Adrian masih menggenggam erat cup coffe di tangannya. Kedatangan Nikita membuat pikirannya kacau. Wanita itu datang tiba-tiba. Padahal selama ini ia selalu menghindarinya. Bukannya Adrian takut, tetapi ia hanya tidak ingin melihat wajah Nikita yang terlanjur membuatnya luka. Bukan kehadiran Nikita yang ia harapkan saat ini, Seira lah yang sangat ia harapkan sekarang. Namun, sepertinya semua akan terasa sulit karena sikap tegas ibunya Seira yang selalu menghalangi hubungan mereka. Adrian kembali menyesap kopi hitamnya hingga tandas. Waktu yang semakin sore membuatnya enggan beranjak. Ia yakin Nikita pasti masih di ruang tunggu. Setelah menghabisakan kopinya, Adrian memilih beranjak dan duduk di bangku taman. Ia lebih memilih menjauh dari Nikita dari pada harus bertemu dengannya. “Adrian

