47. Ratu Satu-satunya

1811 Kata

Pertengahan minggu, pekerjaan Risa di gallery mulai banyak berkurang karena sudah ia kerjakan dua hari sebelumnya. Di hari Rabu dan setelahnya biasanya tugas Risa hanya mengamati kinerja karyawannya di bagian produksi atau pemasaran, lantas berakhir dengan membubuhkan tanda tangan di laporan mingguan. “Siang Mbak Ris,” sapa Melisa membuat Risa yang tengah menggunting kuku menoleh ke arah pintu seketika. Dua hari lalu Risa sudah mendengar rencana pengunduran Melisa terkait masalah pribadi yang mulai merebak ke seluruh penjuru gallery. “Eh, mbak Mel, masuk mbak.” Meski akhirnya tahu lengkap mengenai alasan pengunduran diri Melisa, alih-alih ikut mencibir, Risa justru semakin menaruh empati pada perempuan yang sangat kompeten dalam memeriksa keuangan di See Wood gallery and Furniture. Namu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN