“Kanjeng Kaseni! Kanjeng Kaseni!” Kanjeng Kaseni yang sedang menyeruput kopi pahit di teras rumahnya itu hanya bisa mengerutkan keningnya tanpa berniat menjawab seruan itu. “Kanjeng Kaseni ... .” panggilnya lagi sambil menata napasnya yang ngos-ngosan/tersengal itu. “Ana apa to? Bengak-bengok/teriak-teriak!!” jawab kanjeng Kaseni sinis. “Anu, Kanjeng. Sapine pak Gimin mati telu, diburak, Njenangan mboten tumbas to, kan mbenjeng bade repot (sapi pak Gimin mati tiga, dibazar, Anda tidak beli, kan besok ada acara)?” tanya salah seorang pekerjanya yang suka ngato’i/menjilat kanjeng Kaseni itu. “Piro/berapa? Telu/tiga?” ulang kanjeng Kaseni. “Inggih/iya, Kanjeng.” Kanjeng Kaseni pun terkekeh, mengambil kantong uang yang selalu dia simpan di balik centingnya (kain yang dililitkan di perut

