Moko mengambil langkah seribu ketika mendengar teriakan Risa dari dalam kamar. Melihat Pak Ardin yang berlarian di depannya, pria tampan itu semakin melebarkan langkah karena yakin sedang terjadi sesuatu pada istrinya. “Astagfirullah Mami..!!” Suara Moko semakin nyaring saat melihat Risa sudah meringis kesakitan di lantai kamar yang tadi sedang ia gambar. “Kepleset iih, masih nanya.” Risa masih sempat menjawab meski dengan wajah kacau menahan ngilu. “Tangan aku licin, masih pake sarung tangan tadi.” Segera berjongkok di sebelah Risa, Moko lantas menempatkan posisi tangannya di bawah lutut dan pinggang sang istri. Belum sempat pria itu mengangkat Risa dalam gendongan, sepasang matanya terbeliak melihat cairan berwarna kemerahan di bawah tubuh istrinya. “Mi, ini … ketuban?” desisnya meng

