Setelah kejadian hujan itu, Johnny lebih sering berada di kamar, sepertinya kejadian itu benar-benar merubah dirinya ditambah lagi hari ini adalah hari ulang tahun Luna, membuat Johnny semakin merasa sedih dan bahkan belum keluar dari kamarnya sejak kemarin.
Jeha hanya bisa menatap pintu kamar Johnny yang tertutup rapat, dia belum berani untuk membuka pintu itu tanpa persetujuan Johnny, dia takut akan membuat laki-laki itu sedih kembali.
"Belum juga?"
Jeha menggeleng saat Hani bertanya padanya yang sudah menunggu kurang lebih dua jam hanya untuk menanti Johnny membuka pintu kamarnya, Hani menghela nafas panjang dan dia sudah mulai khawatir dengan putranya.
"Jeha, tolong bujuk dia ya, saya harus pergi sebentar."
Jeha mengangguk dan melihat Hani yang langsung pergi setelah mengatakan itu, beliau tampak buru-buru dan Jeha membiarkannya pergi, kini dia kembali menatap pintu kamar Johnny yang masih tertutup dengan rapat.
"Mau sampai kapan dia di situ terus." Gumam Jeha sambil terus melihati pintu itu dengan tatapan sedih.
Sedangkan orang yang ada di dalamnya hanya terdiam sambil menatap keluar jendela, lagi-lagi dia harus terpaku dengan jendela entah mau sampai kapan dia berada di sana, tapi yang pasti sekarang adalah Johnny sangat merasa hatinya begitu sakit. Merasakan bahwa dirinya gagal dalam menemukan Luna membuat pikirannya semakin kacau.
"Selamat ulang tahun." Kata Johnny lirih sambil meneteskan air matanya dan tatapan matanya lurus ke depan, dia tidak tau apa yang terjadi pada Luna hari itu, dan bayang-bayang tentang perempuan utu terus menghantui dirinya.
Baru sesaat dia agak melupakan soal Luna dan tersenyum, sebuah bola masalah kembali datang padanya.
"Johnny, nggak mau makan?"
Johnny mendengar suara Jeha memanggil dari luar, namun dia sedang tidak mau diganggu sama sekali dan membiarkan Jeha yang terus memanggilnya tanpa henti, Johnny memejamkan matanya yang terasa sangat panas.
Dia berdiri dan melangkah ke ranjangnya. Johnny langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar dan mulai memejamkan matanya kembali, dia harus pergi tidur untuk menghilangkan segala rasa sakit yang ada di dalam hatinya.
***
Jam terus berjalan dan kini sudah menunjukkan pukul tiga sore, Johnny membuka matanya yang masih terasa sangat berat, dia bangun dengan tangan yang menumpu badannya dan duudk tegap di atas ranjang.
Johnny beranjak turun dari kasur dan melangkah pelan ke arah pintu, dia merasakan bahwa dirinya sangat haus dan akan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air.
"Dance, dance, dance."
Samar-samar Johnny mendengar musik yang berasal dari ruangan arcade, dia mengerjapkan matanya pelan mencerna apa yang terjadi di dalam sana, dia langsung membulatkan matanya dan melangkah cepat menuju ruang arcade saat mendengar suara musik yang sepertinya berasal dari Pump It Up yaitu mesin arcade dance video yang sering dia mainkan bersama Luna.
Johnny membuka ruangan itu dan melihat seorang gadis yang tengah menatap ke layar melihat panah-panah yang bergerak seraya mencocokan itu dengan langkah kakinya, gadis itu tidak sadar kalau Johnny sudah berada di sana.
"Kamu ngapain di sini?"
Suara berat Johnny membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh ke arahnya, Jeha tersenyum manis saat melihat Johnny yang berdiri di depan pintu.
"Sini-sini." Katanya seraya tersenyum melihat Johnny yang perlahan mendekati dirinya.
"Aku nggak bisa main ini, dan daritadi dapet F terus."
Johnny melihat mesin Pump It Up itu dan melihat Jeha yang berdiri di atasnya melihat Johnny dengan tatapan bingung.
"Nggak usah main kalau nggak bisa."
"Mau coba?"
Johnny melihat mesin Pump It Up itu ragu, mungkin keahliannya bermain mainan ini sudah hilang karena dia sudah lama tidak melompat-lompat sambil tertawa di sana, dia menggeleng dan hendak pergi dari sana namun Jeha langsung menahan tangan Johnny.
"Ayo main bareng!" Ajak Jeha dan kemudian menarik Johnny naik ke atas metal Pump It Up.
Jeha mulai memilih lagu dan akhirnya jatuh pada lagu kpop Produce 101 - Pick Me. Jeha menginjak bagian tengah dan kemudian game pun dimulai. Tanpa disadari Johnny sudah berpengangan kencang di belakang dan kedua kakinya siap untuk memulai.
Saat lagu sudah mulai terputar Jeha yang juga ikut main di sebelah Johnny melihat Johnny yang sudah memulai lebih dulu dan ritme musik perlahan semakin kencang, banyak anak panah yang bermunculan dan kaki Johnny semakin lihai menginjak anak-anak panah itu.
Jeha tersenyum dan tidak mau ketinggalan, dengan lihai dia juga menginjak anak panah dengan penuh semangat dan tertawa saat musik sudah semakin cepat dan anak panah semakin banyak. Johnny juga tertawa namun matanya fokus ke layar dan kakinya bergerak dengan cepat.
"Ayo kita dapetin A." Kata Jeha penuh semangat dan semakin lincah bergerak, namun gerakan Johnny justru semakin melambat.
Kata-kata itu persis dengan kata-kata Luna ketika mereka bermain Pump It Up bersama, Johnny berdiam diri dan menatap layar Pump It Up dengan tatapan kosong karena itu banyak sekali anak panas yang miss karena Johnny membiarkannya begitu saja.
Jeha menyadari bahwa Johnny hanya berdiam diri di tempatnya malah ikut berdiam diri dan melihat Johnny yang menatap kosong layar itu tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
"John -"
Belum selesai Jeha memanggil, laki-laki itu sudah terjatuh di atas metal Pump It Up, tubuhnya sudah melemas, melihat itu Jeha langsung menahan tubuh Johnny dan melihat laki-laki itu dengan tatapan khawatir.
Johnny awalnya diam saja, sampai dia menepis tangan Jeha pelan, laki-laki itu kembali berdiri dan kemudian beranjak dan melangkah pelan pergi keluar dari ruangan arcade itu. Jeha hanya bisa terdiam melihat kepergian Johnny yang membuat dirinya merasa sangat sedih, entah kenapa.
***
Setelah kejadian Pump It Up itu, Jeha memutuskan untuk berjaga bersama Brian di depan rumah sambil menikmati teh manis yang sudah dibuatkan oleh mbak Fitri tadi.
"Tuan Johnny sering ngalamin hal-hal sulit kayak gini ya mas Bri?"
Brian meneguk teh manisnya dan mengangguk, "Sering banget Je, bahkan sebelum ada kamu datang yaa setiap hari tuan Johnny kayak gini."
"Tuan Johnny udah boleh keluar rumah?"
"Belum, masih takut kenapa-kenapa kalau dibiar keluar gitu aja."
Jeha nenghela nafas panjang sambil menatap ke depan gerbang, "Repot juga ya kalau punya musuh kayak gini."
"Namanya bisnis Je, ada aja yang sirik, apalagi kamu tau kalau Christian Grup emang besar banget, dan mereka ngincar penerus Grup itu yang tak lain adalah tuan Johnny."
Jeha termenung mendengar ucapan Brian yang memang ada benarnya, mereka membuat Johnny semakin menjadi seperti ini, dan akan senang apabila Johnny jatuh.
"Maka dari itu kita semua seneng banget pas kamu temenan sama tuan Jo -"
"Tunggu, mas Bri tau dari mana?"
Brian langsung terkekeh saat Jeha menanyakan itu kepadanya, dia merubah posisi duduknya menyamping lebih menghadap ke Jeha.
"Kemarin, saat hujan-hujanan itu, kamu buka pintu kamar tuan dan langsung meluk, nggak ada orang yang berani ngelakuin itu selain kamu Je,"
"Dan tuan pun nggak marah saat dia sama kamu, kalau itu mbak Fitri, bisa-bisa mbak Fitri dibanting sama tuan."
Jeha manggut-manggut dan berpikir bahwa apa yang Brian katakan ada benarnya juga.
"Dan aku Je, aku itu disebut mata-mata karena aku tau segala hal."
"Bukannya tukang gosip?"
"Y-ya bahasa kerennya mata-mata sih."
"Mana ada."
Jeha tertawa pelan disusul dengan Brian yang juga tertawa, gadis itu teringat sesuatu dia ingin menanyakan ini kepada Brian sedari dulu tapi selalu tidak sempat karena dia tidak ada waktu untuk berbicara berdua seperti ini.
"Mas Bri."
"Apa?"
Jeha terdiam melihat Brian yang asik menyesap teh hangatnya dan menikmati tehnya yang mengalir ke tenggorokan.
"Je- Jeha mau nanya."
"Silahkan, nanya aja nanti dijawab."
"Mas Axel emang udah lama jomblo ya?"
Brian yang sedang asik menyesap teh nya langsung tersedak saat tiba-tiba Jeha menanyakan tentang Axel yang dia rasa sangat aneh, dia melihat Jeha yang sudah tersenyum-senyum sendiri sambil menunduk malu.
"Asal kamu tau Je, Axel itu paling males banget sama yang namanya deketin cewek, gimana mau deketin oran dia aja tertutup banget anaknya, mungkin cewek-cewek juga bakal kabur kali sama dia."
"Masa sih mas?"
Brian mengangguk yakin membuat Jeha semakin menunduk malu, berarti Axel masuk ke dalam tipenya, cowok-cowok cuek yang cool dan dingin sama perempuan, itu sudah menjadi cowok impian Jeha sejak dia memasuki dunia novel, mungkin karena dirinya terlalu banyak membaca nove-novel dengan karakter cowok cuek yang ganteng abis, dan Axel masuk ke dalam salah satu tokok utamanya.
"Kamu mau tau kenapa cewek-cewek nggak mau sama dia?"
"Karena cuek dan cool kan mas?" Tebak Jeha dengan wajah berseri-seri.
"Bukan."
"Lah, terus?"
"Dia gaptek banget, pake banget."
Jeha mengerutkan keningnya dan melihat Brian tak percaya, masa iya di zaman yang sudah canggih ini tapi masih ada orang yang gagap teknologi, apalagi untuk seorang Axel yang sepertinya sangat sempurna.
"Dia aja nggak bisa bikin Ingsta."
"Hah? Serius?"
"Terus dia kaget kalau hape sekarang bisa pakai sidik jari, katanya udah kayak detektif."
Jeha membungkam mulutnya, buang jauh-jauh kalau Axel tipe cowok dingin dan cool yang sudah ada di dalam pikirannya, "Dia aja bahkan nggak tau cara mesen ojek online, kalau mobilnya lagi sakit dia mau ga mau jalan ke sini , kalau ada bus ya naik bus sih."
"Parah ya gapteknya."
"Kan, jangan tertipu sama muka kamu, tapi gitu-gitu dia pintar salam merencanakan strategi Je, bisa dibilang hampir semua rencana yang udah dia buat berhasil."
"Di situ dia banyak disukain sama orang-orang banyak, apalagi dia lumayan ganteng."
Jeha mengangguk setuju saat Brian mengatakan yang terakhir, Axel itu kelewat tampan dan juga dia sangat sopan dan baik, benar-benar seperti suami idaman, maka dari itu Jeha suka dan terpikat pada Axel dalam beberapa hari saja.
Jeha tersenyim simpul sambil memandang ke depan, kini laki-laki itu sedang bertugas di rumah utama, belum mampir ke sini dan mereka pun belum mengobrol bersama, maka dari itu Jeha merasakan ada ruang kosong di dalam hatinya.
***
Seperti biasa Johnny duduk dengan kursi roda kesayangannya di depan halaman rumahnya sambil menikmati angin malam yang menyapu wajahnya, dia sesekali memejamkan matanya untuk menikmati semua itu, dan mengatur nafasnya membuat semua pikirannya menjadi tenang.
Jeha yang sudah menentang tas di bahunya langsung berhenti melangkah saat melihat Johnny yang ada di sana sambil duduk di kursi roda, laki-laki itu rupanya kembali memakai kursi roda, mungkin dia terlalu lemas untuk berjalan tadi saja dia terjatuh saat bermain Pump It Up.
Mengingat kejadian Pump It Up, Jeha menjadi merasa bersalah karena sudah memaksa Johnny untuk bermain bersamanya, dia melihat Johnny yang masih di sana tak bergerak hanya memandang langit dengan kedua matanya.
Karena merasa bersalah, Jeha berjalan mendekat dan menghampiri Johnny yang sedang asik memandang langit.
"Aku minta maaf."
Jeha membuka suara dan berdiri di samping kursi roda Johnny, laki-laki itu agak terkejut saat mendengar suara Jeha namun dia tidak menoleh ke gadis itu dan masih memperhatikan langit tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jeha.
"Karena udah maksa kamu saat kita di Pump It Up tadi, dan minta maaf juga karena udah dengan lancang langsung main ke sana tanpa minta izin ke kamu." Ujar Jeha melihat Johnny yang sepertinya sedang mendiamkan dirinya.
"Kamu marah?"
"Nggak apa-apa." Kata Johnny cepat dan kemudian dia baru menoleh dan mendongak melihat wajah Jeha.
Jeha menatap mata Johnny yang juga sedang menatapnya, dapat dilihat jelas bahwa ada kesedihan di dalam mata Johnny, kesedihan yang entah kenapa Jeha pun tidak bisa menatap matanya terlalu lama karena merasa kasihan kepada Johnny.
"Lain kali jangan diulangi lagi, dan biarin ruangan itu tertutup."
Tangan Johnny bergerak memundurkan kursi rodan dan hendak berbalik namun dengan cepat Jeha menahannya. Johnny langsung melihat Jeha saat kursi rodanya di tahan oleh gadis itu, dia melihat wajah Jeha yang sepertinya menyembunyikan kekesalan.
Dia membuang nafas kasar dan melihat Johnny dengan tatapan sebal, seolah-olah dia akan membunuh Johnny saat ini juga.
"Johnny." Panggilnya dengan penuh penekanan.
"Aku pikir kita ini teman, aku pikir kamu ini mau bersungguh-sungguh menjadikan aku teman, tapi ternyata malah seperti ini!"
Johnny terkejut saat melihat Jeha marah untuk pertama kalinya di hadapannya. Jeha berkacak pinggang dan mengibaskan rambutnya ke belakang sambil mengertakkan giginya kesal menatap Johnny penuh dengan api membara.
"Kamu tau apa itu teman kan? Teman , aku eja T-E-M-A-N, Teman! Bukanya sebagai teman aku harus menghibur kamu kalau kamu sedih? Bukannya sebagai teman kamu ini cerita padaku kalau kamu ada masalah, kenapa hanya ditutup sendiri? Kenapa kamu harus sakit sendiri, kenapa kamu nggak mau berbagi?"
"Karena aku cewek? Takut kalau aku ikutan menjadi sedih dan akhirnya terbebani sama masalah kamu- ha!" Jeha mendengus dan melihat Johnny dengan tataopan tajamnya.
"Kamu tau? Aku Jeha, aku eja J-E-H-A. amu nggak tau aku? Aku bahkan bisa memenjaraka pencuri dan membuat Axel mimisan kamu tau, kalau kamu liat Axel dia bahkan mimisan karena aku nendang dia, secara nggak sengaja sih, dan juga asal kamu tau cerita kamu itu nggak akan jadi beban buat aku! Jadi cerita aja dan jangan ada yang ditutupin sekarang, karena apa? KARENA AKU TEMAN KAMU, AKU EJA, T-E-M-A-N!"
Jeha mengatakan itu dengan satu tarikan nafas, dan saat selesai mengucapkan apa unek-unek yang ada di dalam hatinya dia langsung kehabisan nafas dan mengatur nafasnya, dadanya naik turun melihat Johnny dengan tatapan tajamnya.
Sedangkan, Johnny hanya terdiam dan melongo dengan apa yang Jeha katakan, dia melihat gadis itu yang sepertinya sangat marah dan Johnny hanya terdiam dan tidak merespon apapun.
Jeha berhasil menenangkan dirinya dan melihat bahwa Johnny tidak bereaksi apa-apa membuatnya jadi takut sendiri, barusan dia membentak direktur dan ahli waris dari Chiristian Grup! Jeha menyadari kebodohannya itu dan mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Dia bahkan memukul kepalanya pelan sambil melihat Johnny yang hanya melihatnya dan itu semakin membuat Jeha takut, dia berharap dirinya serta keluarganya akan baik-baik saja setelah ini.