Rumah Tangga

551 Kata
Siang hari itu hujan turun, masih di bulan Februari, tepat seminggu setelah mereka kembali dari Pulau Macan. Renas menghabiskan lebih banyak waktu dengan Sara, dan untuk Sara. Segala hal berubah menjadi lebih baik setelah makan malam saat itu. Pernah satu malam, setelah kembali ke apartemen mereka, Renas mengatakan bahwa ingin memulai segalanya dari awal, termasuk di tempat baru. Renas meminta persetujuan Sara untuk membeli rumah, masih di Jakarta dia bilang, hanya saja tidak ingin lagi tinggal di apartemen. Renas membeli satu unit apartemen di Keraton Private Residence tepat setelah dia menikahi Sara. Sudah terlampau banyak kenangan tidak nyaman di hati di apartemen itu. Tidak ingin lagi berlama-lama tinggal di tempat itu. Sara selalu mendukung segala keputusan Renas, hanya saja mengenai hal tersebut, Sara tidak ingin Renas terburu-buru. Lagipula, Sara menyukai tempat yang mereka tinggali itu. Masih belum ingin berpindah tempat tinggal. Argumen kedua yang Sara lontarkan adalah bahwa rumah terlalu besar hanya untuk mereka berdua. Terlebih saat Renas harus terbang ke luar kota untuk beberapa hari, meninggalkan Sara di rumah sendiri. Sara tidak ingin berada di tempat baru yang terlalu luas sendirian. Kemudian suaminya berargumen bahwa dia akan mengajak Sara ke setiap acara yang harus ia hadiri, setiap acara. Sara mengatakan dia tidak menginginkan itu, bahwa ada saatnya Renas memiliki ruang sendiri dari Sara, terlebih soal pekerjaan. Sara menginginkan Renas untuk membagi ruang antara pekerjaan nya dan Sara. ‘Wanita yang sungguh... Oh Tuhan, sungguh…’ “Pukul berapa makan malam nanti?” Renas berjalan ke arah Sara yang membukakan kaleng minuman bersoda untuk berdua sore itu, tepat pukul 4 sore. “Pukul 8.” Sara tersenyum, memberikan minuman tersebut ke suami nya. “Will Richard be going alone, or...” Renas kembali bertanya, meneguk kemudian menatap Sara serius. “I actually have no idea.” Sara terlihat berpikir, mencari jawaban, mencoba menebak. “I don’t know.” Sara tertawa lembut, benar-benar tidak mengetahui informasi apapun mengenai sahabatnya itu apakah Richard sudah memiliki kekasih atau masih saja sendiri seperti sejak di Sekolah Menengah. “Is he a man with a strong character?” Renas masih bertanya, masih di tempat yang sama, berdiri tepat di samping Sara. “What do you mean?” Sara bertanya balik, tersenyum sekaligus merasa aneh dengan pertanyaan Renas yang sangat tidak biasa itu. “I mean…” Renas berhenti, kembali meneguk, terlihat sejenak berpikir, “Does he have a strong aura? You know… is he that kind of attractive men?” Renas merasa tersaingi, benar-benar cemburu. Sara tertawa di dalam, tertawa lepas, bahagia. Hanya saja tidak ditunjukkan. “Yes he does.” Sara menjawab sembari terlihat memutar memori akan Richard, dengan mata menatap suami nya dalam-dalam “But not as strong as you are. And in case you’re wondering, you are far more tempting, darling.” Sara menegaskan kembali. “Alright.” Renas tersenyum puas, menang atas pesaingnya, Richard Salim pria berdarah tionghoa yang adalah sahabat karib istrinya sejak di Sekolah Menengah. “I have an idea…” Renas terdiam sejenak, mengejutkan Sara dengan perkataannya barusan. Sore hari itu Renas memenangkan argumen untuk menjadi tuan rumah makan malam yang akan dihadiri Richard. Rencana awal sangat jelas batal. Pukul 4 lebih 15 menit Sara mengirim pesan kepada Richard memberitahunya bahwa rencana berubah, Richard dengan tangan terbuka diundang ke apartemen mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN