Pintu kamar Zac tidak berbunyi ketika Lana membukanya. Zac tidur dengan menelungkup di tempat tidur putih. Napasnya berat dan teratur, seperti bayi besar yang kelelahan bermain.
'Semuanya akan baik-baik saja,' pikir Lana.
Ia menutup pintu kamar Zac di belakangnya dan meletakan baki makanan dan air putih di atas meja Zac. Ia tersenyum saat mendekati tempat tidur Zac, bertanya-tanya sendiri kenapa laki-laki bisa tidur tanpa pakaian dengan suhu yang sangat dingin?
Banyak hal yang unik dari laki-laki. Mereka memang menjengkelkan dan merusak, tapi lucunya, Lana suka kerusakan itu. Lana senang melihat cara mereka menyakiti dan menghancurkan sesuatu. Baginya, tubuh besar laki-laki itu bukan hanya sumber keindahan, tetapi juga ancaman. Entah sejak kapan, dia merasakan ancaman dari tubuh lelaki itu menyenangkan.
Lana baru akan pergi saat Zac menangkap tangannya dan memuntir tangan itu belakang dengan gerakan cepat. Lana menjerit tertahan. Zac mengerjap.
"Maaf. Aku tidak ...."
Lana meringis, memegangi lengannya yang masih terasa nyeri. "Aku membawakanmu makanan.” Dia gelabakan. “Silvia yang membuatnya. Kau ... terbiasa tidur dengan siaga?"
Zac memakai kausnya lagi. "Kalau kau hidup dengan berbagai manusia jahat di sekelilingmu, siaga adalah keharusan."
Lana mengerjap melihat Zac. Bukan lagi tubuh besar petarungnya yang membuat Lana memperhatikan lelaki itu, tetapi kata-katanya. Lelaki itu bukan dari lingkungan yang aman dan nyaman untuk menjadikannya petarung. Dia berasal dari tempat yang suram, sama seperti dirinya.
"Apa yang mereka lakukan saat kau tidur?" tanya Lana penasaran pada latar belakang kehidupan Zac.
"Mencuri, membunuh, memperkosa." Zac mengangkat bahu. "Banyak hal buruk yang bisa dilakukan orang saat kau tidur nyenyak."
"Memperkosa? Yang benar saja." Lana tertawa. "Tentu saja seharusnya mereka berpikir dua kali melakukannya padamu."
Zac tidak tertawa. "Well, kalau kau pernah dipenjara, perkosaan bukan hal yang tidak mungkin, tidak peduli sebesar apa tubuhmu. Mereka tidak sendirian. Mereka bergerombol. Mereka memegangi tubuhmu dan memasukkan apa saja ke bagian belakangmu sampai bisa memaksakan ‘benda’ mereka masuk."
Lana menelan ludah. "Ka-kau pernah mengalaminya?"
"Tidak akan pernah! Lebih baik aku mati daripada mengalaminya." Dia mengangkat alis pada makanan yang diletakkan Lana di meja kecil tinggi pengganti nakas. "Boleh kumakan sekarang?"
Lana mengangguk. "Maaf. Aku tidak tahu kalau penjara bisa sebrutal itu. Kupikir, saat kau dipenjara, kau hanya berada di dalam sel, melakukan kegiatan membosankan, makan makanan yang tidak enak dan basi, memikirkan cara untuk lari, lalu berkelahi dengan sesame narapidana di sana. Begitu yang diperlihatkan film, kan?"
Dia tersenyum sinis sambil mengunyah makanannya. Setelah menelan sesuap besar makanan, dia berkata, "tidak hanya di penjara. Di jalanan, mereka menyerang apa saja yang berlubang. Kau tahu, alkohol dan obat membuat libido meningkat. Mereka butuh lebih dari tangan untuk memuaskan diri. Astaga! Ini enak sekali. Gadis itu pintar sekali memasak."
Lana tertawa. "Memang. Enak sekali. Silvia pintar sekali masak masakan pedas. Aku tidak bisa menghabiskan makanan sepedas itu."
Dia tertawa juga. "Apa yang kau lakukan? Maksudku, apa yang kau lakukan saat dia membuat masakan pedas ini?"
"Menontonnya," jawab Lana dengan riang. "Aku hanya bisa membuat sandwhich."
"Kudengar gadis Mexico memang terlahir dengan kemampuan memasak yang hebat."
"Mereka diwajibkan mandiri sejak kecil karena harus segera menikah. Keluarga miskin ingin segera melepaskan anak gadisnya. Tidak ada yang bisa dilakukan gadis-gadis selain melakukan pekerjaan domestik dan memuaskan laki-laki." Lana tertawa lagi, kali ini tawanya hambar dan sedikit getir. "Tidak ada yang percaya perempuan bisa melakukan hal lebih. Tokoh-tokoh perempuan yang menyatakan kemerdekaan hanyalah contoh pemberontakan dan anomali. Letak perempuan harus selalu di bawah. Menggelikan."
"Kalimat itu diucapkan oleh gadis yang bekerja di klub hiburan?" Zac meletakkan garpunya. "Kenapa kamu memilih pekerjaan itu?"
"Karena pekerjaan itu yang bisa kulakukan tanpa latar belakang pendidikan dan menghasilkan banyak uang." Lana melompat berdiri, agak kesal dengan pertanyaan zac. Tidak. Dia kesal pada diri sendiri. Seharusnya sudah lama dia meninggalkan pekerjaan ini, terutama setelah lelaki itu mengajaknya pergi. Seharusnya dia menuruti lelaki itu. Seharusnya dia memang tidak kembali lagi.
"Ya, aku mengerti," ucap Zac pelan. “Apa aku membuatmu gusar?”
"Tidak juga. Aku bukan hanya kesal padamu. Aku kesal pada diri sendiri yang tidak bisa melakukan apa pun untuk memperbaiki ini." Lana menarik napas dalam-dalam. "Seharusnya aku mencari pekerjaan yang lebih baik."
"Hei... hei...!" Zac memegang tangannya. "Aku tidak menyalahkan pekerjaanmu. Sungguh. Aku hanya takjub melihatmu memiliki pemikiran seluas itu. Kau tahu... penari sepertimu seharusnya memiliki otak yang kecil. Jangan tersinggung. Kebanyakan seperti itu. Tapi, kamu berbeda. Kamu memiliki kecerdasan melebihi mahasiswa MIT itu."
"Itu pujian paling membosankan yang pernah kudengar."
Zac tertawa. Lelaki itu tersedak sampai terbatuk-batuk.
"Caramu merayu memang parah." Lana menggeleng lagi
Setelah minum sedikit, baru Zac melanjutkan lagi, "Aku tidak pernah punya kekasih. Aku buruk dalam urusan percintaan."
"Kau tidak harus berbohong untuk mendapatkanku." Lana tersenyum dan memiringkan kepalanya. “Aku tidak semahal itu.”
"Sumpah." Zac mengangkat tangannya. "New York bukan tempat untuk bersantai. Aku harus berlatih siang malam untuk menaklukannya. Satu-satunya kekasihku adalah ibuku."
Zac terdiam. Setelah meletakkan piring kosong, dia memegangi gelas air putih dan memutar-mutar gelas di tangannya itu.
"Ibuku melompat ke East River. Seharusnya aku bisa menolongnya. Tapi... aku takut sungai. Aku takut air yang mengalir deras. Aku cuma melihat ibuku menghilang di sungai dingin dan mengapung lagi. Aku melihat semua seperti orang dungu."
"Thalassophobia?"
Zac mengerutkan kening. "Apa?"
"Thalassophobia. Ketakutan berlebih saat melihat sungai atau laut."
Lelaki itu bergidik. "Aku tidak tahu namanya. Aku hanya merasa konyol saat merasakannya. Ayahku pernah mencoba menenggelamkanku di sungai. Sejak itu aku takut pada sungai, laut atau walau hanya kolam renang. Bahkan melihat fotonya saja membuatku mual." Dia melihat Lana. "Kau bisa tertawa kalau mau."
Lana tidak tersenyum. Dia menelan ludah. Dia tahu kenapa dia menyukai Zac. Di dalam biru mata Zac ada cerita yang nyaris sama dengannya.
"Tidak, Zac. Aku tidak akan tertawa,” kata gadis itu serius.
Zac memperhatikan gadis di depannya, menunggu cerita yang mungkin menjawab pertanyaannya.
“Aku juga punya ketakutan sendiri. Setiap orang punya fobia dan manianya sendiri. Tidak ada yang patut ditertawakan. Ada yang takut membuat keputusan, bahkan sekalipun keputusan itu hanya keputusan kecil, ada yang takut pada tempat gelap, ada yang takut keramaian, dan ada yang takut memiliki kekasih." Lana tertawa.
“Tidak ada yang seperti itu,” kata Zac sambil tertawa juga. “Kamu mengarangnya.”
"Ada. Aku contohnya. Aku takut menjalin hubungan dengan siapa pun. Ini konyol. Banyak yang menawarkan hubungan, tapi tidak. Aku tidak ingin melakukannya. Kau tahu, rasanya mengerikan membayangkan seseorang bertanggung jawab terhadap diriku dan aku ter iasa bergantung padanya. Lalu, suatu hari dia meninggalkanku seperti orang gila. Tidak. Lebih baik sendiri selamanya. Ini jauh lebih aman."
Lelaki itu bingung harus menanggapi kalimat Lana dengan ekspresi apa. Dia sering mendengar orang takut pada benda kecil atau lubang pori-pori manusia. Tapi takut terhadap hubungan? Yang benar saja. Semua orang ingin memiliki hubungan dengab orang lain. Dia sendiri sudah lama berharap memiliki seseorang yang bisa mengerti dan memahami masa lalunya.
"Lihat wajahmu," kata Lana sambil menggeleng. "Kau melihatku seolah aku baru mengatakan kalau aku penyembah setan."
Zac menarik napas dalam. "Well, lebih baik aku mendengarmu mengatakan kalau kau penyembah setan. Aku yakin sudah banyak laki-laki yang kau buat patah hati."
Lana menghitung. Cukup banyak, tapi tidak ada yang segigih lelaki itu. Setiap hari dia mengirimi bunga dan hadiah-hadiah kecil. Gadis itu memasukkan semua pemberian lelaki itu ke dalam kardus besar. Jika suatu hari lelaki itu menuntutnya, kardus itu bisa mengembalikan harga dirinya.
"Jangan buat aku menderita, Sweet Pea. Apa tidak cukup aku merangkak ke pintumu setiap hari? Ayolah, aku... kita bisa memulai hidup baru. Sebut saja ke mana kau ingin pergi. Kita pergi saat ini juga," kata lelaki itu padanya. Berkali-kali lelaki itu merengek dan mengemis agar bisa memiliki hubungan dengannya, tapi dia tidak bisa mengabulkannya.
“Aku ingin bisa menerimamu,” kata Lana sambil meniupkan asap putih dari sela bibirnya. “Aku tidak bisa.”
“Kenapa? Beri aku alasan? Uang? Aku bisa memberimu uang berapa pun yang kau inginkan. Kau tahu itu. Seks? Kita punya kesamaan yang luar biasa, Lana. Kita menyukai hal yang sama. Kita bahkan sering memiliki pemikiran yang sama terhadap banyak hal. Apa yang membuatmu menolakku?”
Dari dalam dirinya, Lana sangat ingin tergoda dan mengikuti ajakan lelaki itu. Namun, mimpi buruk tetaplah mimpi buruk, terlebih lagi hatinya telah dibawa mati oleh kakak laki-lakinya.