"Apa kau tidak akan bertanggung jawab padanya, bila terbukti benar kau melakukan sesuatu padanya apa kau akan menyangkalnya juga?" Menarik lengan Mike untuk melihat ke arah nya, dia pun memandang anaknya penuh selidik
"Aku tidak tahu mom, aku tak bisa.." Perkataan nya tertahan ketika ibunya menyela
"Ibu tidak akan membiarkanmu begitu saja Mike, mom tak akan biarkan itu. Dia adalah anak dari sahabat daddy mu sayang, bagaimana kau bisa menghancurkan hidupnya dan membiarkan nya terpuruk sendiri?" Memegangi ke dua bahu Mike dan mengguncangnya perlahan, dia tak akan pernah melepaskan kesempatan ini. Rencananya untuk memisahkan anaknya dan Carol sudah hampir berhasil, dia pun ingin lebih meyakinkan anaknya untuk bertanggung jawab.
"Apa yang harus aku lakukan mom, aku sungguh mencintai Carol dan aku tak ingin berpisah dengannya. Jika benar aku melakukan sesuatu terhadap Jeniver, mungkin dia tak akan pernah memaafkan ku mom" Mike tampak kuasa menahan sedih tak tahu harus bagaimana mengatasi masalahnya kini.
"Dengar kan mom, untuk saat ini kita harus melihat nya nak. Mom takut dia akan melakukan hal buruk pada dirinya, jadi ikutlah dengan mom pergi melihatnya nanti, ok" Mengelus perlahan bahu sang anak berharap dapat menenangkannya, sehingga mau di ajak pergi melihat gadis malang yang telah di jebak oleh sang ibu.
"Baiklah mom, aku akan pergi bersamamu nanti" Menganggukkan kepalanya lemah menyetujui ajakan sang ibu untuk pergi bersama nya kerumah paman Louis, Mike berencana untuk memperjelas semua nya kepada Jeniver tentang masalah di hotel yang masih terus mengganggu fikirannya sampai saat ini.
Kemudian ibu Mike tersenyum penuh arti tanpa di sadari oleh Mike, kini rencana nya berjalan dengan lancar untuk memisahkan Mike dan Carol. Lalu dia pun berpamitan meninggalkan Mike yang kini duduk di kursi meja makan hanya sendiri, entah memikirkan apa yang jelas kini dia tak berada dalam situasi yang baik. Akhirnya dia pun memilih untuk berangkat ke kantor, karena memang sudah banyak kerjaan yang terbengkalai akibat dari nya yang tak bisa fokus untuk bekerja.
*****
Di kediaman paman Louis, nyonya Hera sedang mengetuk pintu kamar anaknya Jeniver untuk mengajak nya turun kebawah dan sarapan bersama. Karena selama dua hari ini Jeniver selalu di antar kan makanan ke atas, dia beralasan karena kurang enak badan. Namun ketika di minta untuk pergi ke dokter dia hanya mengatakan sakit biasa dan tak perlu pergi ke dokter, tetapi tetap saja hati seorang ibu pasti tahu bahwa anaknya sedang ada masalah. Setahu dirinya, anaknya berubah setelah malam dimana dia minta ijin keluar bersama teman nya dan pulang cukup larut dan dia pun tak tahu jam berapa tepatnya Jeniver pulang ke rumah.
"Jen, buka pintu nya nak.. Ayo kita makan malam bersama nak, sudah dua hari ini kau makan sendirian di kamar mu" Pinta nyonya Hera kepada sang putri, namun masih tak ada sahutan dari dalam kamar putrinya itu.
"Bukalah pintu nya Jen, ada apa dengan mu nak? Jangan membuat momy takut sayang, ayolah buka pintunya nak.." Mata nyonya Hera sudah berkaca kaca saat mengucapkan kalimat nya, sesaat masih belum ada balasan dari Jeniver. Saat nyonya Hera hendak melangkah pergi terdengar suara pintu terbuka, dan Jeniver tampak berdiri di belakang pintu menahan agar pintu tak terbuka sempurna.
"Oh sayang ku.. Akhirnya kau membuka pintunya nak, kenapa kau pucat sekali sayang? Apa yang terjadi sebenarnya nak?" Nyonya Hera mencecar anaknya yang kini nampak pucat pasi, dengan mata sembab dan tampak menyedihkan. Sungguh hati nyonya Hera teriris melihat tampilan anaknya yang dulu ceria,
Bukan jawaban yang di dapat dari sang anak, namun pelukan lemah tak bertenaga. Jeniver bagai terkulai lemas di dalam pelukan ibunya sehingga menimbulkan kepanikan seketika dari nyonya Hera.
"Jen ada apa dengan mu nak, Mira cepat kemari tolong bantu aku..cepatlah mira..." suara nyonya Hera terdengar begitu lantang di dalam kediaman tuan Louis yang masih sepi, tuan Louis sudah berangkat ke kantor tadi saat ibu Jeniver datang ke kamar Jeniver.
Dengan tergesa gesa asisten rumah tangganya berlari menghampirinya "Mira bantu aku bawa dia ke atas kasur" memberi perintah dengan cepat karena saat ini tubuh Jeniver sudah terkulai lemas, nyonya Hera sudah tidak kuat menahan tubuh Jeniver. Asisten rumah tangga nya pun segera membantu nyonya Hera untuk memindahkan Jeniver ke atas kasur nya "Segera telefon dokter keluarga kita Mira, dan setelah itu bawakan segelas air kemari.. cepat lah" nyonya Hera kembali memberi perintah agar menelfon dokter yang biasa mereka panggil jika ada keadaan darurat seperti ini.
Mira berjalan menuruni anak tangga dengan terburu buru, lalu menuju ruang tamu di mana telefon rumah di letakkan. Dengan cepat dia mencari nomor dokter yang di maksud oleh nyonya nya, setelah menemukan nomor telefon nya diapun segera melakukan panggilan ke nomor tersebut.
Di dalam kamar Jeniver, nyonya Hera masih menemani sang anak dan mencoba menyadarkan nya dengan memberi kan minyak aroma terapi apa pun yang berada di dalam kamar anaknya. Saat dia masih menyapukan minyak tersebut ke hidung anak nya, tiba tiba ponsel Jeniver berbunyi. Dia pun segera melihat siapa yang menghubungi anaknya, saat di lihat nya layar ponsel Jeniver ternyata ibu Mike yang menelfon dia pun segera menjawab panggilan itu.
"Halo nyonya Ririn ada apa?" Jawab ibu Jeniver
"Jen.. oh nyonya Hera, kenapa ponsel Jeniver ada padamu?" tanya ibu Mike merasa aneh, bagaimana ponsel Jeniver berada pada ibunya. Dia pun menerka nerka ada apa dengan Jeniver saat ini.
"Nyonya Ririn, anak ku Jeniver saat ini pingsan di rumah. Wajah nya tampak pucat dan beberapa hari ini dia tak mengisi perutnya, entah apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini. Aku sungguh khawatir padanya.." Ada nada kesedihan yang teramat dari suara nyonya Hera
"Benarkah itu nyonya Hera, ahh aku akan segera kesana jangan khawatir nyonya. Apa anda sudah memanggil dokter?" Ibu Mike juga tak kalah cemas nya
"Baiklah, saya sudah memanggil dokter nyonya Ririn. Mungkin sebentar lagi beliau datang kemari"
"Kalau begitu aku akan segera kesana, tunggu aku nyonya Hera"
"Ya, terima kasih.."
Dengan cepat nyonya Ririn menelfon Mike untuk pergi ke rumah Jeniver dengan nya sekarang juga, karena tak ingin hal buruk terjadi kepada gadis malang itu. Menunggu panggilan telefon nya di jawab, dia pun segera menyambar tas dan juga kunci mobilnya berencana untuk ke kantor Mike. Dari sana dia akan mengajak Mike dan pergi bersama sang anak.
"Mike, kau dimana sekarang"
"Di kantor mom, ada apa?"
"Mom akan ke kantor mu sekarang, jangan kemana mana mengerti?"
"Baiklah mom, hari ini aku juga tak ada jadwal meeting. Aku akan menunggu mu"
"Baiklah sayang, sampai jumpa"
"Hati hati mom"
Setelah menutup panggilan telefonnya denga sang ibu, Mike tak langsung mengunci layar ponselnya. Dia kini menatap layar beranda ponselnya dengan hati yang getir, melihat foto nya bersama sang istri yang di ambil saat makan malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke 5. Dia membuka kotak pesan, dia tadi sudah membalas pesan Carol yang mengatakan dia pergi perjalanan dinas namun belum juga ada balasan dari Carol lagi. Mike memejamkan mata menahan kepedihan dan rasa sakit nya, karena beberapa hari tak dapat melihat sang istri juga berkomunikasi dengan nya. Setiap kali Mike menelfon Carol, selalu tidak di angkat bahkan sampai berpuluh puluh kali pun Mike menelfon tetap saja tak di jawab oleh Carol. Mike pun mendesah kan nafas dengan berat.
*****
Ibu mike telah sampai di lobi kantor dan berjalan ke lift khusus CEO, yang pastinya juga bisa di pakai olehnya. Sampai di lantai ruangan Mike, dia pun berjalan tergopoh gopoh dan masuk ke ruangan Mike. Mike yang tadinya sedang memeriksa berkas kerjaan nya pun mengangkat kepalanya saat di dengar ada yang masuk dari arah pintu, saat di lihat ibunya yang datang Mike memberi senyum tipis.
"Mike, Ayo ikut mom ke rumah Jeniver. Dia pingsan di rumah nya Mike, dia mengunci dirinya dan tak makan selama dua hari ini" Perkataan ibunya sontak membuat Mike membulatkan mata dan kaget dengan berita yang di dengarnya.
"Ba, bagaimana bisa dia pingsan mom?" Mike tergagap tak percaya
"Entahlah nak, ayo kita lihat dia sekarang. Mom sungguh khawatir padanya, oh semoga dia tak kenapa napa" Nyonya Ririn begitu panik dan mengajak anaknya untuk segera pergi melihat Jeniver
"Baik, tunggu sebentar mom" Mike mengambil kunci mobilnya dan mengajak sang ibu segera pergi ke rumah Jeniver.
*****
'Apa sikapku keterlaluan yang mengabaikan panggilan telefon nya hingga berpuluh puluh kali ini, dan pesan nya pagi ini membuatku sedih. Apa kami masih bisa seperti dulu, baiklah aku akan berbicara dengan nya saat dia menelfon kembali' suara hati Carol yang galau memikirkan suaminya Mike.
Carol, Rico dan Kaleid beserta sang asisten kini berada di sebuah restoran tak jauh dari lokasi pembangunan, mereka sedang menunggu pesanan untuk makan siang. Selama menunggu makanan Carol tampak diam dan selalu melihat ke arah ponselnya yang kadang di nyalakan lalu di matikan, begitu terus sepanjang penantian mereka. Kaleid yang sedari tadi memperhatikannya merasa aneh pada sikapnya hari ini, kegiatan Carol juga tak luput dari perhatian Rico. Mengetahui sedang ada yang tidak beres dari sikap Carol, Kaleid akhirnya permisi ke toilet dia bermaksud meninggalkan Carol dan Rico. Memancing mereka berbicara dengan leluasa dan dia akan memperhatikan mereka dari jauh nantinya.
Benar saja apa yang di harapkan Kaleid, akhirnya Rico dan Carol mulai berbicara dan pembicaraan mereka tampak sedikit menegangkan namun Kaleid tentu tak begitu mengerti yang mereka bicarakan. Karena mereka berbicara dalam bahasa, Kaleid merasa tak apa jika dia tak mengerti setidaknya Carol bisa lebih tenang setelahnya. Itu tampak dari wajahnya yang kini mulai rileks dan tak setegang sebelum bicara dengan Rico, setelah mereka berdua tampak sudah selesai berbicara Kaleid pun kembali duduk di kursinya yang kemudian seorang pelayan berjalan mendek dan membawa makanan yang mereka pesan. Lalu mereka pun makan dengan tenang tanpa ada yang mulai berbicara, namun Kaleid tetap saja memperhatikan raut wajah Carol yang selalu dapat mengalihkan perhatiannya.