Rianti pergi melewati Sava begitu saja. Melihat tetangga yang bergerombol di samping mobil Sava, Rianti bertanya pada mereka. "Bibi, kalian tau di mana Ayahku? Apa dia selalu mabuk lagi?" tanya Rianti beruntun.
"Rianti? Ke mana saja kau semingu ini? Datang malah bawa laki-laki kaya," sinis salah satu dari mereka.
"Bibi, Aku tanya di mana Ayahku. Apa dia hidup dengan baik?" tanya Rianti tanpa menghiraukan ejekan mereka.
"Kau ini gimana, sih! Ayahmu hilang tidak tau!" seru tetangga lagi.
Deg!
Pikiran Rianti semuanya menjadi negatif.
"Iya, Ayahmu tidak ada kabar! Dia tidak pernah pulang sepertimu!" seru mereka lagi.
Membuat jantung Rianti berdegup kencang. "Tidak pernah pulang?" ulang Rianti bertanya.
Mereka mengangguk. Rianti semakin tersentak. Ayahnya benar-benar menghilang. Dia diam sampai seruan warga tidak didengarkan. Hingga Sava menghampirinya.
"Hei, siapa kau? Kenapa datang dengan Rianti? Kenapa wajahmu pucat? Tapi kau sangat tampan," tanya salah satu dari mereka beruntun.
"Aku, suaminya!" ujar Sava tanpa ragu. Rianti menoleh ke Sava dan tetangga itu saling bisik.
Sava terbatuk membuat Rianti teralihkan. Dia ingin membawa Sava ke mobil, tetapi Sava tidak mau. "Aku nggak apa-apa!" ujar Sava.
Rianti tidak tahu harus apa sekarang. Dia ingin mencari Ayahnya, tetapi tidak bisa meninggalkan Sava. "Sava, aku mau cari Ayah. Kamu diam di mobil aja!" pinta Rianti dan menarik Sava ke mobil. Sava menarik tangannya lagi. "Rianti, aku ikut!" pinta Sava.
"Apa? Nggak usah!" tolak Rianti. Dia masuk lagi ke dalam rumah, mencari sesuatu yang mungkin menjadi petunjuk. Tida tahu jika Sava mengikutinya dari belakang. Rianti menuju kamarnya. Banyaknya debu membuat Rianti sedikit batuk. Semua barangnya masih sama saat terakhir dia di rumah. Rianti menggeledah semuanya. Lalu beralih ke kamar Ayahnya. Membuka lemari dan pakaiannya masih ada. Rianti berpikir kalau Ayahnya pergi tanpa pulang setelah mengatarnya ke rumah Sava.
'Nggak mungkin Ayah di culik. Siapa yang mau nyulik Ayah?' pikir Rianti.
Rianti menggentikan aksinya saat mendengar Sava batuk sangat keras. Rianti langsung menoleh, Sava ada di belakangnya.
Rianti segera memegangi Sava saat akan jatuh. "Sava!" pekik Rianti.
"Uhukk-uhukk! Rianti, aku ... Uhukk!" Sava ingin bicara sambil batuk.
Rianti menggeleng. "Jangan ngomong dulu! Aku, 'kan menyuruhmu tunggu di mobil. Kenapa ikut ke sini?" omel Rianti khawatir.
Sava terus batuk sambil menutup mulutnya. Tiba-tiba keluar darah membuat Rianti kaget. "Batuk darah?" lirih Rianti.
Tangan Sava bergetar karena melihat darahnya sendiri. Dia menatap Rianti. "Aku, mungkin terlalu banyak menghirup debu," lirih Sava.
Rianti menggeleng lagi. "Ayo, kita pulang! Kamu harus diobati!" ujar Rianti. Memapah Sava sampai ke mobil dan pulang dengan cepat.
Sampai di rumah, Rianti memanggil Paman Rey untuk mendatangkan dokter. Tetapi Sava mencegah. Dia bilang, dengan meminum obat pasti batuknya reda. Selalu seperti itu saat Sava batuk keluar darah. Rianti masih memaksa Paman Rey untuk memanggil dokter, tetapi Sava sudah terlanjur menelan obatnya. Perlahan batuk Sava reda.
'Bodoh banget, sih, aku! Harusnya nggak usah pulang, langsung ke rumah sakit!' batin Rianti.
Rianti membantu Sava bersandar kepala ranjang. Membersihkan sisa darahnya dan membawa air untuk minum. Setelah itu Rianti duduk diam melihat Sava yang sangat pucat. Keringat muncul di sekitar wajah Sava dan Rianti mengusapnya. Rianti mengecek suhu Sava yang tidak panas juga tidak dingin.
Paman Rey berbicara. "Rianti, aku Permisi dulu!" pamit Paman Rey.
Rianti menoleh." Paman, aku ingin tanya sesuatu!" ujar Rianti. Paman Rey tidak jadi pergi. "Sejak kapan Sava mulai batuk berdarah?" tanya Rianti.
"Sejak ... Maaf, aku lupa." jawab Paman Rey sambil menunduk.
Rianti menghela napas. "Yasudah, Paman. Aku hanya ingin tau saja," ucap Rianti tersenyum. Paman Rey pamit pergi lagi.
Melihat Sava yang menutup mata meskipun tidak tidur, Rianti memegang tangannya. Sava masih tidak mau membuka mata. Rianti mengelus pelan punggung tangan Sava. "Istirahat saja. Aku di sini," kata Rianti.
Sava menarik tangannya, membuat Rianti sedikit tersentak. "Aku nggak apa-apa. Kamu cari aja Ayahmu, kalau ketemu beritahu aku. Aku juga ingin bertemu dengannya, uhukk-uhukk!" ujar Sava lalu dia terbatuk. Rianti langsung memberinya air. Sava membuka matanya dan meminum air itu. Dia menatap Rianti lekat. 'Wajahmu sangat gelisah, Rianti, tapi aku nggak bisa berbuat apapun. Aku emang payah!' batin Sava.
"Aku cari Ayah nanti aja. Tidurlah, Sava! Aku juga ingin tidur." ucap Rianti lemas dan berbaring di samping Sava. Rianti menarik tangan Sava dan dia lihat dengan teliti. "Melihatmu batuk darah, aku sangat khawatir. Kamu harus sembuh, teman." kata Rianti sedih.
Bahkan dia ingin menangis. Masih tersenyum saat Sava menatapnya. 'Aku sedih karena dua hal. Karenamu dan Ayah. Ya Tuhan, aku harus apa sekarang?' Rianti bertanya dalam hati.
Sava tersenyum dan mengangguk. Dia berbaring dan mulai tidur. Rianti masih memegang tangan Sava, Rianti berani mencium punggung tangan Sava. Kedua kalinya mereka tidur bersama. Namun, Rianti juga tidak bisa tidur.
'Teka-tekinya belum terjawab, Rianti. Jangan tidur!' batin Rianti.
Rianti bangun dan menyelimuti Sava. Menatap lekat wajah suaminya dengan pilu. "Sudah cukup aku diam selama seminggu. Sekarang saatnya beraksi. Aku nggak akan tanya apapun dan nggak akan melibatkanmu, Sava. Biarkan aku yang mengatasinya!" tekad Rianti.
Rianti keluar dari kamar Sava. Malam sudah tidak ada orang, membuat Rianti bergerak bebas. Sunyi dan gelap tidak membuat Rianti takut. Bayangan Ayahnya semakin menguatkan Rianti, mencari kejelasannya.
"Dia pikir aku bodoh? Ini pasti ada yang mendalangi! Nggak mungkin kalau Ayah sama orang tua Sava nggak ada kabar. Siapapun yang menjebakku di sini, kau salah menilaiku!" seru Rianti sambil menuju perpustakaan.
Ekspresinya serius mencari sebuah buku rahasia. Rianti tidak bisa menggapai bukunya karena sangat tinggi. Dia mengambil meja dan kursi lau menumpuknya dan berhasil mengambil buku itu. Rianti berkerut dahi memandang buku itu.
"Benar-benar di gembok," gumam Rianti.
Rianti mencoba menarik paksa gembok itu, tidak bisa terlepas. Rianti ingin merusaknya, dia penasaran dengan isinya. 'Kalau aku rusak, Sava pasti sedih. Nggak jadi, deh!' pikir Rianti.
"Huft. Oke, aku mulai dari ini. Buku ini harus terbuka dulu. Baru aku cari tau keberadaan Ayah dan mertua. Mungkin jawaban dan kebenaran Sava sakit akan terungkap dengan sendirinya." gumam Rianti.
Rencananya sudah di susun, Rianti sibuk membuka buku tanpa kunci. Sampai dia kesal sendiri. Lalu menemukan cara. "Oh, ya! Pakai gunting besi, tapi emang Sava punya?" Rianti bingung.
Rianti memilih kembali ke kamarnya membawa buku itu. Masih melihat buku serius. Tiba-tiba dia tersenyum mendapatkan ide. "Iya, aku harus ke sana besok!" tekad Rianti.
Dia tidur sambil memeluk buku. Sekarang Rianti penuh dengan percaya diri. Tidak terus berpikir seperti hari kemaren.
~~~
Siang panas Rianti berlari dari rumah menuju jalan raya. Tidak meminta Paman satpam lagi untuk mengantar. Rianti memilih pergi sendiri, tanpa sepengetahuan Sava. Rianti mendapatkan uang dari menjual sedikit perhiasan di kamarnya. Rianti pikir itu pemberian Sava juga, jadi dia menjualnya. Setidaknya Rianti punya uang untuk naik kendaraan.
Sampai di halte. Rianti naik bus dan turun di halte dekat gang rumahnya. Rianti berlari masuk gang dan menuju toko bangunan. Membuat seseorang di sana terkejut.
"Rianti? Kamu Rianti, 'kan?" tanya orang itu.
Rianti berdecak. "Iya, ini aku, kak. Kakak, bisa tolong bukakan buku ini?" tanya Rianti langsung menyodorkan buku itu. Bukannya menjawab, orang itu kembali bertanya. "Kamu ke mana saja? Aku mencarimu dan Ayahmu. Aku pikir kalian pindah rumah!" kata orang itu.
Rianti tersenyum. "Kak, nanti aku jelaskan. Sekarang bantu aku buka buku ini, ya!" Rianti menyerahkan buku itu.
Orang itu melihat bukunya. "Di buka pake kunci, 'kan bisa," katanya.
"Kuncinya hilang, kak. Buka pakai gunting besi aja!" pinta Rianti.
Orang itu mendelik. "Sembarangan! Gunting itu buat besi bukan buat gembok buku sekecil ini! Ada-ada saja. Mendingan kamu duduk dulu, jangan terburu-buru begitu!" kata orang itu.
Rianti mengambil kursi plastik dan duduk. "Terus, di buka pakai apa, dong?" tanya Rianti.
Orang itu tampak berpikir. "Hmm, ah, aku tau. Kamu tunggu sini, aku akan kembali sebentar lagi." pinta orang itu dan masuk ke dalam tokonya yang tembus sampai rumah.
"Cepat, ya, kak!" seru Rianti menatap orang itu pergi.
Dia menghela napas capek. Melihat sekitar yang masih sama. Membuat Rianti tersenyum. Menunggu sampai orang yang dia panggil kakak itu kembali. "Semoga Sava nggak nyari aku! Aku harus jawab apa ntar?" gumam Rianti.
"Sava? Siapa Sava?" tanya orang itu di belakang Rianti.
Rianti kaget dan langsung menoleh. "Eh, kakak. Gimana udah kebuka?" tanya Rianti sambil berdiri.
"Nih, tanpa rusak dan nggak pakai gunting besi tentunya!" ucap orang itu sambil menyerahkan bukunya.
Rianti menerimanya senang. "Wah, hebat! Dibuka pakai apa?" tanya Rianti sambil membolak-balikkan buku itu.
"Pakai cemiti kakak iparmu, hehe" ucap orang itu meringis.
Rianti ikut terkikik dan ingin membuka buku itu. Tetapi, orang itu menahan. "Tunggu dulu! Apa pentingnya buku itu? Buka nanti saja! Sekarang cerita kenapa kamu menghilang?" tanya orang itu sambil duduk. Rianti terpaksa menundanya dan ikut duduk.
"Ceritanya panjang, kak. Bahkan, aku juga mencari Ayah sekarang!" kata Rianti.
Dia mulai menjelaskan semuanya. Bahkan soal penyakit yang diderita Sava. Membuat orang itu terkejut saat Rianti bilang Sava di vonis mati dalam waktu dekat. Ikut heran juga dengan cerita Rianti. Tidak ada yang Rianti sembunyikan dari orang itu. Tetangga yang selalu punya perhatian dengannya. Menolongnya bahkan urusan sekolahnya sebagian diurus dengan orang itu.
Rianti memanggilnya kakak Syam. Alasan tidak punya anak dengan istrinya. Dia menganggap Rianti sebagai anaknya. Namun, Rianti menolak, dia terus berusaha sendiri sejak Ibunya tiada. Bahkan saat Ayahnya menyiksa, orang ini yang menolong Rianti. Tetapi Rianti masih tida mau di anggap anak. Dia berusaha sendiri dan bekerja sendiri. Meskipun begitu, hubungan Rianti dengan orang itu sangat dekat seperti keluarga.
Kakaknya termenung seakan berpikir. "Rianti, aku nggak tau kamu mengalami hal sepert ini. Di seret dan menikah tepat di hari kelulusanmu. Belum lagi, orang yang kamu nikahi di vonis mati. Astagfirullah!" kakaknya mengeluh.
Rianti tersenyum. "Yah, seperti itulah, haha. Ini mengganjal, kak. Aku nggak yakin Sava sakit jantung!" kata Rianti. Kemudian Rianti mengalihkan pembicaraan. "Oh, ya. Kakak ipar mana?" tanya Rianti.
"Dia tidur. Biarkan saja! Rianti, kalau kamu butuh bantuan, datanglah kemari! Aku akan tetap berusaha mencari Ayahmu!" tekad Kak Syam.
Rianti jadi terharu. "Kak Syam, baik banget, sih! Hehe," cengir Rianti.
Seketika Rianti ingat kalau dia pergi. "Kakak, gawat! Aku harus pulang! Sava pasti nyari, nih!" Rianti panik.
"Eh, eh, nggak usah panik! Aku antar, ya!" tawar Kak Syam.
"Nggak usah, kak! Aku naik bus saja! Kapan-kapan aku ke sini lagi! Terima kasih buat bukunya, aku pergi dulu!" teriak Rianti sambil berlari. Membuat Kakak Syam geleng kepala. Meskipun lega sudah melihat Rianti kembali.
Rianti menunggu sangat lama di halte. Bus belum juga datang sampai sore Rianti baru tiba di rumah. Langsung naik ke kamarnya dan menyembunyikan buku itu di lemari. Rianti belum membukanya, dia mencari Sava. Membuka kamar Sava tapi tidak ada. Rianti bertanya pada pembantu, dia bilang Sava pergi ke taman bersama Paman Rey. Seketika Rianti melotot, pikirannya negatif soal Paman Rey.
Berlari lagi menuju taman. Sampai di sana banyak orang membuatnya susah menemukan Sava. Rianti menyusuri tiap jalan taman. Seperti orang kebingungan dan terburu-buru, semua orang menatapnya aneh. Rianti tidak peduli, entah kenapa hatinya menyuruh ke danau. Rianti menuju danau itu. Berbeda dengan waktu itu, danau ini sangat ramai orang.
Sepert dugaannya, Sava ada di sana bersama Paman Rey. Duduk berdampingan membuat Rianti menghela napas lega. "Huft, otakku terlalu curiga. Mana mungkin Paman Rey mencelakai sava. Bukannya selama ini dia yang mengurus Sava!" gumam Rianti.
Bibirnya bicara seperti itu, tetapi hati dan otaknya masih mencurigai Paman Rey. Rianti tidak bermaksud menghampiri. Dia melihat dari kejauhan. Duduk di tanah penuh rerumputan. Hari sudah hampir malam bahkan lampu taman sudah menyala. Rianti masih duduk, pandangannya mulai memudar. Dia kelelahan seharian berlari.
Sesekali kepalanya terantuk-antuk ingin tidur. Sampai Sava dan Paman Rey tiba-tiba ada di hadapannya. Membuat Rianti terperangah. "Eh, Sava? Paman Rey?" tanya Rianti menyapa.
"Kamu kenapa di sini? Sejak kapan?" tanya Sava.
Rianti menatap Sava curiga. Dia menunjuk wajah Sava. "Kamu habis nangis, ya?" tebak Rianti.
Sava terkejut dan Paman Rey menatap Sava tersenyum. "Tuan, kau ketahuan!" ejek Paman Rey.
"Diam, Rey! Menangis itu tidak keren!" desis Sava kepada Paman Rey. Membuat Paman Rey menahan senyum.
"Apa? Siapa yang nangis? Enggak, kok!" jawab Sava cuek.
Rianti memicing sambil enunjuk kedua mata Sava bergantian. "Matamu itu bengkak! Kalau nggak habis nangis, terus apa? Disengat lebah?" tanya Rianti.
Sava mendelik. "Aku nangis? Mustahil!" elak Sava.
Rianti langsung tertawa. Membuat Sava semakin mendelik. "Hahaha, mustahil? Eh, emangnya kamu robot nggak bisa nangis? Habis nangis aja nggak ngaku!" ejek Rianti.
Membuat Sava kesal. Ingin membalas Rianti tetapi dia ingat Paman Rey. "Rey, pergilah! Aku akan pulang nanti!" suruh Sava.
"Tapi, Tuan. Sekarang sudah malam. Angin dingin tidak baik untuk kesehatan, Tuan, ujar Paman Rey.
Rianti memandang Sava dan Paman Rey dengan mengantuk. Mencoba membuka mata selebar mungkin sampai melotot membuat Sava kaget.
"Kenapa melotot begitu?!" pekik Sava.
"Hehe, kamu takut, ya?" goda Rianti nyengir.
Sava berdecak dan Rianti terkikik.
"Rey, aku bersama Rianti. Kau pulanglah!" pinta Sava lagi.
"Tuan, angin malam sangat dingin. Kau bisa kambuh, nanti!" ujar Paman Rey.
"Aku tidak peduli! Mati sekarang juga nggak masalah!" ujar Sava datar.
Membuat Rianti spontan berdiri. "Ssttt! Ngomong apa, sih? Mati mulu!" kata Rianti. Kakinya sedikit hilang keseimbangan, membuatnya hampir terjatuh. Sava ingin menangkapnya tetapi Rianti sudah seimbang lagi.
"Paman, kau pulang saja. Biar Sava aku yang urus. Tenang saja, dia nggak bakal kedinginan!" kata Rianti tersenyum.
"Baiklah. Aku sarankan jangan terlalu malam." ucap Paman Rey lalu pergi.
Rianti tersenyum sebelum Paman Rey pergi, dan melotot ke Sava. "Hei, kenapa kamu di sini?" selidik Rianti.
"Apa? Harusnya aku yang tanya kamu kemana tadi?" Sava balik bertanya.
Rianti melengos. "Ada, deh. Emangnya aku nggak boleh keluar?" tanya Rianti.
Sava menghela napasnya dan duduk, Rianti ikut duduk.
"Setidaknya beritahu aku. Aku mencarimu!" ujar Sava tanpa menatap Rianti.
Dalam hati Rianti senang, tetapi dia tidak bisa memberitahu Sava.
"Maaf, lain kali aku akan memberitahumu," kata Rianti.
Rianti menoleh dan menarik wajah Sava. "Heh, matamu menangis. Kenapa?" tanya Rianti.
Sava memundurkan wajahnya dan melepaskan tangan Rianti. "Kamu ini! Jangan sentuh wajahku!" seru Sava.
Rianti justru menaruh telunjuknya di dahi Sava. "Aku menyentuhmu! Wekk." ejek Rianti sambil menjulurkan lidahnya.
Sava menganga. "Kamu kenapa, sih?" heran Sava.
"Kamu yang kenapa? Ngaku aja kalau habis nangis! Lagian kita kan teman." kata Rianti menarik kembali telunjuknya dan tersenyum.
Sava jadi tanpa ekspresi. "Menangis hanya membuatku semakin lemah. Itu nggak keren, 'kan?" tanya Sava menatap danau.
Rianti mengerti. Dia mengusap wajahnya mencoba tidak mengantuk. Lalu menatap Sava. "Aku tau, tapi kalau kamu yang nangis tetap keren, kok!" kata Rianti.
Sava menoleh. "Apa?"
Rianti mengangguk cepat. "Iya, soalnya kamu ganteng, hehe. Aku jujur, 'kan?" goda Rianti.
Seketika Sava terkekeh. Rianti menunjuk senyum Sava, "Itu, tuh. Senyummu manis, hehe. Kasihan kalau dibuat nangis." kata Rianti sambil menyenggol lengan Sava.
Sava semakin tertawa. "Kamu menggodaku terus. Biasa menggoda cowok, ya?" tanya Sava.
Rianti menggeleng. "Enggak pernah! Kamu satu-satunya cowok yang dekat denganku." kata Rianti sambil menatap danau.
"Masa', sih?" Sava tidak percaya.
"Iya. Kamu, 'kan suamiku, hehe." Rianti menyenggol lengan Sava lagi.
"Tuh, 'kan. Menggodaku lagi!" seru Sava tersenyum.
Rianti meringis. "Masa' Nggak boleh?" tanya Rianti.
Sava tidak berhenti tersenyum. "Aku nggak bisa ngegoda! Tapi, aku bisa melakukan sesuatu!" kata Sava.
"Hmm? Apa itu?" tanya Rianti.
Bukannya menjawab, Sava justru memajukan wajahnya. Rianti mendelik, dalam hati tahu niat Sava ingin menciumnya. Dia pura-pura menguap. "Hoamm, aku ngantuk banget!" kata Rianti sambil menutup mulutnya.
Sava kembali ke posisi semula. Dia mendengus pelan. "Tidur sini aja!" ujarnya menepuk pundak.
Rianti menatap pundak Sava bingung. "Tidur di pundakmu? Mendingan tidur di lantai, enak. Di pundak mana bisa tidur? Ntar, jatoh!" elak Rianti.
"Coba aja, pasti enak!" ucap Sava menaruh kepala Rianti di pundaknya dengan paksa.
"Eh, eh ...," Rianti mencoba menahan kepalanya, tetapi dia tetap bersandar pundak Sava.
Pipinya menghangat. Merasa aneh dan nyaman bersamaan.
"Enak, 'kan?" tanya Sava pelan.
Rianti tidak menjawab tapi mengangguk. Tidak ada percakapan lagi, hanya napas mereka yang bersahutan, hingga beberapa menit.