Lucas menyipitkan mata, "aku tetap memakai nama Widjaja hanya untuk menghormati kakek dan ayahku. Tapi semua yang berhubungan dengan Widjaja, nggak ada hubungannya lagi denganku!"
"Abang!!" Zicco mencoba menjadi penengah, tapi dia sudah terlambat.
"Hara!!!"
Hara, berdiri di satu sisi, segera bergerak saat bosnya memanggil.
"Tunjukkan ke mereka jalan keluar dari sini!"
Tanpa ekspresi, Hara berjalan menuju pintu, membukanya lebar-lebar. "Pintunya ada di sini. Silakan."
"Jangan lupa barang bawaan Anda," Hara mengembalikan lagi parcel buah yang tadi mereka bawa, "Tuan Lucas tidak memakan sesuatu yang diberikan oleh orang asing."
Tubuh gemuk nyonya tua goyah sedikit. Kata 'orang asing' sangat menyengat telinganya.
Berbeda dengan setiap anggota keluarga yang terusir dengan mimik wajah tegang, Zalorra masih teguh di tempat dia berdiri.
Karena Lucas yang menyuruhnya kesini, dia pikir dia tidak ikut diusir, tapi, ternyata Hara bukan orang yang pilih-pilih.
Saat otaknya masih memproses gosip mencengangkan yang baru saja dia dengar, tanpa peringatan sebelumnya, Hara memberikan tas yang ia geletakkan diatas tempat tidur, lalu mendorong bahunya ke pintu.
Zalorra yang segera menjerit, "Ya Tuhan! Apa-apaan nih, lepasin gak!" Dia membuang tangan Hara dengan kasar.
"Maaf, Nona, saya mengikuti perintah."
Zalorra sangat marah, "Perintah apa? Tanya tuan mudamu, dia sendiri yang nyuruh aku datang menjemput Jenny!!!"
"Nona, tolong jangan mempersulit pekerjaanku." Hara menunduk seolah dia memang terpaksa, "Tuan Lucas tidak suka ada orang asing dalam satu ruangan yang sama. Itu bisa memperburuk kualitas udara."
"Kamu ..." Zalorra akan mengatakan sesuatu yang lain, tetapi pintu di depannya sudah tertutup sepenuhnya, dengan Hara yang berjaga di luar. "Hei! Dengar, kamu nggak berhak mengusirku. Cepat buka pintunya, buka!"
Melihat Hara yang tidak bergeming, dia mau memaksa, tapi pergelangan tangannya ditarik oleh Zicco.
"Orra, berhenti, percuma kamu teriak-teriak. Dia nggak akan dengar!"
Zalorra menggigit bibirnya, "tapi saudariku masih di dalam. Dia ... dia baru saja sadar setelah kecelakaan."
Wajah Zicco berkedut saat dia berbicara, "biar saja. Dia sendiri yang mau tinggal, itu masalahnya sekarang!"
"Aku cuma mau bilang ke suaminya, supaya merawatnya dengan baik. Tapi---"
"Orra, dengarkan aku. Jangan ikut campur dengan urusan mereka, Oke? Ayo pulang, nenek menumggumu di depan."
Di satu sisi, Jenny masih menahan napas melihat adegan barusan. Satu tangannya menutupi mulutnya yang ternganga.
Astaga! Astaga!
Akhirnya, setelah sekian lama dia berhasil!
Berhasil, memutuskan tali persaudaraan diantara para manusia.
"Wuihhh!" Matanya terpejam saat dia menggelengkan kepalanya kegirangan.
Ini termasuk prestasi kebanggaan untuk para jin dan golongannya di luar tugas utama menjerumuskan manusia.
Bayangkan, berapa bonus yang dia dapatkan untuk kerja bagus ini?
Dia mengingat-ingat, kalau nggak salah, sekitar seribu atau dua ribu deh, sedikit lebih rendah dari poin merusak hubungan antara suami istri.
Karena penasaran, Jenny segera mencari-cari buku poin tugas harian yang biasa ada di bahu kanan, tapi tidak ada.
Adanya cuma buku catatan amal yang masih baru.
Lalu dia ingat, kalau sekarang ini, dirinya adalah manusia.
Dia menggertakkan giginya, namun dia tidak bisa menahan perasaan kecewa.
Point begitu banyaknya, akhirnya cuma terbuang sia-sia.
Hhhhhhh
Dengan begitu saja, embusan napas penuh kecewa keluar dari bibir berwarna cherry yang setengah terbuka.
Segera, suara pria yang dalam dan magnetis datang dari atas kepalanya, "Kenapa? Menyesal?"
"Eh?" Jenny, satu-satunya yang tersisa di kamar itu melihat pria yang berdiri menjulang seperti tiang dengan bingung.
Menyesal?
Apa nih yang harus dia sesali? Poin yang hilang, atau menyesal menjadi manusia?
Ahh, mana mungkin Lucas tahu tentang ini.
Begitu menyadari kebodohannya, dia menatap Lucas dengan mata polos, dan kemudian dengan nada penuh penyesalan berkata, "terima kasih, demi aku, kamu sampai memutuskan hubungan baik dengan keluargamu."
Mendengar ini, Lucas hampir memuntahkan seteguk darah lama.
Demi dia katanya?
Namun, sebelum dia sempat membantah, Jenny keburu melihat wajah suramnya.
Dia menyentuh rambutnya yang berantakan, matanya melayang, dengan penampilan yang megah dan sembrono.
"Oke, jangan terlalu dipikirin," dia menghibur, "beruntunglah kamu, aku sudah jadi istrimu. Jadi, kamu nggak akan kesepian."
Berdiri tidak jauh dari ranjang pasien, mata tenang dan gelap Lucas perlahan jatuh pada Jenny. Keduanya saling memandang.
Berbeda dengan Lucas yang membentengi dirinya dengan memasang wajah dingin.
Jenny memiliki senyum lima jari di wajahnya, seolah-olah dia itu pahlawan yang baru saja menyelamatkan dunia.
Lucas melihat bahwa itu hanya senyum palsu, matanya lebih dalam.
Jakunnya yang menggoda naik turun saat dia mendengkus sinis.
Dia tidak butuh kebohongan atau kepura-puraan palsu dari wanita di depannya.
Mari kita lihat berapa lama dia bisa mempertahan senyum palsu yang menyebalkan itu!
Mengayunkan kedua kakinya ke depan, Lucas memotong jarak mereka sejauh satu rentangan lengan.
"Kamu tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang dekat denganku sebelumnya?"
Senyum di bibir Jenny mengkerut sejenak, "Uhmmm... lupa, kenapa?"
Jenny mendapatkan jawabannya, sedetik kemudian.
"Mereka semua sial! Ada yang mati."
Lucas menunggu untuk melihat ekspresi panik atau ngeri di wajah wanita yang ternganga di depannya. Sama seperti orang-orang sebelumnya.
Kemudian, dia melihat Jenny mengedipkan matanya, mengulurkan jari telunjuk tangan kanannya dan mengguncangnya,
"Emangnya, kenapa? Namanya juga orang hidup, wajar dong kalau mati."
Reaksi ini melebihi semua ekspektasi Lucas, dan itu membuatnya suram. Dia mengulurkan tangannya ke kepala Jenny.
Senyum sarkastik lagi-lagi muncul di bibirnya, ketika kepala wanita itu mundur saat dia mau menyingkirkan scraf besar acak-acakan yang sejak tadi menganggu matanya.
"See, kamu juga takut!" Dia melihat ke bawah dan melihat sedikit kerapuhan diantara mata gadis itu.
Ketika Jenny mengangkat matanya untuk melihatnya lagi, kewaspadaan dan penolakan Lucas mencapai puncaknya.
"Siapa yang takut? Aku nggak!" Sahut Jenny.
Yang dia takutkan bukan Lucas, tapi tangannya yang hendak menarik kain yang menutupi tanduk di kepalanya.
"Jangan bohong!!!" Bentak Lucas, dia menyipitkan matanya, dan menyingkirkan rambut di dahi wanita itu dengan tangannya, "Bunga cantik hari ini, menjadi bunga mati hari berikutnya. Kamu mau begitu?"
Jenny mengedipkan mata, senyum kembali merekah seperti bunga di bibirnya, "Ya ampun, nggak salah denger nih? Kamu mengakui aku cantik?"
Lucas tidak bisa berkat-kata di buatnya.
Dia memandang Jenny dalam-dalam dan segera sedikit jijik muncul di wajahnya yang tampan. Dia mendorong dahi Jenny tiba-tiba.
Pria itu segera mengambil botol cairan pembersih dari saku celananya.
Aroma lembut citrus menguar dalam ruangan.
Jenny agak bingung, tapi dia tidak bisa membiarkan pria itu terus terusan menolaknya.
"Sayang," suaranya dia buat selembut dan semanis permen kapas, "aku ini istrimu ketika masih hidup, dan tetap milikmu sampai mati. Daripada terus berdebat, kenapa kita nggak kembangkan perasaan penuh cinta dan kasih sayang."
Biar aku bisa tetap hidup, gitu.
Kata-kata itu membuat Lucas berhenti di tengah-tengah membersihkan tangannya. Dia membalikkan wajahnya yang tampan melihat Jenny.
Wanita itu memasang wajah malu-malu saat mengeluarkan tawa khasnya. Eheheheh...
Segera wajahnya menjadi kesal. "Sinting!" Lalu dia berbalik dan pergi.
Eh? Apa tadi barusan?
Benang merah bukan?
Jenny berkedip. Dia mengerakkan tangan kirinya, terutama jari kelingking.
Eh, kemana perginya?
Kelebatan benang merah yang barusan muncul sudah menghilang.
Pada saat ini, suara yang akrab bergema di kepalanya.
'Lihat tangan suamimu!'
Jenny menjatuhkan pandangannya pada jari kelingking Lucas dan tercengang.
Benang merah yang melingkari jari kelingking pria itu muncul bersamaan dengan dengan benang merah di jari kelingkingnya.
Ya Tuhan ...
Benaran ini tersambung?
Namun sebelum dia melihat dengan jelas, benang merah tadi kembali menghilang.
"Tunggu!"
Sebelum pria itu benar-benar pergi, Jenny meraih pergelangan tangan Lucas.
Padahal dia hanya menggunakan sedikit kekuatannya, tapi yang bikin kaget, itu bisa membuat seorang pria jatuh dengan wajah menimpa dadanya.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?"
Selesai bertanya, suara yang sama kembali bergema di kepala Jenny.
'Cepat cium dia!'
Heeeeeeehhhhhhhhh?????