Baru juga keluar dari bangsal Jenny, Zalorra melihat Lucas datang.
Di tengah suhu Jakarta yang gerah, dia mengenakan pakaian panjang serba hitam yang menutupi tubuhnya dengan rapat.
Penampilanya bersih tanpa cela.
Dia bahkan tidak melirik saat Zalorra memasang wajah panik saat berjalan mendekat.
"Lucas, kamu juga ke sini. Kondisi Jenny nggak terlalu baik. Dia..."
"Stop! Berhenti di sana!"
Dia bahkan tidak selesai berbicara saat Lucas membentaknya.
"Lucas, aku..." kata Zallora saat dia melangkah maju.
"Diam di tempat. Jangan berani mendekat!"
Zalorra segera berhenti melangkah dan mengira dia salah mendengar.
"Kotoran yang menempel di wajahmu mengotori lingkungan." Lucas mengerutkan kening, tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya. "Hara, semprotkan!"
Hara segera mendekat. Di tangannya terdapat botol cairan pembersih tangan, juga tissue basah yang mengandung antiseptik.
Sret...sret.
Dengan beberapa kali semprotan, tercium bau lemon dan alkohol di sekitar.
Zalorra langsung pucat, kakinya seperti berakar di tempat dan dia tidak berani bergerak.
Apa dia menganggapnya semacam bakteri?
Ini pertama kalinya dia melihat dan berinteraksi dengan Lucas dari dekat.
Meskipun tubuhnya tinggi dan memiliki visual yang digilai gadis-gadis. Lucas hampir tidak pernah terlihat dalam pergaulan sosial kelas atas, juga tidak bergaul dengan generasi kedua dan ketiga yang seumurannya.
Mereka hanya mengira, pria ini malu dan rendah diri.
"Maaf jadi nggak nyaman. Tuan Muda kami punya perhatian yang berlebihan terhadap kebersihan. Lain kali, jaga jarak satu meter kalau bertemu lagi dengannya." Hara memberitahu sebelum dia menyusul bos nya.
Ahhh, wajarlah dia tidak mau bergaul.
Ternyata dia memiliki masalah psikologis serius. Bibir tersenyum sarkastik.
Zalorra merasa sangat beruntung bahwa bukan dirinya yang harus menikah dengan pria itu.
Apa gunanya punya pasangan yang tampangnya diatas rata-rata kalau tidak bisa menemaninya ke kondangan atau acara yang melibatkan keluarga besar.
Kalau ada yang tanya, kok sendiri, suami mana?
Mau jawab apa coba? Sibuk, masa seumur hidup sibuk melulu.
Untuk pertama kalinya, dia merasa kasihan kepada Jenny.
Menikah tapi rasa jomblo. Ngenes.
Ngomong-ngomong ngenes, dia yang awalnya sebagai calon istri sah Lucas Widjaja saja dianggapnya sebagai bakteri.
Bagaimana nasib pengantin pengganti ya?
Berpikir akan ada drama bagus di bangsal. Zalorra memutar kembali kakinya ke bangsal rawat inap.
"Untunglah kalian datang. Istri Anda bilang, dia tidak ingat apa-apa." Perawat menjelaskan.
Istri?
Jeuni melompat cepat dan mengangkat kepalanya.
Pria yang berbicara dari jarak jauh dengan perawat itu mengerutkan kening, dia mengangkat matanya untuk melihat ke arah Jenny. Secara kebetulan mata mereka bertemu.
Jenny melebarkan matanya pada saat itu.
Sebelumnya perawat dan gadis itu bilang, dia sudah menikah. Jadi bukankah itu berarti, laki-laki yang baru datang ini 'suami' nya?
Ya Tuhan.
Dari begitu banyaknya manusia. Kenapa harus dia, Lucas, orang yang paling menakutkan untuk bangsanya?
Pria berjalan mendekat.
Dengan ngeri, Jeuni memandang satu dari dua wanita yang tertinggal di bangsalnya, terpental saat mengenai aura berwarna biru yang mengelilingi Lucas, jiwa yang malang itu ketakutan, menyeret tubuhnya ke sudut ruangan dan tak berani mendekat.
Jeuni mengedipkan kedua matanya.
Pantas dari tadi cuma dia yang tidak diajak ngomong sama dua orang lainnya. Mahluk halus ternyata.
Fokus memperhatikan mahluk malang lainnya yang kocar-kacir, dia tidak menyadari jaraknya dengan Lucas tidak lebih dari satu meter sekarang.
Dia baru tersadar, saat tercium bau desinfektan yang menyengat saat pria itu mendekat.
Setiap helai rambut di tubuh Jeuni berdiri.
Dalam pikirannya adalah, lari sejauh-jauhnya dari sini sebelum bernasib malang seperti yang lain.
Pada saat ini, dia lupa dengan identitasnya sebagai manusia yang mengalami patah di pergelangan kaki.
Tiba-tiba berdiri, rasa sakit yang luar biasa membuatnya menjerit.
"Awwww!"
Lucas secara refleks mengulurkan tangan untuk menahan tubuh yang hampir jatuh di dekatnya.
"Sa-sayang. Terima kasih."
Jenny menggunakan tangannya untuk berpegangan pada lengan Lucas.
Mata Lucas dipenuhi ketenangan sebelum badai. Dia tidak berharap ada tangan asing yang berani menyentuhnya.
Lalu, dia memanggilnya apa barusan?
Sayang?
Tangan kotor yang berada di lengannya sudah sangat menjijikkan, ditambah lagi panggilan sayang?
Namun, lengan kemejanya yang kusut, dan bekas sentuhan wanita ini di tubuhnya lebih menganggu pikirannya dan hampir membuatnya gila.
"Siapa yang bilang kamu boleh menyentuhku?"
Dia mengendurkan pegangannya dan dengan kejam mendorong Jenny agar menjauh.
Dan wanita itu langsung berteriak.
"Aduh, duh, duh."
Jeuni merasa sikap Lucas keterlaluan kepada istrinya.
Sifat Jin yang pada dasarnya keras kepala, dan keinginan kuat untuk menghindari rasa sakit yang luar biasa. Membuatnya bertahan dengan terus memeluk lengan dan sebagian tubuh suaminya.
Ada api dalam mata Lucas yang tenang dan dingin saat melihat jari-jari panjang masih tenang bertengger di lengannya.
"Lepas!"
"Nggak mau!"
"Aku bilang lepas!" Jari-jarinya yang panjang dengan cepat bergerak turun, menarik tangan Jenny, tetapi lilitan semakin kuat.
Astaga pria ini.
Kenapa kejam banget sih? Istrinya lagi sakit juga.
Ketika menggerutu, dia teringat ucapan Zalorra tentang suaminya yang sudah tahu penyebab dia kecelakaan.
Jeuni yang tidak tahu bagaimana hubungan Jenny dan Lucas yang sebenarnya, dengan seenaknya menyimpulkan mereka sedang berantem.
Baiklah, karena sekarang dia pemilik tubuh ini. Tidak ada salahnya dia yang lebih dulu berinisiatif baikan.
"Sayang, ini sakit. Sumpah, sakit banget."
Suara rengekannya yang manja membuat kulit kepala Lucas mati rasa.
Wanita i***t ini, dia...sepertinya dia sudah gila.
Jenny tidak memahami apa yang terjadi. Dia memfokuskan matanya yang jernih dan melihat dari dekat wajah tampan yang dingin itu.
Bibirnya yang berwarna merah terbuka.
"Kok malah diem sih?"
"Hah?"
"Harusnya, kamu angkat aku ke atas tempat tidur."
"Kamu menyuruhku?"
"Siapa lagi. Nggak ada orang di sini kecuali kamu 'kan?" Sama hantu yang ada di pojokan sana, dia menambahkan dalam hati. "Perawat tadi sudah pergi."
Wajah Lucas menjadi gelap.
Berdiri di pintu masuk ruangan, setiap inci tubuh Hara menegang menyaksikan adegan di dalam.
Dari tempatnya berdiri, yang bisa dia lihat hanyalah seorang gadis dengan rambut sebahu dan tuan mudanya saling berpelukan dan bertatapan.
Diam-diam, dia mengecek persediaan antiseptik di dalam tas nya.
Tissue, spray, alkohol. Semua lengkap.
Di belakangnya, Zalorra menggigit bibirnya, menunggu dengan tidak sabar Jenny dilempar ke lantai oleh Lucas.
Melihat tidak ada gerakan, Jenny merajut alisnya, "Sayang, ayo dong. Kakiku sakit nih."
Lucas mengerutkan kening lagi. Dia melihat ke bawah dan melihat sedikit kerapuhan di antara mata gadis itu.
Kemudian ke wajahnya yang bersih. Dari tubuhnya muncul aroma seperti bayi. Lalu, tekstur rambut yang menempel di tangannya juga halus dan tidak berminyak.
Benar, setidaknya, berbaring lama di rumah sakit dia tetap menjaga kebersihannya, juga tanpa make up wajahnya lumayan menyenangkan mata.
Lucas melengkungkan punggungnya, meletakan satu tangan di punggung dan tangan lainnya di belakang lutut Jenny dan mengangkatnya seolah dia hanya seekor kucing kecil.
Bang!