Lia PoV "Apa!?" Aku menatap tajam Mutia. "Ya, aku tidak berdusta sedikitpun Amalia, sejak kapan aku akan berdusta?" tanya Mutia kearahku dengan tatapan yang serius. Aku ingin membantah karena dia suka bercanda, tapi wajah seriusnya mengisyaratkan dia benar-benar tidak bercanda. "Karenanya, banyak sekali yang terkejut," kata Mutia melanjutkan. "Jadi... Sekarang apakah... aku akan menjadi musuh... bagimu?" tanyaku hati-hati. Aku tahu, dalam hati Mutia, dia sangat mencintai Ahya. Ah, itu satu topik kalau bertemu Mutia, meskipun kami tidak terlalu sering bercakap-cakap meski berteman cukup akrab. "Tidaklah," jawab Mutia. Aku bisa melihat dari sorotan matanya kalau dia bimbang mengatakannya. Dia seperti ingin berkata sebaliknya. "Katakan saja Mutia, aku memang teman yang menyedihkan," uca

