28. Malam Horor

1356 Kata
Torro memperhatikan saat Donovan menjalankan proses membuka mata batin Rendy---yang bagi dirinya malah kelihatan seperti sesi pijat relaksasi alih-alih ritual mistis. Sampai saat itu, semuanya berjalan cukup lancar. Torro berhasil meyakinkan Donovan untuk membantunya, mengundang anak itu datang ke rumah setelah pulang sekolah untuk menemui Rendy. Meski situasi sempat memanas, Torro dibantu Donovan dan Anggi sukses membuat Rendy cukup percaya sehingga bersedia mencoba membuka mata batin---meski dengan cara Torro harus mengungkit kembali pertengkaran terakhinya dengan Rendy, yang sesungguhnya ingin ia kubur dalam-dalam bersama jasadnya di suatu tempat. Yah, sebuah tujuan besar memang membutukan pengorbanan besar, kan? Namun, tepat setelah Donovan mengerjakan bagiannya Rendy mengeluhkan sakit kepala dan tampak tak sehat, kemudian adik lelakinya itu berjalan sempoyongan menuju kamar. Alhasil Torro menjadi cemas, apa si siswa indigo itu telah membuat sesuatu kekeliruan? “Gak ada yang salah kok,” Donovan membela diri, meski alisnya sendiri bertaut cemas, sehingga sulit untuk Torro mempercayai ucapannya. “Apa yang Kak Rendy alami normal, gejala sakit kepala dan semacamnya … itu pertanda kalau mata batinnya mulai terbuka. Seharusnya beberapa jam lagi Kak Rendy bisa lihat Kakak.” “Tapi itu agak gak biasa, kan?” desak Torro, tak puas dengan penjelasan yang diberikan. “Maksudnya, gue gak pernah urus soal hal mistis begituan pas masih hidup, tapi orang yang dibuka mata batinnya biasanya gak bereaksi begitu … prosesnya hampir seketika berhasil.” Donovan menyahut dengan mulut meringis, “Memang. Kebanyakan reaksinya gak sekentara Kak Rendy tadi. Tapi reaksi ke semua orang gak selalu sama, jadi … yah kita tunggu aja dan lihat nanti hasilnya.” “Kalau Rendy sampai kenapa-kenapa …,” ancam Torro sambil mengepalkan tangannya, yang kini tindakan itu memiliki sensasi berbeda ketika ia masih hidup dulu. Tangannya yang mengepal seolah sedang menggenggam angin. Tak ada sensasi urat-urat tangan mengencang, daging dan otot mengeras. Hanya kehampaan, seolah tangannya hanya berupa kumpulan kabut dan asap---yang bisa saja benar. Torro juga tak tahu ia bisa mengeluarkan ancaman apa dengan kondisinya seperti ini. Si anak indigo takkan gentar diancam sesosok mahluk baru meninggal kemarin. Paling-paling Torro hanya bisa meneror hidup Donovan selama sisa waktu yang dimilikinya. Donovan hendak memprotes, tapi Anggi menyela perdebatan itu. “Udah, ih! Jangan berantem! Anggi juga cemas, tapi Anggi percaya Kak Devan pasti berhasil. Kita tunggu aja.” Karena situasinya tak lagi pasti, Torro memilih berdiam diri di tempat dan tak melakukan apa-apa. Donovan serta Anggi juga hanya duduk bersantai menatap layar TV, rupanya sudah bosan bertingkah seolah-olah sedang belajar bersama. Beberapa kali keduanya saling berbagi makanan yang diambil dari lemari pendingin---Torro tentu tak perlu ditawari. Di dalam hati Torro agak marah pada dirinya sendiri. Bagaimana kalau kekeras kepalaannya beimbas tak baik pada Rendy? Bagaimana jika Donovan-lah yang benar, dengan mengatakan bahwa membuka mata batin Rendy bukan pilihan bijak? Adiknya itu kini sedang menahan sakit kepala di lantai atas, dalam kamarnya sendiri. Apa yang harus Torro lakukan demi memperbaikinya? Ketika Puspa akhirnya datang---sudah jam setengah tujuh malam, wanita itu tampak keheranan mendapati Anggi dan temannya hanya berduaan tanpa pengawasan. Ia segera bertanya pada Anggi di mana Rendy. Anggi menawab bahwa kakaknya tengah tidur di kamarnya sendiri. Wajah kelelahan Puspa langsung saja diselimuti rasa kesal dan berderap menuju tangga, setelah sebelumnya berjanji akan mengantar pulang Donovan. Torro putuskan untuk ikut. Di kamar, Rendy kelihatan setengah pulas. Kepalanya bergerak ketika Puspa membuka pintu dan melangkah masuk, tapi matanya tak terbuka. Tangannya tetap berada di kepala. Awalnya Puspa memarahi Rendy karena tak mengawasi dua anak sekolahan di bawah, lalu berubah cemas ketika putranya mengeluhkan sakit. Puspa menawari obat bahkan menawari memperiksakan diri ke dokter meski akhirnya Rendy menolak. “Kamu gak apa-apa kan kalau Mamah tinggal sebentar?” Puspa bertanya tak enak hati, seperti benar-benar cemas jika harus meningalkan Rendy seorang diri. “Mamah mau nganterin Donovan---temennya Anggi pulang. Anggi ikut juga sekalian beli makan malam.” Tanpa menggerakan tubuhnya sedikit pun Rendy menawab, “Iya, Mah. Pergi aja. Rendy gak masalah ditinggal sendiri.” “Rendy gak akan sendirian kok, Mah,” ucap Torro lembut, meski paham ucapannya takkan didengar keduanya. “Torro di sini bakal jaga dia.” Pertanda kekawatiran di wajah ibunya tak lantas hilang, Puspa berdiam diri sesaat, hanya memandang sosok Rendy yang mulai terlelap lagi, kemudian menghela napas dan pergi ke luar kamar. Torro dalam benaknya bertanya-tanya, pernahkah wanita itu mengkhawatirkannya seserius itu? Di malam saat dirinya tak pulang ke rumah, asik dengan dunianya sendiri, pernahkah Puspa mencemaskan Torro? Atau ketidak hadirannya di rumah ini sudah biasa hingga tak dianggap janggal? Hati Torro sakit memikirkannya, yang sesungguhnya mengherankan karena bagaimana bisa hati yang telah mati bisa merasakan sakit? Tetap saja, ia tetap bertanya-tanya: apa kematiannya tak berdampak banyak bagi Puspa … mengingat Torro bukanlah anak kandungnya? Torro menggelengkan kepala mengusir pemikiran konyol tersebut. Jangan b**o, batinnya mengingatkan diri sendiri, Puspa sayang sama lo. Lo udah lihat gimana beliau nangis-nangis sambil natap foto lo beberapa hari lalu. Pemikiran semacam itu menggerogoti kedalaman benaknya selama bermenit-menit menjaga Rendy. Torro duduk di kursi belakang meja belajar hanya karena dia ingin. Terus-terusan mengamati sosok Rendy, perlahan hatinya menyadari betapa besar rasa sayangnya pada adik lelakinya itu. Meski selama ini mereka jarang akur, selalu saja ribut, bertengkar dan beradu mulut, toh pada akhirnya Torro sadar apa yang terpenting: bahwa mereka adalah saudara. Sebuah keluarga. Torro tak habis pikir, mengapa ia tak bisa menyadari semua ini lebih awal, pada masa ia bisa memperbaiki segalanya dengan lebih mudah? Kepalanya terlalu penuh dengan pemikiran sampai ia lupa waktu, tak memperhatikan berapa jam lamanya telah berlalu. Yang pasti, di satu detik tubuh Rendy bergerak dan ia mulai terbangun. Tampaknya lelaki itu sudah tak mengalami gejala kepala sakit lagi, sebab ia langsung bangkit terduduk, menguap lebar dan tampak tenang. “Akhirnya lo bangun juga, Ren.” Torro menyuarakan kelegaannya, benar-benar tak menyangka bahwa adiknya akan memberi respon. Yang Torro lihat juga mengejutkan dirinya: Rendy menoleh padanya dengan cepat, menjerit lantang dan mendorong tubuhnya sendiri menjauh---terlalu jauh sampai tubuh Rendy melewati tepi ranjang dan roboh ke lantai. “Aw … aduh!” Rendy mengeluh. “Ya ampun, Ren!” Torro bergerak mengitari ranjang dan menghampiri. “Lo harusnya hati-hati!” “JAUH-JAUH DARI GUE!” pekik Rendy memelototi Torro, ia menyeret tubuhnya---dalam posisi duduk, nyaris merangkak---makin jauh sampai merapat ke dinding. “PERGI DARI SINI! PERGI!” Sesaat Torro tak bisa berkata-kata, ia terlalu terperanjat sampai tak mengerti ada apa dengan adiknya ini. Kemudian … pemahaman besar menghantam keberadaannya: mata batin Rendy telah terbuka. Donovan berhasil. Rendy sekarang dapat melihatnya … dan ia ketakutan. “Tenang, Ren! Ini gue!” Torro mencoba menenangkan, tapi ia sendiri begitu tercengang melihat kengerian di wajah Rendy. Pada kesempatan lain, dalam kondisi yang lebih membahagiakan, hal ini mungkin akan ia tertawai. “Lo gak perlu takut lihat gue, ini gue Torro.” “GUE GAK MAU LIHAT LO!” Rendy berteriak histeris, matanya membelalak liar. “LO PERGI DARI SINI! CEPET!” “Ren, tolonglah,” kata Torro putus asa, bergerak makin dekat. Tindakan Torro itu malah makin membuat Rendy terpojok. Ia memejamkan mata, dan seolah belum cukup Rendy menekan matanya dengan kedua tangan. Sekujur tubuh pria itu gemetar dan berkeringat. Lalu … ia mulai menangis. Jiwa tak beraga Torro bergerak mundur, tak menyangka melihat reaksi adiknya yang sekeras ini. Ketidak berdayaan Rendy dalam menyembuntikan rasa takut menghancurkan hati Torro. Dirinya tak berniat menakut-nakuti atau meneror hidup Rendy. “Lo udah mati,” ratap Rendy di antara isakan tertahannya. “Dia udah mati.” “Inget apa yang tadi udah lo lakuin sama si anak Donovan itu,” Torro mengingatkan dengan nada selembut mungkin. “Mata batin lo udah terbuka, Ren. Lo sekarang bisa lihat gue, dan lo gak perlu takut. Gue gak bakalan nyakitin lo.” Kepala Rendy menggeleng. “Gue gak mau lagi. Gue gak bisa! Gue gak mau!” Sisi emosional dan mental Rendy pasti terguncang hebat, Torro kini menyesal tak mengikuti kata-kata Donovan. Dalam waktu yang terasa lama Torro hanya mengamati, dan sadar kehadirannya di sini hanya menyiksa ketenangan batin adiknya. “Oke, bakal gue tinggalin lo sendiri,” ucap Torro kalah. “Tapi tolong lo pikirin dulu. Banyak hal yang mau gue omongin sama lo. Lo harus berani, Ren.” Gelengan kepala Rendy makin kuat. “Gak bisa, gue gak bisa. Panggil Anggi, suruh temennya tadi balik ke sini. Tutup mata batin apalah gue ini.” Torro bergerak ke belakang sampai tubuhnya menembus dinding padat, dan terpisahlah ia dari adiknya yang masih ada di dalam kamar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN