"Memang kenapa? Kakak memang dari dulu selalu nyusahin! Setelah orang tua Kakak meninggal, memang siapa yang ngurus Kakak? Orang tuaku, tau! Orang tua Kakak meninggal waktu Kakak masih kecil. Orang tua Aning yang membesarkan Kakak, apa Kakak tidak ingat itu!" Kali ini Aning mengungkapkan isi hati. Ia sampai hampir menangis sambil menunjuk-nunjuk dirinya. "Gara-gara pergi sama Kakak, orang tuaku kecelakaan, Kak. Tapi apa yang terjadi? Orang yang menabraknya malah memberi ganti rugi pada Kakak bukan padaku. Iya 'kan?"
"Aning, kamu juga dapat," bantah Aida.
"Iya, tapi kenapa Kakak dapat yang paling besar, hah? Kenapa?!" Aning meneteskan air mata.
Tentu saja karena kecelakaan itu menyebabkan mata Aida buta. Dan orang yang menabrak itu memberi ganti rugi pada paman dan bibi mereka yang satu lagi, untuk memastikan Aida bisa sekolah dan menjalani hidup seperti manusia normal lainnya. Aning hanya mendapat uang duka.
Aida tak mau mengungkit ini karena takut Aning merasa diperlakukan tidak adil. Namun ternyata sepupunya itu sudah merasakannya sejak lama. "Aning ... selama kamu di sini, Kakak 'kan gak pernah beda-bedain kamu." Ia berusaha bicara lembut.
"Tapi tetap saja, seharusnya aku yang dapat kompensasi yang lebih besar, tau! Kenapa aku jadi orang yang menumpang di sini? Bukankah orang tuaku yang membesarkan Kakak? Harusnya rumah ini jadi milikku!"
"Aning, astaghfirullah aladzim." Aida mengurut dadda.
"Apa?!" Kini Aning menyerangnya dengan mata melotot dan air mata yang masih berderai. "Sekali lagi ada kejadian kayak gini lagi, Kakak harus keluar dari rumah ini! Aning gak mau tau!" bentaknya dengan suara lantang sambil tangannya menunjuk ke arah luar. Ia kemudian bergegas ke kamar dan membanting pintu.
'Ya, Allah. Salah apa aku selama ini dengannya', batin Aida lirih. Ia berusaha untuk ikhlas. Padahal tidak sedetik pun juga ia pernah menyusahkan Aning. Ia berusaha mandiri bahkan membantu sepupunya itu menyelesaikan pendidikannya hingga tamat SMA dari gajinya sebagai guru. 'Aning. Maafkan kakak kalau selama ini menyusahkanmu, tapi ... mudah-mudahan Bang Bara tidak seperti yang kamu takutkan.' Aida menghela napas pelan.
****
"Bara ... sini!" Ipah memanggil.
Collins yang baru keluar dari kamar, datang mendekat. "Ada apa, Mpok?"
Ipah melepas tali ukuran yang ia kalungkan di leher sedari tadi. "Bentar. Mpok mau ngukur. Diem aje lu di situ." Wanita itu kemudian melingkarkan tali ukuran itu di sekitar dadda Collins.
"Buat apa, Mpok?" tanya pria itu bingung. Ia memperhatikan kakak angkatnya ini mengukur tubuhnya.
"Mpok lagi belajar bikin baju laki. Lu ntar Mpok bikinin baju satu, dah!"
"Kenapa ngak Babe aja sih, Mpok?" Collins memberi pilihan.
"Aku mau bikin baju opah-opah koreah."
"Aku bukan opah-opah Korea, Mpok ...." protes Collins pelan.
"Ntar Mpok bikinin kemeja batik. Masa gak mau sih?"
Melihat Ipah yang terlihat serius, akhirnya Collins hanya bisa diam. Pria itu melirik kumpulan bapak-bapak yang ramai di ruang tamu. Sepertinya ada rapat tertutup sehingga Collins tak berani mengganggu babe.
Setelah diukur Ipah, Collins ke dapur mengambil air minum. Sesudahnya ia kembali ke kamar.
"Bara!"
Collins menoleh. Babe memanggilnya. Rapat di ruang tamu ternyata telah selesai dan mereka telah pulang.
"Ada apa, Be?"
"Begini ... ade pencuri nyang ngedatengin rumah warga dan udeh dua rumah nyang disantroni maling."
"Astaghfirullah aladzim," imbuh Ipah sambil mendengarkan.
"Jadi, kite akan siskamling lagi mulai malem enih."
"Siskamling apa, Be?" tanya Collins dengan polosnya.
"Itu ... jage malem. Lu kebagian juga yak."
"Aku? Jaga malam?" Collins menunjuk dirinya, terkejut.
"Iye, tapi jangan takut. Lu gak sendirian."
Collins masih terlihat bingung. "Sampai pagi?"
"Menjelang subuh udeh boleh pulang. Nanti posnye di pos ronda nyang biase." Babe menerangkan.
"Tapi gimana Bara mau ngojek, Be? Nanti terlanjur ngantuk," protes Bara sambil masih berusaha mencerna bagaimana siskamling ini bekerja. 'Ini maksudnya aku tidak tidur semalaman? Kenapa susah sekali hidup jadi orang miskin? Ini tidak ada bedanya dengan orang kaya, hanya orang kaya menghasilkan uang sedang orang miskin tidak. Tapi aku harus bisa melebur bersama mereka karena memang ini konsekuensinya.'
"Ye, keadaan lingkungan sedang genting. Babe sebagai ketua RT di marih harus bisa membuat lingkungan nyang aman dan nyaman untuk wargenye. Enih udeh tanggung jawab babe."
"Sabtu atau Minggu aja ya, Be? Bara 'kan kerja." Collins memberi alasan.
"Ya udeh, nanti babe usahain buat elu." Babe menepuk bahu Collins dengan mantap.
****
"Bang ...." Aida bicara sebelum naik motor Collins.
"Ya?"
"Abang bisa nyetir mobil gak?"
"Bisa. Kenapa?" Collins merapikan duduknya.
"Minggu depan ada jalan-jalan ke pantai. Sebenarnya itu tugas sekolah. Kebetulan karena banyak yang ikut, kekurangan sopir untuk berangkat. Abang bisa bantu?"
"Oh, hari apa?" Collins melebarkan kedua matanya.
"Sabtu."
'Oh, Sabtu ya ....' Collins menyentuh dagunya. "Mudah-mudahan bisa."
"Jangan mudah-mudahan, Bang ... aku ingin yang pasti." Wajah wanita itu sedikit merengut.
Collins melihatnya dan tersenyum. 'Lucu juga kalau dia lagi kesal.' "Ya, udah. Boleh."
"Nanti Abang gak perlu keluar uang karena akomodasi dikasih. Cuma sehari aja kok, gak nginep. Nanti kita kasih uang jasa juga."
"Iya, iya," jawab Collins dengan sabar.
"Berarti nanti aku daftarin ya." Wajah Aida terlihat lega.
"Iya, ayo pulang." Pelan-pelan Collins senang, wanita ini mulai percaya padanya, dan akrab karena memanggil diri sendiri dengan 'aku'. Sebuah permulaan yang membahagiakan.
****
Collins hanya menunggu di pinggiran yang teduh, memandangi motornya. Siang itu cukup panas. Ia tidak ingin masuk ke dalam pasar yang riuh menemani Ipah belanja. Terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki parkiran.
Sebenarnya Collins sering panik melihat mobil mewah merek apa pun di jalan karena selalu menyangka mobil itu tengah mencari dirinya. Seperti saat ini. Ia langsung menegakkan kerah jaket tipisnya untuk menyembunyikan kepala. Kemudian ia duduk berbalik arah 'Hah ... aku harus beli topi, kalau begini. Aku tidak bisa mengandalkan helm kalau ingin menyembunyikan wajah.'
Ya, helmnya tertinggal di motor. Orang yang berada di dalam mobil, keluar dan ia adalah seorang wanita berkerudung bersama anak perempuannya yang berusia sekitar 10 tahun. Keduanya melewati Collins saat masuk ke pasar.
Collins lega karena tak mengenal mereka. 'Hah ....' Ia berdiri tegak. 'Kalau begitu aku beli topi dulu deh! Topi yang waktu itu hilang entah ke mana.' Pria itu kemudian melangkah masuk ke dalam pasar.
****
Langit gelap saat menjemput Aida. Wanita itu bergegas melangkah dengan tongkatnya ketika mendengar motor Collins datang.
"Cepat, Mbak. Sebentar lagi hujan!" teriak Collins dari atas motor.
"Iya, iya." Baru saja Aida meletakkan bokkongnya, motor itu langsung bergerak sehingga ia terkejut. "Eh!" Aida terpaksa meraih apa saja yang berada di depannya agar tak jatuh ke belakang.
Collins mempercepat laju motornya, melewati gang-gang yang biasa ia lalui. Butiran air mulai jatuh satu-satu.
Aida terlihat cemas. "Apa tidak sebaiknya menepi dulu?"
Tak ada jawaban. Collins fokus menembus rintik hujan dan menjalankan motornya setengah ngebut. Aida harus berpegangan pada kedua sisi jaket pria itu kuat-kuat.
Perjuangan Collins tak sia-sia. Ia sampai di depan rumah Aida dalam keadaan hujan masih rintik. Namun ketika Aida turun dan hendak membuka pagar, hujan turun lebih deras. "Bang, berteduh dulu!"
"Apa?"
Wanita itu membuka pagar lebar-lebar. Tanpa pikir panjang, Collins memasukkan motornya ke dalam dan turun. Sebelum berteduh, ia menarik tangan Aida agar cepat masuk ke teras. Namun tak ayal keduanya basah kuyup.
"Eh ...." Aida menarik tangannya dari genggaman Collins dan mengusap wajahnya yang basah.
"Oh, maaf."
Bersambung ....