TRAGEDY

2137 Kata
Darah Gabriella sudah menggenang hingga ke kaki Lana. Kental. Aroma anyir memuakkan yang sudah lama berusaha dilupakannya. Dengan cepat, Lana bangkit menghindar. Bukan darah itu yang membuat tubuhnya gemetar lagi. Dia sudah pernah melihat yang sama. Dia sudah pernah melihat orang mati. Yang menyakitkan adalah kenyataan dia lagi-lagi tidak bisa melakukan apa-apa. Selain Lana, tidak ada yang bergerak di ruangan itu. Mereka mematung seperti belum pernah melihat mayat sebelumnya. Mereka semua sama, gemetar dalam ketakutan dan kegelisahan.  Memang, tidak ada kematian yang tidak menakutkan. Kematian adalah teror yang diembuskan pada semua yang hidup. Kematian seperti monster yang menculik orang-orang ke tempat gelap selamanya. Lana berlari ke kamar Gabriella untuk menyeret selimut, seprai dan pakaian Gabriella. Mayat itu harus disingkirkan. Sebentar lagi, mayat itu akan membusuk. Ia tahu benar, mereka tidak akan bisa tinggal di rumah bersama dengan mayat. Aroma darah dan amonia akan membangkitkan emosi manusia dan mempermainkan mental mereka. Harus ada yang membersihkan semuanya. Dia tidak bisa menunggu orang lain  Orang-orang melihat tingkah Lana dengan heran, tapi tidak satu pun dari mereka punya ide lain untuk melakukan hal yang lebih berguna. "Apa?" sembur Lana entah pada siapa. Dia hanya kesal harus menjadi satu-satunya orang yang waras di sini. Melihat mereka semua hanya diam menonton seperti itu membuatnya sangat ingin marah. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Silvia bingung. "Menurutmu apa? Makan malam?" Dia terus menggulung mayat itu ke dalam selimut dan membersihkan darah dengan kain seprai. "Zac, All bawa mereka ke kamar masing-masing. Mike, kau bantu aku membersihkan kekacauan ini. Mayat Gabriella akan segera membusuk jika tidak disingkirkan." Ella menjerit lagi. "MOMMY... MOMMY... JANGAN APA-APAKAN DIA! KUBUNUH KAU s****l!" Lana berterima kasih melihat keputusan Zac untuk menutup mulut Ella dengan telapak tangan saat menggendong gadis itu menuju kamarnya. sudah cukup tekanan di ruangan ini tanpa harus ditambah jeritan anak remaja itu.  Lana melihat sekeliling, berusaha mencari tempat yang bagus untuk menyimpan mayat. Bau busuk akan memenuhi seluruh rumah. Seharusnya mayat ini dibakar atau dibungkus plastik. Formalin? Apa ada benda itu di rumah ini? Dia tidak tahu bagaimana cara menyuntik formalin. Dia bahkan tidak pernah memegang alat suntik. "Ya, ampun. Yang benar saja. Aku belum pernah... eh... mengangkat mayat." Mike menahan mualnya. Betapa inginnya Lana menjejalkan kain penuh darah ke mulut lelaki itu. Dipikirnya cuma dia yang mual? Lana sudah berusaha menahan gejolak di perutnya sejak tadi. Tidak bisakah dia berhenti mengeluh?  Setelah berkali-kali mendengar lelaki itu mengeluh dan menyumpah, Lana sudah tidak tahan. "Kau ingin menunggu mayat ini mengeluarkan belatung? Kau ingin menunggu mayat ini membusuk dan sesak karena baunya?" Lana melotot pada Mike. "Ayolah, aku tidak bisa mengangkat Gabriella sendirian." "Aku tidak bisa," kata Silvia. "Ini salahku. Mereka akan memenjarakanku. Ini salahku." Drama lain lagi. Lana membanting kain penuh darah ke lantai. "Ya, ini salahmu. Seharusnya kamu melempar benda lain yang tidak berpotensi membunuh. Seharusnya kamu melempar sendok atau benda tumpul lainnya. For God sake, Slivia! Apa ada gunanya penyesalanmu? Dia mati. Kita terjebak di sini. Apa jeritanmu bisa mengubah keadaan?" Wajah Silvia terlihat tersinggung. Dia menahan amarah yang hampir saja dilontarkan mulutnya. Gadis itu tahu, Lana benar, apa pun yang dikatakannya, tidak akan mengubah keadaan. Namun, mengakui kalau semua kesalahannya itu sangat menyakitkan.  "Sebaiknya kamu menenangkan diri juga," kata All yang dari tadi terlihat mencari cara untuk menghindari mayat. "Mau kuantar ke kamarmu?" Itulah yang dilakukan b******n, lari dari masalah. Lana mendengus, hampir menangis melihat kenyataan hanya tinggal dia dan si Pengeluh Mike yang tersisa. Mereka semua pergi seperti teman berengsek lainnya yang bersumpah untuk hidup bersama selamanya, tapi menghilang saat dibutuhkan. Seharusnya dia memegang prinsip yang digenggamnya sejak dulu, berhenti percaya manusia jika tidak ingin kecewa. Lana menggulingkan mayat Gabriella dalam selimut tebal, lalu membungkus mayat itu seperti permen yang sangat besar. Darah perempuan itu seperti tidak berhenti mengalir. Seharusnya tidak begini. Seharusnya manusia berhenti mengeluarkan darah setelah mati. Pembekuan darah dan jantung yang berhenti memompa akan mematikan aliran darah. Ini aneh.  Susah payah mereka membawa mayat itu menaiki tangga. Tubuh berisi Gabriella terasa jauh lebih berat yang yang mereka berdua perkirakan. Ini membuat luka di pergelangan Lana makin berdenyut-denyut perih. Sedikit lagi. Sebentar lagi, ulang Lana pada diri sendiri. Setiap pijakan dia merasa luka-lukanya jadi lebih sakit dari sebelumnya. "Kupikir kita harus menyuntiknya dengan formalin." Mike terengah setelah melempar mayat itu ke tempat tidur. "Kamar ini akan jadi sangat bau sebentar lagi." Dia terbungkuk, berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara. "Oh, ya? Apa ada apotek di dekat sini untuk membeli formaldehyde? Jangan berharap banyak, Dude. Kita hanya punya ini dan harapan semoga bisa keluar dari tempat ini sebelum dia membusuk." "Apa bisa?" Seharusnya bisa. Seharusnya tidak ada yang tidak bsia dilakukan jika manusia mau berusaha. Tapi, bagaimana? Lana melihat sekeliling kamar. Ada lubang udara tempat penyejuk udara bertiup. Lubang tu hanya berukuran setengah meter dan tinggi lima belas sentimeter. Tapi angin dingin yang ditiupkan cukup membuat udara di dalam rumah tanpa jendela ini terasa dingin, terlalu dingin bahkan. Ia melihat bintik kecil berwarna merah. Lana mendekati bintik kecil di tepi penutup lubang angin yang terbuat dari logam. Bintik kamera micro. Lena memanjat meja dan menyusun kursi di atas meja untuk bisa naik lebih tinggi. "Apa yang kau lakukan?" Mike mendesis seperti takut terdengar orang lain. "Ini kamera, Mike. Aku yakin ini kamera dan pasti ada mikrofon nya di sini." Lana berjinjit di meja, berusaha menyentuh bagian tepi penutup lubang angin. Dingin. Jari-jarinya nyaris membeku saat memegang tutup lubang angin yang terbuat dari logam. Bibirnya menggigil. Berkalu-kali dia membasai bibir dan berkedip agar matanya tidak kering. Angin yang keluar dari lubang itu lebih kencang dari AC biasa. Kursi logam itu berat dan kokoh. Cocok sekali sebagai tempat tumpuan. Lana bisa meraih lubang angin dengan baik. Ia merasakan angin dingin berhembus dengan kuat dari lubang itu. Ia berusaha mengambil titik merah mencurigakan dari penutup lubang angin. DIa benar. Itu kamera yang sangat kecil. Titik merahnya juga sangat kecil, wajar kalau tidak ada yang menyadari keberadaannya tadi. Kamera itu hanya seukuran kancing baju. Ada pendar warna merah dari cahaya kamera saat ia hidup. Sekarang Lana mencoba mencungkil benda itu dengan ujung kukunya. Gagal. Ia melepas anting untuk dijadikan tuas. Dia mencungkil pinggiran kamera dengan ujung antingnya yang miril silet. Apa pun yang mereka lakukan untuk menempelkan kamera di situ sangat hebat. Kamera menempel dengan kuat. Lana meludahi kamera dan mencoba mencungkil lagi.  Berhasil! Kamera itu terlepas. tipis dan sangat ringan. Lena memasukan ke saku celana jinsnya. Ia memakai kembali anting, lalu turun dari kursi. "Apa yang kau dapatkan?" Mike masih mendongak, melihat lubang angin. Dengan tubuh besar dan keseimbangan buruk, Mike tidak akan punya nyali untuk memanjat. "Entahlah. aku harus melihatnya lagi. Seperti sebuah kamera. Tapi ... entahlah. Mungkin juga potongan mur." "Kau pikir apakah mereka masih akan memberi kita uang?" Lana menatap Mike dengan tatapan tidak percaya. "Maaf saja. Aku butuh uang untuk melanjutkan hidup.Percuma kan kalau aku sudah diculik dan berada di tempat ini tapi kemudian pulang tanpa membawa apa-apa?" "Aku tidak tahu, Mike. Tapi yang jelas, kita harus membersihkan genangan darah di bawah. Pekerjaan kita masih banyak." Mike melotot. "Kita yang harus melakukannya?" Dia menyumpah beberapa kali sambil menjejakkan kaki ke lantai seperti anak kecil. "Dua laki-laki berbadan besar itu mendapat tugas memeluk gadis-gadis. Yang benar saja." Mike membantu Lana sambil menggerutu, mengumpat dan marahmarah pada hal-hal kecil. Lana membiarkannya. Dia pernah bekerja dengan partner yang lebih buruk dari Mike. Ia tidak mengeluh. "Aku akan kembali ke kamarku. Aku lelah sekali." Mike membawa sebotol wiski untuk menemaninya ke kamar. Lana diam saja. Mike memang sedang kacau jauh sebelum dia terjebak di rumah ini. Ia sudah sering berurusan dengan laki-laki kacau. Mike butuh sendirian. "Apa itu?" Lana mendongak melihat mata biru Zac melihat benda yang diamatinya dengan tulunjuk. Zac kemudian menatapnya. "Kupikir ini kamera. Kecil dan canggih untuk mengintai kita." "Bagaimana kau mendapatkannya?" Zac duduk di sofa sebelah Lana. Dekat sekali hingga bahu mereka saling bersentuhan. "Astaga kulitmu dingin sekali." Zac memegang lengan Lana dnegan telapak tangan.  "Aku mencungkilnya dari penutup lubang angin di kamar Gabriella. Sepertinya kita memang jadi bahan tontonan." Ia menyerahkan keping kamera itu kepada Zac. Zac mengamati tanpa bisa paham kegunaannya. Kamera itu kecil sekali. Hanya seukuran kancing baju dan tanpa kabel yang menghubungkannya dengan piranti lain yang mungkin bisa mereka teliti. Hanya lensa kamera yang diletakan di tempat tersembunyi untuk mengintai mereka. "Apa itu artinya ada yang mengintip kita tadi?" Zac tersenyum nakal kepadanya. Lana tidak tertawa. Dia beranjak ke saklar lampu dan mematikan seluruh lampu di ruangan itu. Ia melihat dengan teliti ke seluruh lubang pendingin ruangan yang ada. Dalam kegelapan, ia bisa melihat pendar warna merah atau biru di sana. "Kau bisa jelaskan?" Lana menyentuh lengan Zac. "Lihat d sana," ucapnya sambil menggerakan lengan itu ke tempat yang ia maksud.  Zac memicingkan mata untuk melihat pendar sangat kecil di bagian atas dinding. "Hey, apa ini?" Suara All memecah keheningan. All meraba-raba dalam gelap untuk menyalakan lampu. "Di sini!" Lana memberi perintah dengan suara mendesis. Lana meraba dalam kegelapan untuk bisa meyakinkan All ada di dekatnya. Ia menyentuh wajah All. "Ikut aku," Ucap lana singkat sambil menarik tangan All ke arah yang ia tuju. Lana mengarahkan tangan All seperti dia mengarahkan tangan Zac. "Kau lihat titik biru di situ?" "Wow!" Lana membiarkan All kagum pada titik biru yang dilihatnya. Sama seperti bagaimana reaksi Zac. Ke dua laki-laki itu melindungi mata mereka saat Lana menyalakan kembali lampu ruangan yang terang benderang. "Mereka mengawasi kita selama ini. Kita ditonton." Lana bersungut-sungut." "Bagus. Kalau begitu mereka tidak perlu repot menginterogasi kematian Gabriella." All mengangkat bahu. "Bukan itu yang kupikirkan. Tapi kenapa mereka melakukannya?" "Sudah kubilangkan ini sekedar show." "Kenapa mereka tidak datang sekarang? Mereka tahu Gabriella meninggal dengan tragis. Kenapa mereka tidak segera bertindak mengirim medis atau polisi? Kenapa mereka diam saja?" Zac menatap tajam ke arah Lana. "Lana..." "Kecuali mereka memang menghendaki reality show yang benar-benar nyata. Kita tidak akan dibebaskan dari tempat ini dalam waktu yang lama." "b******n!" All berteriak. Lana berjengit terkejut. "Keluarlah kau, b******n!" All meneriaki kamera yang ditunjuk Lana sebelumnya. Tidak akan. Mereka sudah menjadi bagianndari permainan ini. Mereka sudah melihat kejahatan. Semua orang tahu benar, siapa pun yang menyiapkan ini adalah orang-orang dengan uang yang sangat banyak. Mereka pasti akan melakukan apa saja untuk mengamankan posisi mereka, bahkan membunuh orang-orang. Kalau hanya menyingkirkan enam orang tidak berguna, bukan hal yang sulit. "Mereka tidak akan mendengarmu, All." Lana berucap pelan. All dan Zac menatapnya. "Kematian Gabriella tidak membuat mereka menghentikan pertunjukan. Aku yakin, tidak akan ada yang membuat mereka menghentikan pertunjukan sekarang. Kita ada di dalam permainan mereka. Kita tidak akan bisa ke mana-mana." Zac Berlari menuju dinding. Dia menempelkan telinga dan meraba-raba dinding di dekatnya. "Apa yang kau lakukan, jagoan?" All menatapnya heran. "Mereka tidak mungkin meletakan kita didalam lalu membangun dindingnya kan? Pasti ada jalan keluar dan masuk saat mereka membawa kita ke mari. Mungkin di antara dinding ini ada celah kecil yang bisa kuta cungkil untuk lari?" "Cari benda berat. Apa saja lalu pecahkan dinding itu." Lana berteriak dengan semangat. Zac dan All mencari di bagian lain rumah untuk mencari benda-benda yang bisa digunakan untuk menghancurkan dinding. "Tidak ada yang bisa. Tidak ada benda berat di sini. Mereka sudah memperkirakannya." All terengah-engah. Zac datang dengan memegang kaki kursi dari logam yang berat. "Harus dicoba kan?" All tertawa gembira melihatnya. "Ingatkan aku untuk memberimu oral, Man." All berlari mengambil kursi makan yang sama. Mereka berdua mulai memukulkan kursi ke dinding di depan mereka. Puing-puing kepingan cat dan semen terlempar ke udara. Lena melindungi matanya dengan tangan. Tiba-tiba kursi mereka mengeluarkan bunyi tumbukan yang berdentang keras. "Apa yang kalian lakukan?" Mike datang tergopoh-gopoh. Di belakangnya ada Silvia yang berlari sambil mengeluarkan seikar rambut panjangn dari dalam kausnya. Lana merasa All telah melucuti gadis meksiko itu. "Kami akan membuat jalan keluar untuk kalian," ucap All dengan penuh semangat. "Hentikan, Man, kalian membuat mereka marah. Mereka tidak akan memberikan kita uang..."  Kursi Zac menghantam dinding hingga melengkung. Dengan otot-otot besarnya yang terlatih, Zac mematahkan salah satu bagian besi kaki kursi dengan tangan kosong. All menghentikan kegiatan dan melihatnya dengan takjub. Zac menggali dinding dengan bagian besi yang tajam. Tapi terdengar bunyi dentang memekakan telinga lagi. Gesekan logam dengan logam. Semua orang mendekat untuk melihat. Lubang yang dibuat Zac cukup dalam. Tapi tidak ada jalan keluar. Di balik dinding itu ada plat logam yang terlihat tebal dan kokoh. Plat yang menghalangi mereka dan dunia luar. "DASAR KALIAN MANUSIA SIAL!" All membentak sambil melemparkan kursinya. Mike meremas rambutnya. Zac dengan lunglai melepaskan besi di tangannya. Silvia menjerit ngeri lalu menutup mulutnya dengan tangan. Lalu, lolong kemarahan bersahutan terdengar dari rumah itu. Keluhan penuh keputusasaan yang entah mereka tujukan pada siapa. Mereka menatap pelat baja itu dengan lemas. Tidak ada jalan keluar untuk mereka. Mereka dikurung dalam ruangan besi. Mereka tidak ada di dalam ruang biasa.  Harapan sudah hilang dari mereka saat ini. Tidak ada jalan keluar. Mereka di sekap selamanya di tempat ini dengan tubuh Gabriella bersama mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN