“Ta- tapi Ca, aku belum jelasin semuanya kan?” “Pokoknya gue nggak mau maafin, titik nggak pake koma. Enak aja, dateng-dateng sok iyes langsung minta maaf.” cibir Risa dengan tatapan tajam. “Ca—” “Ape lo?!” sentak Risa semakin menatap nyalang ke arah Bimo. Meski pria itu sudah memasang wajah sabar dan penuh dengan penyesalan, Risa tak tergugah sama sekali. Kemarahan yang beberapa hari lalu mulai coba ia lupakan, mendadak muncul lagi ke permukaan. “Lo ngehancurin mental gue banget berengsekk!!” refleks Risa melemparkan kotak tissue di depannya yang tadi ia gunakan untuk membersihkan telapak tangan ke arah Bimo. Napas calon ibu mendadak memburu, sementara di sisi lain sepasang matanya memanas saat mengingat betapa teganya Bimo melakukan hal seperti itu. “Elo bikin gue berasa kayak samp

