariku dan kau juga tak perlu khawatir kan aku. Dengan begitu aku juga bisa menenangkan diri, mungkin saat pulang dari luar kota nanti kita bisa membicarakan masalah kemarin lagi. Sampai jumpa lagi Mike, jaga kesehatanmu makanlah tepat waktu" bunyi dari pesan yang cukup lama Carol tuliskan dan beberapa kali mengganti nya, dan kini pesan tersebut telah di kirim ke penerimanya yang tak lain adalah Mike, suaminya. Carol mengunci ponselnya dan menyimpan nya di dalam tas tangan yang biasa di bawa kerja olehnya, dia menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil dan memejamkan mata. "Tidur lah Carol, perjalanan kita masih jauh" suara Rico terdengar di kesunyian dalam perjalanan mereka "Aku tahu pak Rico, ini juga aku mau tidur jangan mengganggu ku" ucap Carol santai, memang saat di luar kantor mereka akan berbincang santai tanpa ada batasan antara atasan dan bawahan. "Bagus istirahat yang cukup, dan gantikan aku menyetir nanti saat aku merasa lelah. Hahaha..." tawa Rico terdengar membuat Carol membuka mata dan meliriknya tajam "Sudah ku duga, kau tak akan sebaik ini" memutar kedua bola matanya dan keduanya pun tersenyum, Rico memang menjadi sosok kakak yang bisa membawa energi positif kepada Carol saat dia memiliki masalah dan membuat Carol bernafas lega. Selain kedua orang tua nya dia juga memiliki seseorang seperti Rico yang menjaganya layaknya kakak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN