Rendy mulai menduga bahwa mungkin sang penentu takdir memiliki selera humor yang aneh. Semalam ia memang berharap Torro kakaknya akan segera pulang. Kini keinginannya terwujud. Namun, bukan dengan cara yang ia harapkan.
Langit biru tanpa awan mengiringi prosesi pemakaman Torro, terik panas cahaya matahari menghujani para pelayat yang datang berpakaian serba hitam. Cuaca cerah saat ini tampak kontras dengan gelombang kesedihan yang melanda hati dan perasaan semua orang.
Dan Rendy tahu prosesi pemakaman ini tak hanya berat untuk dirinya sendiri.
Rendy melihat ayah dan ibunya terdiam dalam doa, wajah kedua orangtuanya masih menampakkan duka yang mendalam, raut muka mereka tampak kelelahan sementara mulut mereka bergerak mengikuti setiap ayat yang dilantunkan dengan suara pelan. Rendy bersyukur ibunya sudah tampak lebih tegar saat ini, mengingat semalaman ibunya pingsan setelah mendengar Torro meninggal dunia untuk pertama kali.
Berada di samping ayah dan ibunya, Anggi adiknya turut terhanyut dalam lamunan, ia malah jauh kelihatan lebih tegar dari ibunya sekarang. Setelah ditenangkan oleh orang-orang semalam, Anggi tak lagi menangis. Hal ini sempat membuat Rendy cemas, apa adiknya begitu terpukul sampai tak mampu meluapkan emosi secara benar? Adiknya masih begitu kecil untuk berurusan dengan perkara semacam ini, begitu banyak beban mental yang harus ditanggung oleh adik kecilnya itu.
Namun Rendy pun tersadar, bahwa adiknya mungkin butuh waktu lebih lama untuk memproses tragedi ini---merenungkan, menerima dan berdamai dengan keadaan bahwa Torro telah meninggal. Sama seperti dirinya sendiri.
Bagaimana bisa? Rendy berpikir, masih tak habis pikir.
Ia tatap hampa gundukan tanah basah bertebar bunga itu, di mana sebuah batu nisan bertuliskan nama Torro terpampamg jelas di hadapannya. Namun, Rendy masih tak mengira bahwa di bawah timbunan tanah itulah kini raga kakak laki-lakinya beristirahat.
Torro benar-benar telah pulang.
Bukankah ini menyedihkan? Baru semalam Rendy beradu mulut dengan Torro gara-gara memaksa kakaknya untuk pulang, sampai berkata kelewat batas. Dan kini, Torro menuruti perkataannya untuk pulang dalam cara yang tak disangka-sangka.
Pemuda itu tak menyangkal bahwa dirinya menyesal, komunikasi terakhirnya dengan Torro ketika hidup tak menunjukkan ikatan persaudaraan sama sekali. Tetapi sisi lain dalam dirinya pun tahu bahwa hal itu tak jadi masalah. Selama tahun-tahun terakhir, hubungan ia dengan Torro tak begitu akur.
Maaf, pikir Rendy, dan ia berharap bahwa entah dengan cara apa, Torro dapat mendengar permintaan maafnya itu. Maafin gue, gue harap lo udah tenang di alam sana.
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk bahu Rendy dengan pelan.
Rendy menoleh, menyadari kehadiran seorang pria berbadan besar dengan rambut pendek nyaris botak berada di belakangnya. Rendy mengenali pria itu, dia adalah sahabat dekat Torro kakaknya, Ruslan.
"Ren, berhubung pemakamannya udah selesai, sorry gue mau pamit pergi duluan," ucap Ruslan dengan nada pelan hingga hanya Rendy yang dapat mendengarnya.
Rendy mengangguk dan tersenyum. "Ya, thanks udah mau bantuin ngurus semuanya."
"Gak masalah, Torro juga udah gue anggep kayak saudara sendiri. Sekali lagi gue turut berduka, semoga kalian kuat," timpalnya sebelum ia akhirnya berlalu meninggalkan area pemakaman umum.
Rendy tak begitu mengenal sahabat saudaranya itu, tetapi sejak semalam, Ruslan memang sudah begitu banyak membantu, ia bahkan segera mendatangi rumah sakit saat kabar kematian Torro sampai di telinganya. Mengantar jenazah dari rumah sakit menuju rumah duka, mengikuti semua proses hingga akhirnya raga Torro dikebumikan.
Ucapan duka pun tak henti-hentinya membanjiri keluarga Rendy. Mulai dari tetangga tetangga, kerabat jauh, rekan kerja ayah hingga teman-temannya di kampus berdatangan menunjukkan rasa empati mereka atas kematian Torro, membuat telinga Rendy sedikit terasa bosan karena mendengar kalimat yang sama berulang-ulang.
Saat hari semakin siang, para pelayat yang hadir mulai membubarkan diri satu per satu, hingga hanya menyisakan Rendy dan Anggi beserta kedua orangtuanya yang mengelilingi makam. Kedua orangtuanya belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang cepat-cepat.
Rendy kembali berpikir, apa selimut duka yang menghinggapi keluarganya ini akan menghilang? Berangsur-angsur pudar? Bisakah itu terjadi?
Melihat bagaimana ekspresi ibu dan ayahnya sekarang, Rendy ragu hal itu dapat terjadi.
*
Keluarga merupakan satu kesatuan dari beberapa bagian yang seharusnya tak dapat terpisah, setiap anggota keluarga merupakan hal penting untuk membuatnya tetap utuh, ketika satu bagian saja hilang, maka sulit membuatnya untuk tetap bertahan. Bagai seorang manusia yang dipaksa untuk berjalan dengan satu kaki: bisa saja terjadi, tapi butuh waktu yang lama untuk terbiasa.
Itulah yang Rendy rasakan setelah kematian saudaranya, hari-hari yang dijalani keluarganya terasa berbeda. Ada rasa gelisah yang tak bisa ia jelaskan setiap kali dirinya beraktivitas. Berharap semua akan baik-baik saja, tapi hatinya tahu bahwa segala hal takkan pernah sama lagi.
Ini membuatnya terkejut mengetahui bagaimana hilangnya keberadaan Torro di tengah-tengah keluarga membawa dampak yang begitu besar.
Padahal, ini bukan yang pertama kali Torro tak berada di sisi mereka. Tidak aneh baginya sosok saudara lelakinya tak berada di rumah, tetapi setiap hari yang Rendy lalui bersama keluarganya malah menujukkan yang sebaliknya. Seakan selama ini Torro tak pernah meninggalkan rumah.
Sudah berapa kali Rendy melihat ibunya menangis lagi? Atau ayahnya yang melamun pada tengah malam? Juga Anggi adiknya yang semakin sering meminta izin untuk tidur di kamarnya? Semua itu membuat Rendy semakin sulit untuk yakin bahwa semuanya baik-baik saja.
Pada malam ketiga setelah pemakaman, setelah acara tahlilan digelar, Rendy menemukan ibunya berada di dalam kamar Torro, merapikan pakaian yang berada dalam isi lemari, mengganti seprai serta pewangi udara.
Rendy tahu bahwa itu adalah kebiasaan ibunya ketika Torro masih hidup, dan hal itu rupanya masih dilakukan sampai sekarang, Rendy menduga mungkin dengan cara begitu ibunya bisa mengobati rasa dukanya untuk sesaat.
Namun, dari semua hal yang telah terjadi, ada satu hal yang membuat Rendy tak habis pikir, hal yang Rendy kira akan membaik setelah semua ini: mengenai pertengkaran kedua orangtuanya.
Hal itu masih saja terjadi, proses perceraian tak terhenti begitu saja, perselisihan di antara ibu dan ayahnya masih kerap terdengar beberapa kali. Padahal Rendy sudah sempat melambungkan harapannya, ayah dan ibunya selama ini tampak kompak dalam mengurusi pemakaman Torro. Ketegangan yang ada seakan telah mencair. Rendy mengira kematian kakaknya entah dengan cara apa telah memperbaiki keretakan hubungan mereka.
Rendy mengetahui kenyataan yang sebenarnya dengan cara menyakitkan.
Itu adalah pagi hari ketujuh setelah kematian Torro, ketika ia mendengar suara ribut orangtuanya dari arah dapur. Nada tinggi itu kembali muncul, membuat hatinya diliputi kegelisahan. Apa yang tengah mereka pertengkarkan, Rendy tidak tahu dan tak berminat untuk mencari tahu.
Namun saat Rendy keluar kamar, menuruni tangga dan bersiap untuk pergi kuliah, sepasang telinganya terpaksa menangkap inti dari perdebatan ayah dan ibunya tersebut.
"Saya benar-benar sudah capek dengan semua ini, Puspa" Suara Roy ayahnya terdengar dengan nada tinggi. "Kalau begini terus lebih baik kita percepat proses perceraian kita."
"Apa kamu tidak bisa menahan sedikit ego kamu itu, Roy?" Suara ibunya terdengar menimpali. "Tolong pikirkan perasaan anak-anak. Mereka baru saja kehilangan kakaknya. Jangan menambah beban mereka dengan kelakuan pendek akalmu ini!"
Hebat, bahkan mereka sudah saling memanggil dengan nama masing-masing, pikir Rendy getir kala mengetahui hal ini bertambah semakin buruk.
"Anak-anak sudah dewasa sekarang, mereka sudah paham apa yang terjadi, jadi jangan mengulur-ngulur waktu dengan alasan yang tidak penting."
"Tidak penting, katamu? Apa sebegitu inginnya kamu berpisah sampai tak memperdulikan mereka? Oh, atau jangan-jangan wanita lain itu sudah memaksamu untuk segera menikahinya?" cerca Puspa ibunya dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Puspa!" Roy membentak tersulut emosi.
Karena sudah tidak tahan mendengar pertengkaran itu, Rendy segera pergi meninggalkan rumah tanpa berkata sepatah kata pun, tanpa menghampiri meja makan untuk menyantap sarapannya terlebih dulu, tanpa memedulikan kelanjutan percekcokan kedua orangtuanya saat itu. Bahkan tanpa mengecek dulu apa Anggi adiknya telah berangkat ke sekolahnya atau belum.
Hati dan perasaannya benar-benar terasa panas sekarang. Keharmonisan keluarganya sudah tak mungkin dipertahankan. Dan Rendy memutuskan tak lagi peduli pada semua itu.
Tanpa Rendy ketahui, jauh di luar sana, di alam yang berbeda tempat saudara lelakinya kini berada, jiwa Torro pun tengah dilanda kegelisahan yang luar biasa.
***