"Itu bukan aku tapi salah satu penghuni pohon besar di belakang rumah." "Ha! Apakah itu benar?" Cha Cheon kaget hingga melongo mendengar nek Lansih bercerita. "Iya. Memang dia suka menyamar menjadi orang-orang yang kita sayangi dan sudah meninggal." 'Untuk apa?" "Agar bisa bercengkrama dengan manusia." "Tapi mereka menyeramkan," lanjut Cha Cheon. "Menyeramkan atau tidak itu kembali ke hati siapa yang memandangnya. Soal kualitas hati itu hanya Tuhan yang tahu." "Ayo masuk!" Nek Lansih menengok ke belakang, ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Menarik tangan Cha Cheon dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Ada apa, Nek?" Cha Cheon, membuka matanya. Ia tidak banyak alasan untuk menolak. Memilih mengikuti keinginan nek Lansih. "Masuklah dulu, kita bicara di gubuk ku," kata

