Butuh Ketenangan

1975 Kata

Hujan deras membungkus kota pagi ini. Namun, rintik air di pagi hari membuat para pelajar berteriak girang karena mereka pasti tak akan upacara. Qiana turun dari mobilnya dan mengembangkan payung yang ia genggam. Cewek itu berjalan gontai menuju kelas. Belum terlalu banyak orang yang datang meski sudah pukul tujuh kurang lima belas menit. Mungkin mereka masih terjebak hujan. Qiana menutup kembali payungnya saat sampai di koridor. Dia berjalan dengan langkah malas. Hujan di pagi hari seperti ini membuat mager. Apalagi semalam, dia habis menangis sampai matanya sedikit bengkak. “Qiana, tunggu!”  Qiana refleks menghentikan langkahnya. Dia menghela napas berat saat melihat Gilang berlari ke arahnya. Ia sudah tahu apa yang akan ditanyakan laki-laki itu. “Kenapa lo gak jadi ikut?” Gilang be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN