39. Aksi Sang Mekanik

1206 Kata
“Omong-omong,” Rendy berkata, selagi berusaha mengabaikan kedua kelopak matanya yang mulai perih. “Tadi Papah mau bilang apa, sebelum Bang Ruslan datang?” Alih-alih menjawab, Roy menunduk memandangi jam tangan di lengan kanannya, lalu mendesah berat. “Soal itu … lain kali aja kita bicarain. Udah terlalu lama Papah pergi, harus segera balik ke tempat kerja.” Rendy mencoba untuk tak merasa sakit hati pada sikap ayahnya yang menghindari pembicaraan, memilih berpura-pura bersikap santai. “Oh ya … kalau Papah emang harus pergi. Tapi nanti sore Papah harusnya pulang ke sini, temuin Anggi. Udah sejak kemarin dia nanyain di mana Papah-nya berada.” Roy mematung sesaat, memalingkan muka. “Papah gak janji bisa ngelakuin itu. Keadaan antara Papah sama Mamah-mu ….” Ia menggelengkan wajahnya dengan muram. “Situasinya untuk sementara lebih baik begini. Kamu pasti paham kan, Nak?” Kenyataannya Rendy memang paham. Pilihannya antara memaksa kedua orang tuanya tinggal satu atap dan terjadi banyak pertengkaran, atau membiarkan mereka tinggal terpisah menghindari banyaknya bentrok dan gesekan. Rendy tak harus berpikir dua kali untuk memilih yang mana. “Tapi di mana Papah tinggal?” tanya Rendy penasaran. “Selama ini Papah nginep di mana?” “Di penginapan,” jawab Roy tersenyum simpul. “Ada penginapan murah di sekitar kantor, fasilitasnya lengkap. Mungkin kamu bisa bawa adikmu ke tempat Papah akhir pekan ini kalau dia mau. Kita bisa … meluangkan waktu bersama sebagai keluarga. Kalau kamu mau?” Tanpa ibunya turut serta, Rendy membatin. Kegiatan apa pun yang direncanakan pasti takkan melibatkan kedua orang tuanya bersamaan. Dengan ayahnya, tanpa ibunya. Atau dengan Puspa tanpa keikut sertaan Roy. Keluarganya sudah tercerai berai bahkan sebelum putusan perceraian disahkan. Menyedihkan? Pasti, tapi Rendy sadari bahwa hal ini mungkin bagus bagi adik perempuannya untuk membiasakan diri. Memulai lebih awal agar tak heran lagi melihat ayah dan ibunya tak lagi bersama. Keadaan bisa saja berubah untuk sementara waktu. Rendy tak melupakan janjinya untuk membantu mempersatukan kembali orang tuanya, tapi tak ada salahnya bersikap pahit andaikan kemungkinan terburuklah yang terjadi. “Oke,” Rendy berucap penuh kerelaan. “Itu ide bagus, nanti Rendy coba tawarin ke Anggi. Papah kirim aja alamatnya lewat Whatsapp.” Roy mengangguk dan mulai melenggang pergi. “Oke. Papah pergi sekarang, Ren. Jaga diri baik-baik. Titip salam ke adikmu.” Pria itu kemudian membalikkan badan ketika hendak meninggalkan area dapur, tatapan matanya sekonyong-konyong penuh peringatan. “Dan inget, soal Ruslan ….” “Pah!” Rendy memprotes, belum apa-apa sudah tahu ayahnya akan mengatakan apa. “Rendy paham. Jangan khawatir, Rendy bisa jaga diri.” Ayahnya menghela napas, mungkin terlalu malas untuk berdebat lagi, atau tak banyak waktu yang tersisa baginya memperdebatkan hal yang sama. Memilih menyerah, Roy pergi---Rendy mengantarnya sampai ke ambang pintu. Dalam hati Rendy bertekad untuk membuat ayahnya tak kecewa, tapi tidak dengan cara patuh dan tunduk pada semua keinginanya. Ini hidupnya sendiri, Rendy yang berhak memutuskan berteman dengan siapa saja. Di sisi lain Rendy tahu ia seharusnya bisa bersikap lebih lembut dan sabar lagi. Kepedulian sang ayah pada dirinya bukan cuman bualan, Roy benar-benar takut dan mencemaskan dirinya. Saat Rendy berjalan kembali ke tempat di mana Ruslan tengah bekerja, ruang garasi benar-benar telah berubah jadi ruang mutilasi motor rusak. Permukaan lantai dipenuhi dengan berbagai komponen motor yang tergeletak. Badan motor telah dilepas hingga dapat dilihat mesin dalamnya. Jujur saja, Rendy tak tahu satu pun nama benda-benda yang telah dilepas itu. Bentuk-bentuknya aneh bagi dirinya. Ruslan sendiri masih tampak menekuri inti mesin, duduk lesehan di samping motor. Ia telah membuka jaketnya---mungkin karena gerah, hingga tampaklah kaus hitam polos yang membungkus badannya. Wajahnya basah berkeringat, sementara kedua lengannya sudah kotor bernoda oli dan minyak. Sewaktu Rendy menghampiri, pria itu tersenyum menyambut. “Gimana urusan sama bokap lo?” Dari sudut matanya Rendy melihat Torro, mengamati mesin motor yang berseberangan dengan Ruslan. Kakaknya itu ikut menatapnya penuh tanya. Rendy berhenti berjalan di hadapan Ruslan, menjulang tinggi di atas pria itu. “Gak ada masalah. Beliau udah pergi, gak perlu dikhawatirin.” Lalu Rendy menekuk lututnya dan berjongkok. “Jadi, gue lihat motornya udah dibongkar aja, kerusakannya seberapa parah?” Ruslan menarik satu tangannya yang tengah meraba-raba bagian bawah mesin dan menelengkan kepalanya pada satu sisi. “Kerusakannya banyak, tapi untungnya inti mesin masih berfungsi. Tapi, ada banyak komponen yang rusak, penyok parah dan harus diganti, beberapa di antaranya gue gak bisa nemu gantinya dalam waktu cepat. Ada sparepart yang khusus harus dibeli di luar kota. Gue gak bisa nyelesaikan perbaikan dalam hitungan hari. Bisa jadi seminggu lebih atau dua minggu.” Pria itu lalu menunjukkan beberapa komponen motor sebagai contoh, menunjuki Rendy di bagian mana rusaknya, apa yang perlu diganti, serta bagaimana cara mendapatkan komponen pengganti yang tepat. Benak Rendy yang tak paham masalah t***k bengek pertukangan hanya menangkap inti perkataan Ruslan. “Jadi, motor ini bisa diperbaiki ke kondisi semula?” “Bisa,” jawab Ruslan yakin. “Kasih gue waktu seminggu---atau lima hari deh, khusus buat lo pengerjaannya gue bakal ngebut.” Tak jauh dari sana, Torro menyeringai puas. “Tuh lihat kan, Ren?” katanya dengan bangga. “Temen gue ini emang mekanik jempolan. Dia bisa perbaiki motor gue lagi tanpa masalah.” Rendy pilih untuk tak menanggapinya. Pujian itu memang pantas disematkan pada Ruslan, tapi Rendy berpikir mengenai komponen yang harus diganti, dibeli dan dipesan secara khusus di luar kota. Mengapa Torro berpendapat bahwa itu bukan masalah? “Oke.” Rendy menatap inti mesin yang berlumuran minyak, lalu berkata lambat-lambat, “Kalau soal budget nih, Bang. Total biaya perbaikannya kira-kira harus ngabisin berapa banyak?” “Perhitungan kasarnya?” Ruslan balik bertanya sambil menggaruk dagu yang dipenuhi bulu janggut tipis. “Mungkin nyampe sekitar tiga jutaan, bisa lebih dari itu juga sesuai sama kesediaan barang yang kudu dibeli. Gue harus ngecek harga pasaran tiap komponennya buat tahu secara akurat.” Rendy berpikir bahwa Ruslan tak perlu seakurat itu untuk memperhitungkan biaya. Perhitungan kasar, tiga juta? Tiga juta. Rendy mengulangi kata-kata tersebut tanpa suara. Ia lalu menunduk menatap lantai, merasa agak jengah. “Waduh, gede juga ya, Bang. Masalahnya gue gak yakin nih bakal punya duit segede itu.” Kini dirinya benar-benar merasa malu, ia sudah terlanjur meminta tolong, meminta Ruslan untuk datang dan mengecek kondisi motor ini. Seharusnya Rendy memperhitungkan ini sejak awal. Namun, Ruslan ternyata hanya berkata, “Masalah duit lo gak usah pikirin, Ren.” Rendy sontak menengadahkan kepala. Refleks melirik sosok Torro, yang kini menunjukkan ekspersi ‘Udah gue bilang.’ di wajahnya. Dirinya menoleh lagi pada Ruslan. “Eh maksudnya gimana, Bang?” Ruslan lekat menatap dirinya. “Gue bisa dibilang udah punya perjanjian tertentu sama almarhum kakak lo. Intinya, lo tenang aja, semua biaya perbaikan motor dia ini bakal gue tanggung.” Tetap saja Rendy tak mengerti. “Perjanjian macam apa?” Tangan Ruslan meraih sebuah baut di kotak perkakasnya dan memainkannya dengan jari. “Gue gak yakin bisa jelasin di sini. Lebih gampangnya lo datang langsung aja ke bengkel gue, atau ke rumah gue. Gue bisa tunjukkin lo langsung.” Mulai lagi. Rendy paling benci jika seseorang bersikap sok misterius begini, membuat dirinya penasaran. Sedalam apa hubungan pertemanan Torro dan pria ini sampai-sampai Ruslan mau menanggung semua modal reparasi motor yang menyentuh nominal jutaan? “Omong-omong,” Ruslan lanjut berkata, lalu mengecap-ngecap lidahnya. “Gue boleh minta air minum gak, Ren? Tenggorokan gua kering, nih.” Tiba-tiba saja Rendy awas pada ketiadaan jamuan di antara keduanya. “Oh ya, sorry gue lupa gak sempat nawarin. Boleh, Bang Ruslan mau minum apa?” “Yang gampang aja, air putih juga boleh. Yang suhunya dingin kalau ada.” Tanpa menunggu lama lagi Rendy memelesat pergi meninggalkan ruang garasi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN