Bab 4 : Kisah Pilu

2138 Kata
"Jadi, lo terima tawaran itu?" Jeha mengangguk melihat temannya yang berdecak kagum, Sesi hanya bisa tersenyum bangga kepada sahabatnya ini, "Wah, ternyata lo udah bisa nentuin yang terbaik buat lo ya Je, gue salut." Kata Sesi dan Jeha tersenyum senang mendengarnya. Dia melihat keluar jendela dan menatap langit malam yang terasa sangat damai baginya, ada satu permasalahan lagi di dalam hidupnya, yaitu bagaimana dia harus menghadapi dan memberitahu ibunya kalau dia menerima pekerjaan yang berat ini, yang tentu saja melibatkan nyawa Jeha dan keselamatan Jeha saat bekerja. Berkali-kali dia berpikir, akhirnya dia bisa menyusun kata-kata untuk disampaikan kepada ibunya, dia harus bisa mengambil hati ibunya dan membuatnya menyetujui dengan apa yang Jeha sudah ambil untuk jalan hidupnya. Dan di sinilah dia, di meja makan rumahnya bersama ibunya yang lahap memakan makanan yang tentu saja bekas sisaan majikan yang masih sangat banyak, karena kalau dibuang akan menjadi sampah dan makanan ini masih sangat layak untuk dimakan, ibunya selalu membawa makanan-makanan mewah itu ke rumah. Sedangkan Jeha hanya menatap miris makanan itu, dia merasa miris dengan keluarganya yang seakan-akan tak mampu membeli makanan dan malah membawa makanan sisa dari rumah majikan. "Ibu." "Ya?" Jeha mengangkat kepalanya dan kemudian melihat ibunya yang menunggu dirinya mengatakan sesuatu. "Mulai sekarang, jangan bawa makanan sisa dari sana lagi." Ibunya terdiam, beliau tau kalau anaknya tidak suka dengan hal yang selalu dia lakukan, namun untuk menghemat segala hal beliau membiarkan dirinya membawa makanan-makanan sisa itu. "Ini masih enak dimakan kok nak." Ibunya  tersenyum dan mengambil sepotong ayam utuh lalu memakannya, Jeha menghela nafas. "Jeha dapat pekerjaan." Ibunya berhenti mengigit ayam dan langsung melihat Jeha tidak percaya, "Apa?" "Aku dapat pekerjaan." Jeha lagi-lagi menghela nafas saat ibunya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anak gadisnya itu. "Ka-kamu." "Iya, aku dapat pekerjaan, aku tau selama ini ibu menghemat untuk keperluan kita dan selalu bawa makanan sisa, aku tau dan aku ngerti, tapi mulai sekarang ibu bisa menghentikan kebiasaan itu dan makan dari hasil kerja aku, ya?" Ibunya menjatuhkan ayam itu digigitannya dan kemudian menunduk sedih, beliau mulai terisak beberapa menit kemudian dan itu membuat Jeha merasa amat sakit hati, saat mendengar suara tangisan ibunya. "Makasih nak, ma-ma." Suaranya ibunya terputus karena isakkan tangis dan itu membuat Jeha menjadi ikut menangis. "Jangan nangis bu, hikss." Jeha beranjak dari kursinya dan memeluk tubuh ibunya yang dingin, Jeha semakin menangis karenanya, ibunya sudah terlalu banyak berjuang untuk menghidupi keluarga kecilnya, sampai beliau harus pulang malam hari, hal itu membuat Jeha semakin menangis kencang dan memeluk tubuh ibunya sangat erat, guna untuk membagikan kehangatan dalam dekapannya. *** Jeha tersenyum senang saat dirinya bangun di pagi hari dan mengetahui bahwa ini hari pertamanya untuk bekerja, dia tersenyum dan langsung lari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Setelah selesai mandi dia membuka lemari pakaiannya dan mencari pakaian yang se-simple mungkin untuk dia kenakan, dia tersenyum lebar saat melihat kaos putih polos dan celana jeans yang akan dia pakai. Axel bilang, kalau dia hanya perlu memakai pakaian yang simple saja, karena memang pekerjaannya hanya menjaga rumah dan menjaga orang dewasa yang sedang sakit. Jeha melihat ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk di ponselnya dan dengan semangat dia langsung membuka pesan itu, melihat bahwa pengiriminya adalah Axel. Aku sudah ada di depan rumah kamu, kita berangkat bareng untuk hari pertama kamu. Jeha tersenyum dan langsung keluar dari kamarnya, ibunya sudah berangkat kerja lebih dulu jadi dia tidak bisa pamit untuk berangkat kerja kepada ibunya. Jeha lari ke pintu rumah dan langsung membuka pintu rumahnya cepat. Dia langsung melihat seorang laki-laki tampan yang tersenyum saat Jeha menampakkan wajahnya. "Pagi." Jeha terdiam sebentar dan melihat Axel yang terlihat sangat tampan di matanya, "Pa-pagi." Seketika dia menjadi gugup saat melihat senyuman Axel yang terlihat sangat tampan. "Mau berangkat sekarang?" Jeha mengangguk, "Aku ke dalam dulu, mau ambil tas." Katanya dan kemudian masuk ke dalam, mengambil tasnya dan segera kembali ke luar. "Sebentar." Jeha menutup pintu rumahnya dan menguncinya, dia berbalik dan melihat Axel setelah berhasil mengunci pintu rumahnya. Axel segera melangkah ke mobilnya dan Jeha mengikutinya dari belakang. Gadis itu duduk di kursi penumpang dan Axel masuk ke dalam kursi kemudi, dia mengenakan seatbelt nya lalu melihat Jeha yang hanya terpaku pada Axel sedari tadi. "Kena-" Axel berhenti berbicara dan melihat Jeha yang tidak memakai seatbeltnya, dia tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke depan mendekat ke gadis itu mengambil seatbelt yang ada di dekat pintu mobil, dia menarik seatbelt itu dan memasangkannya. Jeha terdiam dan melihat wajah Axel yang sangat dengan wajahnya tadi, dia bahkan sampai menahan nafas karena terlalu gugup berada di samping Axel, laki-laki itu entah kenapa sangat mempesona. "Begini baru aman." Kata Axel melempar senyuman manis dan menatap ke depan, Jeha yang sudah seperti kepiting rebus hanya bisa menatap keluar jendela melihat jalanan dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. *** Akhirnya mereka sampai  di rumah kediaman Johnny yang sangat mewah, walau sudah melihat dua kali rumah itu tapi Jeha tetap terpukau dengan bangunan rumah itu yang sangat mewah di matanya. "Perkenalkan ini Brian yang akan menjadi teman kamu nanti."  Jeha melihat pria yang agak lebih tua dari Axel namun tetap terlihat tampan, pria itu mengulurkan tangannya dan Jeha langsung menjabat tangan pria itu. "Brian." "Jeha." Mereka melepaskan jabatan tangan  mereka dan Jeha tersenyum, "Mohon bantuannya." Kata Jeha sambil tersenyum lebar, Brian balas tersenyum dan mengangguk, "Kamu masuk dulu aja, perkenalan sama yang lain juga." Kata Brian melirik Axel, mengkode agar membawa gadis itu segera ke sana. Axel mengangguk dan kemudian langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka masuk ke dalam dan Jeha mengikuti Axel dari belakang dia sangat gugup hari ini karena dia sudah resmi menjadi bagian dari anggota keamanan keluarga Chiristian. "Perkenalkan semua, ini Jeha yang akan menjadi anggota keamanan baru di sini, walaupun perempuan dia bisa menghajar laki-laki, saya aja hati-hati sama dia." Canda Axel membuat beberapa pelayan tertawa pelan karenanya. Axel menoleh ke arah Jeha dan gadis itu langsung sadar kalau dia harus memperkenalkan dirinya, "Halo, nama saya Jeha, kalian bisa panggil saya Jeha, mohon kerjasamanya." Kata Jeha diakhiri dengan senyuman, dia melihat Axel dan laki-laki itu tersenyum puas. "Ayo Jeha, kayaknya kita harus keliling rumah, kita harus mengenalkan ini sama kamu." Kata Axel dan Jeha mengangguk setuju, dia melihat Axel mulai melangkahkan kakinya lagi dan dengan cepat Jeha mengikuti langkah kaki Axel dengan senyuman. "Ini ada ruangan ini, ya bisa dianggap ini sebagai ruang bermain?" Axel membuka pintu sebuah ruangan, Jeha dan Axel masuk secara bersamaan, Jeha menatap takjub ruangan itu. Di dalam ruangan itu ada mainan mainan yang ada di arcade, bisa dibilang ruangan ini persis seperti arcade, Jeha tak bisa berhenti berdecak kagum melihat semua yang ada di hadapannya. Dia jadi memikirkan, berapa total kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Christian? Bagian hanya untuk rumah anaknya mereka punya semua ini. "Axel." "Ya?" "Kamu juga kerja di sini?" Axel menggeleng, "Aku jaga di rumah utama." "Rumah utama? Ahhh rumah yang dihuni oleh pak Christian?" Axel mengangguk karena apa yang dikatakan Jeha tepat sekali. Jeha menggeleng tak kuasa membayangkan bagaimana mewahnya rumah utama jika dibandingkan dengan rumah kediaman Johnny. Dia melihat Axel yang membuka kancing lengan kemejanya dan melipat lengan kemejanya sampai ke siku satu per-satu. Gerakan Axel yang sedang melipat lengan kemejanya itu membuat Jeha terpana, dia tidak bisa mengatakan apa-apa sambil melihat laki-laki itu dengan tatapan terpana, seperti terpesona oleh Axel dan bahkan dia merasakan jantungnya terasa sangat aneh, ada perasaan menggelitik dan dia tidak itu apa. "Bagaimana? Bagus kan? Tapi ruangan ini sudah jarang dipakai, karena pemiliknya nggak pernah ke sini lagi semenjak kecelakaan itu." Jeha mengerutkan keningnya dan melihat Axel, "Kecelakaan?" *** Jeha melihat Johnny yang sedang terlelap, di sampingnya ada Axel yang menemani, dia melihat Jeha yang fokus melihat Johnny. "Jadi, bigfoot, ah maaf maksud aku tuan Johnny, mengalami kecelakaan dan dia jadi kayak gini?" Axel mengangguk dan Jeha langsung menatap Johnny dengan tatapan iba, "Aku udah janji akan memberi tau semuanya kan? Karena kamu udah termasuk ke anggota kami, jadi aku akan ceritakan semua." "Iya, silahkan." Axel tersenyum dan kemudian melangkah menjauh dari kamar Johnny, dia pergi ke halaman belakang rumah dan Jeha mengikutinya dari belakang, Axel berhenti dan melihat Jeha yang sudah berdiri di sampingnya. Halaman belakang rumah sangatlah indah, ada banyak bunga dan ada juga akuarium berukuran besar yang berisi ikan-ikan hias yang sangat cantik, dan mereka kini sedang berdiri di depan akuarium besar itu memandang ikan-ikan yang sedang berenang ke sana dan ke mari. "Ini namanya Bia."  Axel menunjuk spesies ikan Guppy lucu berwarna emas cerah dan Jeha ikut melihat ikan itu dan tersenyum lebar. "Ini ikan peliharaan Luna, mantan kekasih tuan yang akhirnya menghilang." "Menghilang?" Axel mengangguk sekali lagi dan melihat Jeha yang sudah memasang wajah penasaran, Axel terdiam sebentar merasa bingung harus dari bagaian mana dia menjelaskannya pada Jeha, karena bisa dibilang kejadian ini adalah kejadian buruk yang tidak mau diingat oleh siapapun lagi. "Tuan mempunyai tunangan namanya Luna dan mereka sebentar lagi akan menikah, sekitar beberapa minggu lagi mereka menikah, namun naasnya mobil yang mereka tumpangi mengalami kerusakan dan akhirnya mereka berdua mengalami kecelakaan yang kita sendiri nggak tau bagaimana kecelakaan itu terjadi, dan malam-malam kami dihubungi kalau mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan, tuan mengalami pendarahan hebat dan supir yang membawa mereka tewas di tempat," "Luna, bagaimana?" Axel menghela nafas panjang, "Dia tidak ditemukan di tempat kejadian, seperti menghilang begitu saja," Jeha menutup mulutnya tak  percaya saat mendengar cerita Axel, dia jadi ikut merasakan apa yang Johnny rasakan, dia pasti sangat tersiksa karena itu. "Kita sudah mencari Luna di mana-mana, tapi sekali lagi, dia tidak bisa ditemukan, bahkan sampai sekarang pun kita tidak tau di mana keberadaan Luna dan bagaimana kondisi dia, apakah dia sudah meninggal atau masih hidup." "Pasti berat untuk tuan." Axel mengangguk, "Makanya tuan berada dititik ini, dia tidak bisa menerima kenyataan kalau Luna pergi begitu saja tanpa kejelasan." Jeha terdiam, tidak bisa membayangkan kalau dia yang ada di posisi Johnny, itu pasti sangat menyiksa. Kenyataan pahit yang harus menimpa Johnny membuat Jeha merasa ikut sakit hati. *** Johnny membuka matanya lebar-lebar saat dia kembali mengalami mimpi buruk tentang Luna yang entah kenapa terus menghantuinya dia duduk di atas kasunya dan meghela nafas sambil melihat ke depan, dia terkejut dan pupil matanya membesar saat melihat seorang gadis cantik di hadapannya yang sangat mirip dengan Luna. Gadis itu tersenyum kearahnya dan hanya terdiam di sana sambil melihat Johnny yang kini sedang memegang dadanya, dadanya terasa sangat sesak dan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain memandang gadis itu. "Johnny." Gadis itu memanggilnya lirih, dan Johnny sangat mengenal suara itu, itu suara Luna, suara tunangannya yang menghilang dan Johnny sangat merindukannya, "Johnny." Johnny terpaku, itu benar suara tunangannya, dia melihat sosok gadis itu yang tersenyum semakin lebar, jadi Luna sudah ditemukan? Jadi Luna sudah kembali? Johnny jadi ikut tersenyum lebar dan kemudian turun dari atas ranjangnya, kakinya menyentuh lantai yang dingin dan langsung melangkah pelan menghampiri Luna yang tersenyum lebar sambil melihat Johnny. Johnny tersenyum dan dalam beberapa langkah dia sudah berada di hadapan Luna sambil tersenyum, "Kamu di sini?' Katanya dan gadis itu mengangguk tanpa suara. Johnny tersenyum, dia mengangkat tangannya perlahan dan hendak menyentuh pipi Luna, namun ada sesuatu yang janggal. Gadis itu tidak bisa dia gapai. Tatapan Johnny langsung berubah seketika saat tangannya hanya menyentuh angin, dia tidak dapat merasakan pipi Luna, dia langsung berubah menjadi panik saat tubuh gadis itu perlahan menghilang dari hadapannya. "Luna!" "Lunaa, nggak -nggak Luna!!" Johnny coba menggapai Luna namun, gadis itu sudah menghilang dari hadapannya itu membuat Johnny sangat-sangat terkejut. "Luna, kamu di mana sayang? Luna!!" "LUNAAA!" Johnny berteriak dan mulai mengancurkan semua barang-barang yang ada di atas meja sambil menangis kencang, dia menjatuhkan dirinya di lantai dan mennagis tersedu-sedu sambil memanggil nama tunangan yang tidak akan pernah bisa dia temukan lagi. Jeha dan beberapa pelayan yang mendengar suara pecahan barang langsung berlari menuju kamar Johnny dengan terburu-buru, takut kalau laki-laki itu akan melukai diirnya sendiri, Jeha berlari paling depan, memimpin mereka dan membuka pintu kamar Johnny. Barang-barang berserakan di lantai dan laki-laki itu terduduk di lantai sambil menangis kencang, Jeha melihat ada banyak pecahan kaca di sana, "LUNA!!" Axel yang baru datang langsung terkejut dan melihat Johnny yang sedang menangis di sana sambil terus berteriak. "LUNAA!!" Jeha merasakan matanya memanas, apa yang dilihatnya kini sungguh sangat menyayat hati, dia sangat ingin memeluk Johnny sekarang, namun hal itu tidak bisa dia lakukan. Sampai akhirnya laki-lakii  itu mengambil pecahan kaca dan melihat pecahan kaca itu dengan tatapan kosong. Semua orang yang ada di sana langsung panik dan beteriak saat laki-laki itu hendak menancapkan pecahan kaca itu ke urat tangannya, namun dengan cepat Jeha berlari melewati pechan kaca itu dan segera memeluk Johnny dengan erat. "Jangan." Kata Jeha dan gerakan tangan Johnny terhenti, dia terdiam saat merasakan tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya, "Jangan." Kata Jeha lagi dan Johnny langsung melemas, dia menjatuhkan pecahan kaca itu dari tangannya dan kemudian menumpu badannya pada Jeha. Johnny jatuh pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN