31

1970 Kata
31 "Cih! Berapa lama dia akan tumbang!" Aku melihat statistik yang muncul dihadapan ku. Orge utusan ilahi. Monster ini memiliki daya tahan yang lumayan tinggi dan statistik yang entah kenapa melebihi ekspektasi ku. Siapa sangka jika dia yang datang malah memiliki kekuatan yang cukup merepotkan. [Apa yang kamu lakukan? Bukankah kami bilang ini bukan lah apa-apa?] "Jangan meremehkan ku sialan!" Aku mengambil ancang-ancang lalu saat aku akan menyerangnya, Orge dengan empat tangan ini langsung menyerang ke sisi lain. Dimana Osman tengah berusaha untuk melindungi orang-orang di sekitar. "Sialan!" Aku segera membuat pijakan dan segera melesat ke arah Osman. Menggunakan tanganku ku memblokir serangan dari Orge sialan ini. Bughhh! Krassshhh! "Sialan...." Aku mengerang kuat, tapi sesuatu terjadi setelahnya. Luka yang aku dapatkan karena pukulan Orge langsung sembuh secara perlahan. Melihat itu aku tersenyum dan menatap Orge dari celah tanganku. "Kau lihat itu?" Aku tersenyum kecil dengan wajah mengejek. Siapapun di sana, aku berusaha memprovokasi agar dia muncul dari persembunyiannya. [Ap .... Apa yang sebenarnya terjadi.] "Tidak ada...." Aku tersenyum dan perlahan memberikan dorongan pada pedang Orge yang ada di tanganku. "Tuan, kamu tidak apa-apa." Aku tidak menoleh. Tapi menjawab ucapan Osman. "Jangan pedulikan ku paman, aku baik-baik aja." "Kamu yakin?" "Tentu saja." Aku mendorong. Lalu setelah mendapatkan momentum, aku segera menyerangnya menggunakan tangan yang sudah ku lapisi dengan sihir kegelapan. Orang besar bukan lah apa-apa, hanya dengan sekali tebas, sudah membuatnya patah dan terhuyung kebelakang. "Jangan senang dulu sialan!" Aku segera melompat, tubuhnya ybesar membuatku harus berusaha keras agar bisa memberikan serangan yang fatal kepadanya. Hanya saja Orge raksasa dengan empat tangan itu mulai menyerangku dengan tangan lainnya ketika dia berhasil mendapatkan pijakan. Sebisa mungkin aku menghindarinya dengan cara membuat pijakan dengan lingkaran sihir. Satu demi satu aku berusaha menghindarinya dengan tangan kosong. [Jangan senang dulu manusia kecil!] "Kecil?' Aku tersenyum, lalu setelah mendapatkan momentum yang pas aku segera melancarkan serangan dengan cepat. Aku mengincar lehernya. Karena di sanalah titik vital dari seorang monster. Ku pikir kecepatan ku sudah sesuai, bahkan kekuatan sihir di tanganku pun sudah terkumpul. Namun, satu hal yang tak pernah ku duga sebelumnya terjadi. Ketika aku melancarkan serangan. Secara tiba-tiba Orge menepis seranganku dengan mudah. Dia bahkan bisa memblokir seranganku sebelum aku mengenai lehernya. Tidak hanya sampai di sana, gerakan yang awalnya lambat. Kini mulai meningkat dan pesat. Dan tak bisa kuduga sebelumnya, dia tiba-tiba saja sudah berada di belakang tubuhku dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebelum akhirnya melancarkan serangannya. Aku yang tidak siap tentu saja dirugikan oleh kondisi ini. Hingga pukulan itu berhasil mengenai tubuhku hingga membuatku terpelanting cukup kuat. BRAKKK!!! "Ugh!" "Tuan!" Samar aku mendengar teriakan Osman, tapi aku hanya tersenyum kecil hingga tubuhku menghantam dinding hingga hancur. Darah keluar dari mulutku, tapi rasa sakit ini mengingatkan ku akan satu hal. Ini adalah momen yang sangat jarang ku dapatkan di masa lalu, jadi, apakah ini akan menjadi sesuatu yang akan aku kenang di kemudian hari? Huft. Baiklah, sepertinya sudah cukup waktu bermain-mainnya. Aku mengangkat tubuhku lalu setelahnya aku jatuh ke atas lantai dengan posisi membungkuk. "Hahahaha!" "Tuan!" Osman datang di saat aku masih menikmati sensasi ini. "Apa kamu baik-baik saja?" Perlahan aku mengangkat tubuhku dan mendongak dengan senyum merekah, mataku menatap langit-langit bebatuan dengan mata yang samar-samar. Rasa sakit ini.... Kini aku bisa merasakan sakit untuk pertama kalinya, yah ... Inilah sensasi yang aku rindukan sejak dulu. Aku.... "Aku baik-baik saja, paman!" Tangan yang tergantung di udara segera bereaksi, sihir gelap langsung menyelimuti setiap sendi dan rasa sakit yang aku rasakan perlahan mulai menghilang. "Beri aku lagi! Beri aku lagi!" Aku segera melesat dengan kecepatan ku. Menggunakan kedua tangan yang sudah ku jadikan sebagai pedang. Aku segera melesat ke arah Orge empat tangan Dia berusaha menyerangku seperti nyamuk, tapi sayang. Pergerakannya sangatlah lambat. Jadi aku bisa menghentikan setiap serangannya dengan sangat mudah. "Lagi! Lagi! Beri aku lagi!" Aku berteriak seperti orang gila! Menyerang dengan membabi-buta, bahkan luka yang aku dapatkan sebelumnya sudah tak terasa lagi. Aku pikir lukaku sudah sembuh sepenuhnya. Ini sangat mudah bahkan aku tidak perlu lagi memperdulikan tubuh ku, asal jantungku tetap utuh aku akan bisa menyembuhkan luka separah apapun dalam waktu singkat. "Yah, tunjukkan semua kemampuan mu!" Aku melompat dengan pijakan uang kuat. Lalu melesat ke arah Orge dengan kecepatan tinggi. Tapi pergerakan seolah terbaca dan dia berusaha memblokir seranganku menggunakan tangannya. Melihat itu aku tersenyum kecil. "Sayangnya aku sudah tidak memiliki minat untuk bermain-main!" Lalu dengan kedua tangan ku aku menebas lengan itu, menyayatnya dengan pola yang sesuai, terus dan terus hingga setiap urat dan pembuluh darah robek, lalu setelahnya aku mengambil posisi untuk menebas pergerakan itu. Kraashh! "Goarrrrhgh!" "Apa itu sakit?" Aku bertanya sembari tersenyum, lengan yang ku tebas putus dan terjatuh, lalu kesempatan itu ku ambil dengan sempurna, aku mengangkat kedua tanganku, menyatukannya dan membuat sebuah gerakan bagai gergaji, lalu mengincar jantung Orge saat dia mulai goyah. Krashhh!!! Aku berhasil menembus jantungnya dengan mudah. Lalu ketika d**a Orge itu bolong dia mulai limbung dan jatuh ke atas tanah. Aku segera berdiri dan menyangka jantung di tangan dan setelahnya aku menghancurkannya dengan sangat mudah. Krasss!!! [Anda berhasil mengalahkan Orge utusan ilahi. Hadiah di dapatkan, anda naik level.] Pemberitahuan itu datang lagi dan aku mulai terbiasa dengannya. Sejenak aku terdiam lalu mengangkat kepalaku ke atas. "Apa ini sudah selesai?" Tidak ada jawaban yang datang, sepertinya dia si tikus kotor yang bersembunyi di dalam kegelapan ketakutan dengan apa yang baru saja aku lakukan. "Ck! Kupikir ini akan panjang!" Aku mengibaskan tanganku lalu berbalik dan melihat Osman yang terdiam dengan tatapan aneh di sana. Bukan hanya Osman. Tapi orang-orang yang ada di sana pun melakukan hal yang sama. Mungkin ini adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi, seorang anak kecil berhasil mengalahkan Orge seorang diri. Yah, biarkan mereka berasumsi sendiri-sendiri aku tidak terlalu peduli dengan itu. "Apakah semua baik-baik saja?" Aku berjalan menghampirinya dan Osman. "Sepertinya begitu tuan." "Syukurlah, aku tidak ingin terlalu banyak korban yang jatuh, jadi usahakan paman bisa melindungi mereka, oke." "Itu ... Aku akan berusaha sebaik mungkin tuan!" "Aku mengangguk lalu membersihkan bercak darah di tangan dan wajahku menggunakan sapu tangan yang ku bawa sebelumnya. "Baiklah, sekarang apa yang akan aku lakukan!" Aku berdiri dan menghela napas panjang sebelum mengedarkan pandangan untuk melihat orang-orang yang selamat di tempat ini. Tapi Sayangnya, tidak semudah itu untuk lolos dari tempat ini. Karena ini hanya permulaan, akan ada banyak monster yang berdatangan setelah ini. "Ah, paman.... Tolong urus item drop untukku!" "Baik, tuan!" Aku hampir melupakannya, item drop sangat penting untukku, jadi aku tidak akan melewatkannya. === "Apa kau melihatnya?" Ferdinand menatap dengan tak percaya, seorang anak kecil mampu mengalahkan Orge empat tangan, yang sudah jelas jika Orge itu berada di level yang sangat berbeda dengan mereka, tapi anak kecil itu bisa mengalahkannya hanya seorang diri. "Monster...." Balas Jony dengan tatapan ketakutan dan tak percaya jika hal itu benar-benar terjadi. "Kau benar-benar, siapapun dia dan apapun yang terjadi, jangan sekalipun kita berurusan dengannya." Ucapan Ferdinand tentu di setujui oleh Jony dan orang-orang yang ada di sana. Mereka baru sadar jika nyatanya ada anak kecil yang ikut dalam pemburuan ini dan malah menyematkan mereka. "Paman, apa paman membawa makanan? Aku lapar." Suara itu terdengar jelas seperti anak-anak, tapi kekuatan yang ada di dalamnya tentu saja berbeda, mungkin jika mer ke tidak melihat secara langsung pertarungan ini. Bisa saja mereka meremehkan anak itu saat bertemu. "Beruntung kita melihat dengan mata kepala kita. Jika tidak. Aku yakin akan malah berurusan dengannya." "Benar, Dewi memberkati kita." Jony mengangguk pelan. Lalu setelahnya Jony memerintahkan salah satu bawahannya untuk memberikan sebagian bekal makanan mereka untuk anak. "Abigail.... Aku akan mengingat baik-baik nama itu." Nama yang tidak boleh mereka lupakan, apapun yang terjadi. === Grimu Aku kehabisan napas, bahkan saat ini aku terengah dan berusaha untuk menyerap oksigen sebanyak yang ku bisa. "Sial! Tidak ada habisnya!" Aku melompat mundur. Energi sihir ku sudah berkurang secara drastis, bahkan ramuan pemulihan hanya tinggal beberapa saja. Sial ini benar-benar tidak baik untukku. "Kuuuu?" "Kei…" Para goblin mendekat seolah-olah dirasuki sesuatu. Mereka muka berkumpul di satu tempat dan melakukan gerakan yang aneh. Aku bersiap dengan sihir api. Jika mereka bergerak sedikit saja maka aku akan membakar mereka tanpa tersisa. Aku memperhatikan mereka dengan seksama. Sesuatu jelas terjadi di sana, dan itu sangat aneh Mata setengah terbuka dan hidung berkerut. Lalu air liur yang menetes dari mulutnya sepertinya diracuni dengan cara tertentu. brengsek! Apakah mereka ingin menghabisi diri mereka sendiri dengan cara seperti itu? Aku tak memiliki banyak waktu dan membiarkan mereka berbuat sesuatu yang tidak masuk akal Jalanku semakin terhuyung-huyung, stamina ku masih belum pulih. Kuuuu!!! tepat pada saat itu. Sekumpulan goblin datang dan menyerang ku secara bersamaan. Aku yang tidak siap tidak bisa berbuat apa-apa, ini adalah akhir, akhir di mana aku akan mati. Tapi sebelum aku menyerah, aku akan memberikan perlawanan sebisaku. Aku mengambil langkah. Kedua kaki yang bergetar aku paksakan untuk berdiri. Ini tidak akan mudah. Aku tahu itu, tapi mari beri penghargaan untuk diri sendiri yang sudah berjuang sejauh ini. Aku tertawa pelan. Lalu merentangkan kedua tangan ku untuk menyambut mereka. "Datang lah!" Pupupuck! Braakkk! Bruggg! Gbuhhh! Mereka menerjang secara bersama, membuat tubuhku terhuyung dan jatuh ke atas tanah dengan para goblin yang ada di atas tubuhku. "Sial ini sangat menyakitkan!" Aku menggenggam tanganku, berusaha untuk mengeluarkan sihir api agar aku bisa meledakkan mereka dan membuatnya terpental dari tubuhku. "Jangan meremehkan ku sialan!" Aku meledakkan sihir api yang cukup kuat dan membuat sebagian dari goblin terpental. Namun itu tidak menghentikan mereka, sayangnya apa yang ku lakukan malah menguras energi sihir ku, tapi tidak membuat pada goblin mati. Sialan! Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, para goblin mulai merayap lagi, berkumpul dan berusaha menggigit bagian tubuhku. Hahaha! Apakah aku akan mati sebagai makanan para goblin? Sialan! Ini benar-benar tidak lucu! Krassshhh!!! Bruggghhhh!!! Braakkk!!! Samar aku mendengar suara bantingan dan juga lemparan para goblin. Lalu samar aku merasa ada cairan yang menyentuh mulut ku. Ini ... Darah.... Apa yang sebenarnya terjadi? Aku terdiam lalu setelah beberapa lama menunggu dengan penasaran, tumpukan goblin mulai berkurang dan aku bisa melihat cahaya yang menyusup masuk. Samar aku melihat pria berjubah hitam segera menyingkirkan para goblin dari atas tubuhku. Para goblin jatuh di tempat seperti boneka dengan benang putus karena dia terus memukul bagian lembut leher mereka dengan pisau tangan dari belakang. "Apa kau baik-baik saja?" Suara datar itu, aku bisa mendengarnya, aku bisa merasakannya. "Akh...." "Tak usah memaksakan diri, aku tahu kau akan mati, jadi diamlah biar aku selesaikan ini." Aku yang tak bisa bergerak hanya diam dan melihat semuanya secara seksama. Yah, dia ... Dia adalah orang yang aku temui pertama kali saat aku ditangkap oleh tuan kamu. Frey. Apakah itu benar-benar dia? Sungguh lucu jika itu memang dia. Apakah dia repot-repot datang untuk menyelamatkan ku yang bahkan sudah pergi selama ini untuk menjauhi mereka? Aku terkekeh pelan, lalu menutup mataku dengan lengan kanan ku. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi ketika aku merasa udara dingin. Aku yakin jika itu adalah dia. Yah, siapa lagi orang yang memiliki kemampuan es seperti dia. Dan aku yakin. Jika saat ini sekumpulan goblin itu pasti sudah menjadi tumpukan es yang tidak berguna. "Sialan!" "Ada masalah?" Aku menggeser sedikit lenganku untuk mengintipnya, lalu setelahnya aku terkekeh pelan. "Tidak...." "Bagus, jadi bangunlah!" Aku melihat ukuran tangan darinya, tidak ku sangka jika aku akan di bantu oleh orang yang seharunya tidak peduli dengan ku. Aku menerima uluran tangan itu lalu bangun setelahnya. "Kenapa...." Dia mengerutkan kening saat berusaha memapah ku. "Kenapa kau menolongku?" "Tidak...." Balasnya datar. "Jangan terlalu percaya diri, aku tidak menolongku, kebetulan aku lewat dan melihatmu hampir mati. Jadi aku membantumu, dan ini tidak gratis!" Hah, jadi seperti inilah sikapnya selama ini. Pantas dia menjadi anak yang dingin. Ucapannya saja tidak bisa di jaga. Tapi tidak apalah. Bukankah kelompok kecil ini memang memiliki keunikannya sendiri? Dari setiap orang tentu memiliki sifat dan tingkah laku yang sangat berbeda. Jadi aku tidak heran dengan masalah sekecil ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN