Annoying

1949 Kata
Lantai bawah kosong. Apa pun bayangan lana tentang markas penculik langsung hilang ketika melihat lantai bawah bangunan itu. Ruangan luas tanpa sekat itu juga putih tanpa ornamen, hiasan atau gorden. Hanya ada perabotan dapur yang serba keperakan, satu set meja makan logam dan kaca yang berkilau dan sofa putih di bagian lain ruangan yang mirip dengan ruang santai. Zac dan All berhambur menuju arah yang berbeda. Mereka menyentuh dinding putih polos di hadapan mereka satu persatu. Laki-laki berkulit pucat hanya berdiri ketakutan bersama para perempuan. Mata Lana menyusuri setiap detail ruangan. Zac kembali pada kerumunan dengan wajah ngeri. "Tidak ada pintu atau jendela."  "Aku juga tidak melihat pintu atau jendela di dapur." All terlihat kebingungan. Dia memegangi kepalanya seperti orang yang kehilangan sesuatu. Tidak ada lagi tampang nakal dan mulut berbisa yang tadi diperlihatkannya. Lana menutup mulut dengan telapak tangan. Ketakutan menghujam dadanya dengan cepat. Rasnaya nyeri. Lana ingin berpegang pada sesuatu. Ia ingin menjerit, sama dengan orang-orang lain di ruangan itu.  Perempuan berkulit hitam menangis tersedu. "Ella," rintihnya memanggil gadis remaja berkulit cokelat terang. "Bagaimana ini?" "Kenapa bertanya padaku, Mom?" Gadis yang dipanggi Ella itu melihatnya dengan gusar. Matanya berair. Tapi wajahnya mengeras.  Lana menatap dua orang perempuan itu. Dia tidak menyangka mereka adalah ibu dan anak. Sejak awal mereka tidak saling bertegyur sapa. Mereka seperti orang yang tidak saling kenal. Lana mencoba menatap mereka pelan-pelan, mempelajari kemiripan yang mungkin ada. Beberapa anggota tubuh mereka memang mirip, seperti hidung dan bibir. Tapi, itu bukan identitas yang menjadikan mereka ibu dan anak. "Hey, lihat!" Gadis latin melambaikan sebuah kertas yang mirip amplop. Dia membuka kertas amplop dengan hati-hati. Lana menghampirinya dengan segera. Ia berdiri di belakang gadis itu untuk melihat apa yang ada di amplopnya. Sisa penghuni lain berdiri di depan mereka. Surat itu dari kertas yang tebal dan mewah. Ada garis berlekuk di bagian pinggir kertas suratnya dan di bagian atas ada simbol sebuah perkumpulan yang terlihat seperti sebuah tengkorak dengan lilin di atas nya dan dua belati yang saling menumpuk di bagian bawahnya. Di bagian tengah kertas dan amplop juga diembos dengan logo yang sama. "Yang terhormat peserta The 8th Looser," ucap Gadis itu dengan suara berdialek latin yang seksi. Ia memandang sekeliling yang penasaran menunggu kelanjutan surat itu. Gadis itu lalu menelan ludah dan melanjutkan, "Saat kalian membaca surat ini, berarti kalian sudah mampu melewati tahap awal permainan ini. Apa pun yang kalian lakukan untuk terbebas dari tahap awal tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa. Kami harus mengucapkan selamat kepada kalian." Gadis itu melihat kepada Lana. Tatapannya seperti berterima kasih.  Lana membentuk seringai kebingungan.  "Tempat ini bernama The House, tempat kalian akan bertanding sampai akhir. Peraturan permainannya sangat mudah. Kalian akan tinggal selama yang kalian bisa di tempat ini. Tanpa apa pun yang bisa menghubungkan kalian dengan dunia luar. Jika kalian berhasil, kami akan memberikan satu juta dolar untuk masing-masing peserta." Gadis latin itu bersiul gembira. Beberapa orang terlihat mengekspresikan kegembiraan yang sama. "Kalian orang yang beruntung. Nikmatilah kehidupan baru kalian di The house hingga kami memutuskan waktu untuk kalian. Tidak ada aturan tambahan di sini. Kalian bisa melakukan apa yang kalian suka untuk bertahan di The House hingga akhir permainan. Sekarang, nikmatilah dan tetap hidup." Gadis latin itu menelan ludah. Ia memandang Lana dengan wajah kebingungan. "Apa yang ia maksud tetap hidup?" "Itu hanya ejekan agar kau gemetar," ucap lelaki berkulit pucat sambil menjilat bibirnya. "Apa susahnya? Tinggal di dalam rumah ini selama mungkin dan mendapat uang satu juta dolar. Aku bisa tinggal di sini selamanya." Ia terlihat bahagia. Lana merasakan seluruh sarafnya bersiaga. Tidak akan ada orang t***l mau meberikan uang sebegitu banyak hanya untuk tinggal di dalam rumah yang nyaman.  Tiba-tiba pikiran buruk menghampirinya.  Lana berlari ke dapur dan membuka semua pintu kabinet dapur. Lemari-lemari itu penuh berisi bahan makanan, minuman soda dan minuman beralkohol. Lana membuka kulkas besar yang penuh dengan makanan dan minuman beralkohol dingin. Kemudian ia membuka keran yang mengucurkan air segar. "Hei, apa yang kau lakukan?" All berteriak penasaran.  Lana tdak menghiraukannya. Ia menghela nafas lega ketika melihat kamar mandi modern yang lengkap. Tidak. Bukan lega yang sebenarnya. Dia tidak akan bisa lega sebelum mendapat semua jawaban pertanyaannya. Lana menggeleng kepada teman-temannya. "Aku berpikiran buruk. Kupikir mereka meninggalkan kita tanpa persediaan."  "Lalu kita akan saling membunuh untuk bertahan hidup, begitu?" Lelaki berkulit pucat itu terkekeh. "Kau terlalu banyak nonton Hunger Games, Nak." Lana mengangkat bahu. "Siapa yang tahu?" "Lalu kau Katnissnya?" All menaikkan alis kepada Lana. Gadis itu menunduk. Mungkin ia memang terlalu banyak membaca cerita-cerita fantasi Gadis Latin mengeluh penuh kejengkelan. "Bisakah salah satu di antara kalian memakai sedikit otak?" "Memangnya kau punya?" All mengangkat alis. Wajah jahilnya terlihat berkilat. Tampan. Gadis latin itu menatapnya dengan jengkel. Bibirnya mengerucut.  "Kita dikurung di sini. Tidak bisakah kalian membiarkan kita hidup damai?" Perempuan berkulit hitam memperlihatkan wajah cemas.  Gadis remaja berkulit cokelat memutar matanya. Gadis itu terihat jengkel pada apa pun yang dilakukan perempuan berkulit hitam itu. Lana mengangkat bahu. Ia melihat kepada Zac yang berusaha tidak peduli pada apa pun. "Aku akan mencari bahan untuk membuat kopi hangat atau apalah. Bagaimana kalau kita duduk di meja dan berbicara. Kurasa banyak yang harus kita bicarakan." Lana menghela nafas dengan cepat. Memang banyak yang harus mereka bahas. Lana berpikir bahwa mereka tidak akan bertahan lama jika saling serang secara verbal. Verbal bisa membuat orang saling bermusuhan dalam sekejap. "Aku akan mencari obat atau sesuatu untuk membalut luka di pergelangan tangan kita. Aku seperti mau mati rasanya," ucap gadis latin itu sambil melipat kembali surat di tangannya. "Aku akan membantumu," ucap gadis remaja berkulit cokelat terang.  "Ya ya. Bekerjalah, Perempuan. Lakukan apa yang bisa kalian lakukan." All tersenyum mengejek sambil berjalan menjauh. "Karena itulah pekerjaan laki-laki, membuat dirinya tidak berguna." Gadis Latin itu mendesiskan cemoohan. All terkekeh, seolah hal itu sangat lucu untuknya. *** Lana membuka pintu-pintu kabinet yang tadi diperiksanya. Ia mencari benda seperti bubuk kopi atau teh. Tapi tidak juga ia dapatkan. Hanya soda dan minuman beralkohol yang ada di situ. Dua minuman yang sangat tidak mungkin digunakan dalam waktu seperti ini. Dia memandangi deret botol dan kaleng minuman dengan kesal. Siapa pun yang meletakkan minuman itu pasti ingin menghancurkan mereka.  "Bagus. Soda bisa membuat perut jadi panas dan alkohol bisa membuat orang jadi gila. Apa kalian memang ingin kami mati keracunan di sini? Apa tidak ada sesuatu yang berguna?" gerutunya sambil membongkar persediaan makanan di lemari itu. Dia mulai curiga mereka tidak ditempatkan di situ untuk waktu lama. Tidak mungkin mereka bisa bertahan seminggu dengan persediaan makanan dan minuman yang hanya sebanyak itu. "Wow, ini dapur paling keren yang pernah kulihat." Lana berpaling melihat All berdiri di belakangnya mengamati perabotan di dapur. Ia mengangguk setuju. Dapur itu sangat bersih, modern dan rapi. Semua barang yang ada di tempat ini memiliki kualitas yang bagus. Sepertinya, uang bukan masalah bagi pemilik tempat ini. Ada jajaran pisau yang disematkan dalam kotak tertutup, kompor listrik induksi dan microwave. Piring, gelas dan sendok dirapikan di dalam laci tersendiri. "Mungkin pemilik rumah ini OCD pada kebersihan?" Lana tersenyum kepada All. All mengangkat alis. "Kau tahu apa itu OCD?"  Ia tergelak mendengar kalimatnya sendiri sebelum kemudian buru-buru membuka mulutnya saat melihat perubahan ekspresi Lana. "Maaf, tapi tidak semua gadis dengan rambut pirang ber-highlight merah muda mengerti dengan benar tentang OCD." "Yah, mungkin kau saja yang tidak tahu kalau cat rambut tidak mempengaruhi kecerdasan." Lana mengangkat alis. Ia sudah terbiasa dilecehkan. Orang selalu mengaitkan warna rambut dan profesinya dengan kecenderungan memiliki tingkat kecerdasan rendah. All tersenyum lebar kepadanya. "Masa? Apa kamu bisa menjelaskan padaku apa yang kamu tahu? Sedikit saja." Al mendekatinya. Lana mundur. Jarak di antara mereka tipis sekali. Lana tidak berkedip atau mengalihkan perhatian dari mata All. "Kurasa percuma," jawab Lana dengan wajah serius. "Penjelasanku tidak akan bisa memenuhi otakmu yang penuh dengan hal-hal jorok." laki-laki itu tertawa pelan, lebih pada mengejek. Setiap gerakan lelaki itu menunjukkan keangkuhan. Ucapannya tajam dan terdengar getir. Sebenarnya tanpa perlu menyombongkan diri, orang bisa menilai bahwa All adalah orang kaya. Wajahnya yang terawat menunjukan kematangan dan kecerdasan. Lana bisa membayangkan tubuh atletis All terbalut pakaian resmi yang berkelas. Menawan. Namun mulut All menyemburkan kata lebih banyak daripada yang seharusnya. "Kalau memang punya sedikit otak, kau bisa membantuku mencari bubuk kopi atau teh." Lana mencoba untuk tidak terlalu berpikir soal laki-laki ini. "Aku tidak bisa menemukannya." "Karena memang hanya itu yang kau butuhkan," jawab All sambil membuka sebuah pintu kabinet. Wajahnya menjadi sangat cerah. "Siapa pun yang tinggal di tempat ini pasti memiliki selera yang luar biasa."  All menarik sebuah botol anggur mahal.  Lana mengernyitkan dahi. Alkohol membuat Lana mengingat bau ayahnya dan semua laki-laki di Darling. Hal yang paling memuakkan. Tidak ada yang bisa memaksanya minum. Tidak di Darling atau di tempat ini. Ia lebih memilih air putih. "Ada anak kecil di sini." Lana menggeleng. "Biarkan anak itu memakan es krim atau apa yang kau temukan di kulkas, Cantik." All membawa botol anggurnya dan mencari gelas-gelas anggur. Lana mengambil nafas dalam.  Ia membuka kulkas dan menemukan beberapa mangkuk es krim di bagian pembeku. Kotak-kotak es krim itu tidak sekeras yang dibayangkannya. Es krim itu baru diletakan di situ tidak lama ini. Berarti ini adalah rumah yang terawat dengan baik. Semua bahan makanan di tempat ini adalah bahan makanan baru. Ketika membagi es krim ke dalam mangkok untuk gadis remaja itu dan untuknya sendiri, Lana berpikir bahwa tempat ini telah disediakan dengan sangat profesional. Persiapan yang dilakukan terorganisir dengan baik. Pencahayaan hingga pengaturan suhunya sangat baik. Rasanya tidak mungkin kalau mereka dipilih secara acak dan dimasukkan ke tempat secara tidak sengaja pula.  "Kenapa?" tanya Silvia dengan alis berkerut. Lana menggeleng. "Tidak. Aku cuma ... pusing." Silvia tertawa. "Efek biusnya mungkin. Aku juga merasa pusing, kok." Lana berusaha tersenyum untuk membalas keramahan Silvia. Namun, yang nampak di wajahnya hanya seringai canggung yang sama sekali tidak manis. Semua orang sudah duduk di meja makan dengan tenang. All sudah membagikan gelas berisi anggur. Lana menggeleng saat All mengacungkan botol anggur kepadanya. Lelaki itu terkekeh sebelum meletakan botol anggur ke tengah meja. Semua orang terlihat santai menikmati minuman di depannya. Mereka semua seperti teman lama yang bertemu lagi dalam reuni aneh. Mereka minum dalam diam seolah kehabisan bahan untuk dibicarakan. lana memejamkan mata. 'Semua akan baik-baik saja. Kami akan menghadapi semua ini dengan baik,' ucapnya pada dirinya sendiri. Dia tahu, kalau apa yang ada di depannya hanyalah permulaan. Dia sendiri tidak punya ide siapa orang-orang yang bersamanya di dalam ruangan ini. Orang-orang asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Orang-orang yang seharusnya bsia membuatnya menarik diri dan memilih sendirian. Tapi bukan berarti akan berakhir buruk, bukan? Jika selama ini Lana selalu berusaha menghindar untuk bersosialisasi, mungkin ini saatnya dia beradaptasi. Ia memandangi satu persatu teman-teman barunya lagi. Normal. Mereka normal. Mereka hanya manusia biasa. Sama sepertinya. Tidak ada alasan untuknya merasa takut. Mereka sama dengannya, orang tidak beruntung yang dengan kesialan mengerikan terjebak di tempat ini. Lana sadar mereka semua harus terus bersama-sama. Orang yang melakukan ini pada mereka pasti menginginkan sesuatu yang buruk. Hal buruk itu tidak akan terjadi kalau mereka semua bersama-sama.  "Apa yang kau pikirkan?" tanya All. Matanya menyelidiki Lana, berusaha melihat kemungkinan gadis itu menyembunyikan sesuatu yang tidak disukainya. "Kau memperhatikan kami semua. Apa yang kau pikirkan?" Nada bicaranya terdengar mengintimidasi. Dia memang ingin memberikan kesan seperti itu. "Tidak ada." Lana mengangkat bahu. Dia tidak menantang mata All. Dia tidak ingin menantang mata siapa pun sekalipun tahu All menginginkan lebih dari sekadar jawaban. "Aku cuma ingin berusaha mengenali teman-teman serumahku. Entah sampai kapan aku ada di tempat ini, kan?" Matanya menemukan mata biru Zac yang juga menatapnya. Zac tidak tersenyum. Dia cuma mengangkat alis. Namun, entah kenapa seketika dia merasa tenang. Dia bisa merasakan kedamaian yang sedari tadi dirindukannya. Kedamaian yang membuatnya berpikir bahwa semua akan baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN