“Harusnya kita enggak usah jalan-jalan, tadi. Kamu kecapean kan, jadinya.” Kenan dengan sabar menuntun Vey menaiki anak tangga. Karena Vey memaksa untuk jalan-jalan dengan alasan bosan di rumah, dia terpaksa menuruti permintaan sang istri dengan mengajak ke suatu tempat yang jauh dari hilir mudik kendaraan bermotor. Tidak tahunya, Vey berujung kelelahan dan muntah-muntah sepanjang perjalanan pulang. “Diem, bisa enggak?” omel Vey sambil sesekali meringis, menahan rasa sakit di bagian perut. Dua insan itu baru menapak pada pertengahan anak tangga, tetapi mereka dikejutkan dengan suara gaduh yang berasal dari arah kamar Valerie dan Altezza. Suara yang membuat Vey menghentikan langkah seketika. Tadinya Vey mengira, pernikahannya dengan Kenan akan membuat kedua orang tuanya berpikir lebih

