19. Amarah Rendy

1253 Kata
Torro menembus dinding, memasuki kamar adik lelakinya terlebih dulu. Dilihatnya Rendy sedang duduk bersandar di kursi belakang meja tempat belajar, tapi tak benar-benar sedang belajar. Tangannya yang memegang pena terayun lemah ke bawah, sementara tangan satunya lagi mengetuk-ngetuk permukaan meja. Punggung Rendy menempel pada sandaran kursi, kepalanya menengadah ke atas dengan kedua mata terbuka, seolah tengah memelototi cicak tak kasat mata yang menempel di langit-langit kamar. Dalam satu detik pengamatan pun, Torro bisa menebak ada sesuatu yang tengah merisaukan benak Rendy---dan itu bukan soal tugas kuliahnya. Kening pemuda itu berkerut samar. Mulutnya meringis, seakan apa pun yang sedang dipikirkannya membuat Rendy kesakitan. Torro tilik keadaan di meja belajar melalui bahu Rendy: layar monitor laptopnya dalam keadaan mati. Lembaran kertas putih kosong bertebaran dalam keadaan nyaris tak tersentuh. “Lo lagi mikirin apa sih, Ren?” tanya Torro penasaran. Tentu saja Rendy tak merespon. Ingin sekali rasanya Torro bisa membaca pikiran Rendy saat ini juga. Hal ini membuat Torro tak sabar untuk datangnya esok hari. Bagaimana pun caranya Torro harus berhasil menerima bantuan dari pemuda indigo teman Anggi di sekolah. Buka mata batin Rendy sehingga dapat melihat dirinya, dan diskusi panjang nan berat pun bisa segera dilakukan di antara mereka. Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar, dan kepala Rendy pun menoleh cepat. “Mas Rendy,” ujar Anggia dari arah luar. “Anggi boleh masuk gak?” Kepala Rendy terangkat, lalu menghela napas berat. Kentara sekali ia sedang malas menyahut kedatangan adiknya. “Masuk aja. Gak dikunci kok pintunya.” Pintu pun terayun terbuka. Anggi mengintip ke dalam ragu-ragu, menatap Rendy---lalu Torro bergantian. Torro menganggukan kepala menyemangatinya. “Ada apa, Dek?” tanya Rendy tenang disertai seulas senyum. Diam-diam Torro memuji sikap Rendy yang bisa menyembunyikan rasa penatnya dengan baik. “Anggi mau ngomongin sesuatu.” Rendy terdiam, menunggu. Namun Anggi tak berkata apa-apa lagi. “Iya mau ngomongin apa?” “Mas Rendy harus janji gak akan marah tapi,” Anggi menundukkan kepala, Torro menangkap kesan takut di sana. “Anggi gak bermaksud nakut-nakutin kok.” “Iya, apa?” Rendy mulai terdengar tak sabar. Menuntut. Anggia berjalan semakin dalam memasuki kamar, diliriknya lagi sosok arwah Torro setengah hati. “Ada seseorang yang mau ngomong sama Mas Rendy sekarang.” “Oh.” Rendy mengangkat punggungnya dari sandaran kursi. “Maksudnya ada tamu di bawah? Siapa?” “Bukan tamu,” timpal Anggi tergesa-gesa. “Orangnya udah ada di sini kok.” Dahi Rendy terlipat, tatapannya tertuju ke arah di mana Anggi selalu melirik. Bagi Rendy hanya terdapat udara kosong di sana. Cuma Anggi dan dirinya yang berada di kamarnya sekarang. “Anggi,” Rendy menggeram. “Mas lagi males main-main sekarang.” “Anggi enggak lagi bercanda kok,” balasanya defensif. “Emang ada seseorang selain kita di sini.” Jari telunjuk Angi menunjuk tepat pada arwah Torro berada. “Mas Torro.” “Ini gue, Ren,” kata Torro, penuh harap adik lelakinya bisa percaya. “Gue masih di sini.” Rendy terdiam sesaat, mulutnya terbuka tapi tak ada sepatah kata pun keluar. Kekesalan mulai tercetak di wajahnya. “Ma-Mas Torro? Dek … Mas Torro udah meninggal!” Kulit wajah Anggi memerah, dan pada detik itu pun Torro sebenarnya tak akan marah jika Anggi berhenti mencoba. “Iya Anggi tahu Mas Torro udah meninggal. Tapi Mas Torro masih ada di sini, berdiri di belakang Mas Rendy.” Bagai tersetrum aliran listrik, dengan cepat Rendy berdiri dan menoleh ke belakang. Matanya jelalatan ke segala arah, dan tidak menemukan apa yang sedang dicari. Kekesalannya tak lagi berusaha ia tutupi. Rendy menatap Anggi dengan marah. “Anggi, Mas beneran gak suka kalau kamu udah mulai bersikap begini.” “Tapi Anggi ngomong yang sebenarnya!” Gadis kecil itu mulai terisak pelan. “Arwah Mas Torro memang ada di sini, katanya mau ngomongin sesuatu sama Mas Rendy.” “Anggi!” Rendy memberinya peringatan. “Kenapa sih Mas Rendy gak bisa percaya?” Anggia kini tersedu-sedu, dan Torro merasa sakit hati melihat keadaan di hadapannya. Kedua mata Rendy terpejam. Napasnya pendek-pendek. Bisa Torro rasakan bahwa adiknya sedang menahan amarah. “Lebik baik kamu balik ke kamar sekarang. Berhenti ngomongin yang enggak-enggak. Mas gak mau denger ini lebih jauh lagi.” Sebelum Rendy menyelesaikan ucapannya pun, Anggi dengan cepat berlari meninggalkan kamar. Suara langkah kakinya terdengar makin lama makin jauh, disusul dengan gebrakan pintu ditutup. Torro hampir tak mempercayai apa yang telah disaksikannya. Pertengkaran kedua adiknya terasa begitu tak nyata---dalam bayangannya Rendy dan Anggi akan selalu akur. Rendy juga kelihatan tak berminat menyusul Anggi dan memperbaiki keadaan, pria itu malah terduduk lagi dengan punggung bersandar pada kursi, jari-jari tangannya mengacak-ngacak rambut dengan kesan frustasi. Amarah Torro pun mulai meluap-luap, kabut tipis seperti menghalangi pandangannya. Sebuah gelas kaca yang terisi setengahnya di atas meja berlaci samping ranjang mendadak terjatuh. Pecahan kaca dan genangan air putih mengotori lantai. “Lo kenapa harus kasar gitu sih sama Anggi?” cecar Torro geram. Tak peduli Rendy tak bisa mendengarnya. “Dia ngomong yang sebenarnya, Ren! Gue di sini! Dia gak bohong, apalagi berniat nakut-nakutin lo! Cepet minta maaf sama adik lo sekarang juga!” Namun amarah Torro luntur dengan cepat ketika sadar Rendy sedang menyeka air matanya sendiri. Pemuda itu ikut menangis tanpa suara, tanpa isakan atau tersedu-sedu. Tubuh hantu Torro bergeming. Sisi rapuh Rendy selalu berhasil menarik keluar sikap protektif Torro sebagai saudara tertua yang jarang dirasakannya tatkala masih hidup. Lo gak punya hak buat menghakimi Rendy, hati nurani Torro seolah sedang mengejeknya tajam. Inget, lo sendiri sosok kakak yang mengecewakan buat Rendy atau Anggi. Mengecewakan dan memalukan. Amarahnya mereda, tergantikan oleh perasaan malu---dan bersalah. Torro segera meninggalkan ruangan tempat tidur---memberi Rendy ketenangan dan privasi yang ia butuhkan---lalu bergerak menuju kamar Anggi di ujung lorong. Ia temukan adik perempuannya berjongkok menangis di dekat pintu. Torro bisa saja tak menyadari keberadaannya jika tak menundukkan kepala. Perasaan Torro bagai pecah berkeping-keping, rasa protektifnya kembali menggebu-gebu. Toro ingin ada seseorang yang bisa dipukulinya sekarang, menyalahkan orang itu atas semua kekacauan yang ada. Namun jelas tak ada orang itu, sedikit banyak Torro sadar bahwa dirinyalah yang patut disalahkan. Bukan Rendy. Dalam hati Torro bersumpah akan mulai menebus semua sikap abai pada adik-adiknya semasa hidup. “Dek?” Torro ikut berjongkok, berucap dengan nada selembut mungkin. “Anggi?” Anggia membalas tatapannya enggan, wajahnya masih dibasahi air mata. “Selalu aja begini. Tiap kali Anggi mau cerita sama Mas Rendy, Papah atau Mamah, sikap mereka selalu begitu. Susah buat percaya sama Anggi. Nganggep Anggi masih kecil.” Tapi kamu emang masih kecil, batin Torro menimpali, tapi ia enggan untuk menyuarakannya. “Mereka bakal percaya kok nanti,” kata Torro menenangkan, ada keyakinan yang membuat dirinya sendiri pun terekejut. “Rendy, Papah, Mamah … cuma butuh waktu, Mas yakin.” Tangisan Anggi sebelum sepenuhnya mereda, tapi ia mulai menyusut air matanya dengan kain baju. “Kita harus mulai pelan-pelan, kasih mereka pemahaman selembut mungkin. Anggi masih mau mencobanya lagi nanti, kan? Mas Torro janji bakal bantu.” “Tapi jangan hari ini.” Suara Anggi bergetar. “Gak perlu hari ini,” sahut Torro cepat. “Mas juga minta maaf udah maksa kamu tadi, padahal kamu tahu bakal jadi apa keadaannya. Harusnya Mas bisa lebih ngertiin kamu.” Mata Anggi berkedip cepat. Air mata telah berhenti mengalir turun, tapi ritme napasnya masih belum normal. “Mas Torro gak salah kok. Anggi bisa ngerti keadaan Mas Torro sekarang … pasti bimbang banget. Anggi cuman mau bantu semampu Anggi.” “Kamu udah melakukannya,” Torro menyelipkan nada bangga dalam suaranya. “Kamu hebat. Kita bisa coba lagi besok minta bantuan sama Kak Devan ini. Pasti bisa.” Usaha Torro dalam menghibur adiknya mungkin terkesan agak lemah, tapi Anggi mengangguk mempercayainya. Anggi dan Torro sendiri jarang berinteraksi, ini bisa jadi permulaan bagus bagaimana ikatan persaudaraan terbentuk. Torro berharap ia juga bisa segera memulai hal yang sama dengan Rendy. “Nah sekarang ayo kita ke meja belajar.” Torro mengajak Anggi berdiri setelah cukup tenang. “Kita punya banyak PR yang harus dikerjakan, kan?” Seulas senyum tipis terbit di wajah si anak bungsu itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN