“Dari mana aja lo, Ren?” sembur Torro lega dengan nada tinggi. Pria itu terlonjak kaget dan mengangkat kepala. Baru menjawab setelah berada hanya berjarak dua langkah darinya. “Eh, lo nunggu gue pulang?” Torro pikir, hari ini pasti cukup melelahkan bagi adiknya. Wajah pria itu kuyu nan kusam, rambutnya lepek tak rapih, pakaiannya juga kusut dan berdebu. Ransel hitamnya disampirkan hanya pada satu bahu, resleting di kantung depannya terbuka sedikit sampai ujung sebuah buku menonjol ke luar. Benar-benar tampilan khas mahasiswa yang kelelahan selepas mengikuti kegiatan perkuliahan sibuk nan panjang. Dirinya mencoba untuk bersikap lembut. “Kita semua nungguin lo dari tadi,” ucap Torro. “Anggi sampe nyerah gara-gara ngantuk dan tidur duluan. Nyokap cemas banget sejak tadi.” Rendy mengerutk

